Rabu, 22 Desember 2010

Desain Komunikasi Visual

Salah satu mata kuliah favorit gw semester ini adalah Desain Komunikasi Visual. Sebuah mata kuliah yang mengajari mahasiswa bagaimana mengirimkan pesan lewat media visual, atau bahasa awanya: nge-desain. Alasan gw suka mata kuliah ini sederhana, pertama karena mata kuliah ini membangkitkan kembali minat gw terhadap photoshop dan coreldraw yang udah terpendam selama bertahun-tahun, dan karena mata kuliah ini -seperti mata kuliah berbasis seni lainnya- memberikan ruang yang luas untuk mengekspresikan diri. Mengekspresikan diri adalah bisnis yang menyenangkan ketika dirimu keren, bukan? ~_~

Jadi, tugas minggu ini adalah memvisualisasikan puisi. Atau bahasa awamnya, ngasih hiasan ke puisi (credit: Wahyu Restriarini). Dan meskipun sebenernya gw bukan orang yang suka pamer, tapi entah kenapa gw ngebet banget masang hasil gw di blog ini. Ini dia:


Puisi yang gw pake adalah puisi klasik dari Indonesia: Cintaku Jauh di Pulau karya Chairil Anwar. Alasan gw milih puisi ini sederhana, karena puisi ini merepresentasikan derita terdalam yang dapat di alami oleh manusia: Harapan yang terkoyak. Penantian yang sia-sia. Usaha yang kandas oleh takdir yang kejam. Dan seterusnya, dan seterusnya. Oke, jujur, sebenernya gw bukan penikmat puisi kawakan, gw lebih suka sastra yang tinggal dilahap daripada sastra yang indah, tapi puisi ini bener-bener bikin 'jiwa gw bergetar'. Well, it's plainfully (plainfully itu ada di kamus gak sih?) cool. Kata-kata yang menurut gw kekuatannya kerasa banget adalah dua kalimat terakhir dalam bait kedua, ketiga, dan keempat, yakni:

angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya

Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Kerasa banget kan kekuatannya? Atau mungkin gw yang lebai kali ya... #abaikan

Nah, sekarang mari kita omongin desainnya. Tadinya gw pengen bikin background yang suram super dengan cara mengeset background ungu - foreground hitam -> cloud -> wind (stagger) -> watercolor yang akan menghasilkan background suram abstrak ala Van Gogh. Terus gw bakal bikin nisan super gede dan super reyot, dan instead of bertuliskan nama-tanggal lahir-tanggal wafat, nisan tersebut akan bertuliskan puisi ini. Lumayan keren kan konsepnya? Tapi setelah dipikir-pikir, kesuraman total seperti yang ditawarkan konsep tersebut engga begitu sesuai sama puisi ini. Puisi ini memang menggambarkan derita terdalam manusia, tapi Chairil Anwar engga menuliskan derita tersebut dengan gaya orang yang menderita... I mean, dia ga bilang "WOH GW MENDERITA. AH. TIDAK. AAAAHHH", dia bilang dengan santai
Mengapa Ajal memanggil dulu sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! Jadi akan sedikit mengkhianati konsep kalau puisi ini gw visualisasikan dengan kesuraman total.

Jadi konsep awal tadi gw buang dan gw kembali ke konsep awal puisi ini, yakni 'plainfully cool'. Gw bakal menggambarkan penderitaan yang direpresentasikan puisi ini dengan sesuatu yang sederhana tapi dalem. Hasilnya seperti gambar diatas, tanah dan langit yang cerah. Sebuah salib. Dan seorang wanita yang sedang duduk disebelahnya. Diperhalus dengan efek smudge supaya kesan sedihnya gak ilang (mungkin efek smudge-nya gak keliatan disini). Simpel dan menyakitkan, bukan? Font puisinya juga sengaja gw pake Adobe Hebrew, buat nambah kesan sederhana, gak lebai, tapi masih memberikan kesan pedih... Duh, bahasa gw.

So, whaddaya think, guys? =D

Jumat, 17 Desember 2010

Episode Minggu Lalu

INSTRUCTION: Baca pake nada narator pembuka glee. Karakter yang disebut dalam post ini merupakan karakter asli dengan sedikit penggantian penyebutan.*

So here’s what you miss on Me,

The Main Character found out that Jessie’s Girl is slipping away from him, and he is half convinced that it got something to do with his vehicle-less situation...

...this turned him to a really terrible mood for a couple of week.

Almost driven nuts, The Main Character found out that his regular badminton exercise is the best way to release his stress. But someone named Sidekick joined the game and beat the heck out of him...

...unexpectedly, taking a beating from someone is a really good stress-releasing therapy for The Main Character. Quite weird, eh?

A final task project for Kampanye Sosial is started, and bad luck places The Main Character’s group turns for presentation at first turn in the busiest week of the month. And that’s not all, Dosen of Kampanye Sosial arranging two group presentation for every week and create a highly competitive atmosphere to add more pressure for everyone...

...and worse luck places a strong group as The Main Character’s opponent, a group lead by Kaskusian Administrator and backed up by two Deadline-ers and Three Seniors. Boomer!

Actually, The Main Character’s group contain varies of people with varies of ability which theoretically will give them an advantage. But when they started to work, they found that the group also having varies of issues. One of the group member got her menstruation period delayed and suffer what seems like an endless Pre-Menstruation Syndrome...

...another member broke up with his girlfriend, ending a three months of sweet and cultured relationship...

...another member did not give any contribution to the group and continually pisses everyone else in the group...

...and everyone else also seems like havin a huge problem on their own! Guess what’s happen when these people gathered out for some brainstorming? It’s not hard to guess, huh?

Lot of fight, lot of debate, lot of idea being murdered violently, also lot of personal emotion come into play and clouding everyone’s objectivity. Luckily, there’s a piano in the group’s headquarter, so The Main Character can channel his frustration to a beautiful music. There’s also a guitar and some rebana, so everyone started to singing together instead of bashing each other’s heads off...

...and after a long hard windy road, the project finally finished. How sweet!

When the D-Day finally arrived, the presentation duel between Kaskusian Administrator’s group against The Main Character’s group is begin. There’s seems like a huge lack of brainstorming in Kaskusian Administrator’s group so they started to backstabbing each others of instead of supporting it and the floor seems doesn’t very impressed by their idea, while The Main Character’s group successfully managed to pull one of the best presentation in the century, win the floor, handle the debate perfectly...

...and ended the day with a big winner grin. Congratulation guys!

Committed to solve his problem with Jessie’s Girl, The Main Character decide to bet it all and make a frontal move. He’s going to Jessie’s Girl’s class which actually is not his class, stop Jessie’s Girl from leaving when the class over, have a little talk and continued it with a frontal online chat afterward...

15 Des 2010

...and figured what’s the whole-slipping-away-thing is really all about.

15 Des 2010

Darn... But The Main Character is taking it cool. You know, it’s not like he doesn’t see that coming...

3 Nov 2010

So much drama!

And that’s what you miss on Me,

Rabu, 01 Desember 2010

Dan in Real Life ~ a Heartbreak Kid ~ what’s next?

Dear reader, singkat saja post-an saya hari ini. Sedang tidak ada kejadian menarik dalam hidup gw yang bisa dipamerin, eh, dishare disini. Well, banyak sih sebenernya... misalnya tadi pagi seorang teman kuliah yang tidak terlalu tampan (sebut saja... ehm... greffy :p) mengkritik kebiasaan gw dan partner kuliah gw (orang yang paling sering sekelompok sama gw kalau ada tugas) yang suka sekelompok sama cewe-cewe-yang-itu-itu-aja setiap ada tugas. Yah, Greffy has a point, harusnya gw lebih sering ganti-ganti kelompok biar gw bisa membaur sama anak-anak kaskusian yang lain. Tapi lucunya, gw tau bahwa motif sebenarnya greffy mengkritik gw adalah karena dia naksir salah satu dari cewe-cewe-yang-itu-itu-aja-yang-gw-sebut-di-atas dan dia sirik sama gw dan partner gw yang sering ngabisin waktu bareng cewe tersebut. Maka dari itu, bukannya meresapi kritikan greffy, gw dan partner gw malah ngabisin setengah jam-an buat ngakak dan nge-tease greffy abis-abisan. Hehehehe.. Selain itu masih banyak lagi kilasan-kilasan menarik lainnya *menarik apanya?(“-_-)* dari hidup gw, tapi seperti kilasan diatas, kebanyakan kilasan ini terlalu singkat dan gak-berpesan-moral-sama-sekali untuk diangkat menjadi sebuah post. Jadi harap maklum bila blog ini tidak diupdate dalam tiga minggu belakangan ini. Lagian kalian juga gak peduli kan? (“-_-)

Sudahlah, mari kita mulai saja post hari ini.

Pernah gak kalian datang ke rental film dalam kondisi kejiwaan yang berbadai dan bergemuruh, tanpa merencanakan film apa yang akan anda pinjam? Yang anda tahu adalah anda sedang berada dalam kondisi galau yang amat sangat sampai-sampai anda akan langsung bunuh diri jika ada orang yang tidak sengaja melantunkan lagu ‘Gloomy Sunday’ didekat anda, dan anda membutuhkan sesuatu yang bisa menyembuhkan kegalauan anda –atau setidaknya mengalihkan pikiran anda dari segala hal yang menciptakan kegalauan tersebut. Lalu anda mulai menelusuri rak koleksi film rental tersebut, melihat sekilas semua kover-kover film yang tersedia di rak tersebut, lalu bergeser menuju rak dengan genre lain ketika tidak ada film dalam rak sebelumnya yang menarik perhatian anda. Begitu seterusnya sampai jari anda berhenti pada sebuah film dengan kover yang beresonansi dengan kondisi jiwa anda. Film yang belum pernah anda dengar sama sekali sebelumnya. Tidak ada jaminan bahwa film tersebut bagus dan layak untuk disewa, tapi sesuatu dalam hati anda memaksa untuk menyewa film tersebut. Lalu anda menyerah pada tuntutan hati anda. Anda pun menyewa film tersebut dan setelah anda menontonnya... Boom!! Memang film itulah yang dibutuhkan oleh hati galau anda.

Pernah mengalami hal tersebut? Gw pernah.

Kasus pertama terjadi pada minggu-minggu pertama setelah gw jatuh cinta (halah.. “-_-) sama seseorang sekitar dua bulan yang lalu. Sebelumnya, terakhir kali gw merasakan cinta dan segala efek samping anehnya adalah sekitar 3 atau empat tahun yang lalu (I do have a girlfriend until a year ago, but in her case, what’s playin is testoteron –not love, if you know what I mean ;-). Maka tak heran jika gw sangat rentan terhadap segala fluktuasi mood yang mungkin (dan memang!) terjadi. Apalagi, ‘seseorang’ tersebut sudah memiliki pacar (haah.. “-_-). Bisa dibayangkan betapa beratnya segala kompleksistas, awkwardness, dan hasrat yang harus ditanggung oleh jiwa rentan gw. It’s almost knocked me down. Really. Untungnya gw dipertemukan dengan film Dan in Real Life. Kover filmnya sangat mencerminkan kegalauan jiwa gw waktu menemukan film ini: Steve Carell yang sedang merebahkan kepalanya di atas setumpuk pancake dengan wajah depresi dan tatapan super melas. Dan in Real Life adalah film komedi romantis tentang seorang Dan Burns (Steve Carell) yang jiwanya telah kering oleh cinta sejak istrinya meninggal empat tahun sebelumnya, tapi kemudian jatuh cinta dengan seorang wanita yang telah memiliki pacar (dan pacarnya itu adiknya Dan sendiri! XD). Tonton sendiri film bagus ini untuk mengetahui detail ceritanya. Intinya, film ini mengajari gw bahwa segala kompleksistas, awkwardness, dan hasrat yang mungkin (dan memang!) terjadi bukanlah seorang petinju yang harus dilawan dan jika kalah melawannya anda akan ter-knocked down. Tapi kompleksistas, awkawardness, dan hasrat tersebut justru merupakan sesuatu yang manis dan lucu, yang sebaiknya dinikmati. Hahahahaha... (‘-_-)

Selain kasus diatas, gw sempet mengalami beberapa kali lagi kejadian serupa. Kasus yang paling baru adalah pertemuan gw dengan film a Heartbreak Kid, film Robert de Niro yang sebenernya gak bagus-bagus amat. Tapi detail cerita kasusnya terlalu privat untuk dishare disini, (=_=)d engga deng, ga privat-privat amat. Cuma males aja nulisnya. (=_=)d

Yeah... Sekian dari saya... Pesan saya, ikutilah kata hati anda setiap kali anda pergi ke rental film dalam keadaan galau. See you at the next post...

P.s: I love you.