Salah satu pertanyaan paling besar di jagat raya ini adalah:
"Apakah setelah segala hiruk-pikuk ini, gw dan dia masih bisa berteman?"
Paska insiden intervensi, perlahan-lahan semuanya kembali normal. Seperti tidak ada apapun yang pernah terjadi. Up and down hubungan antara gw dan dia kembali mengikuti pola normal: kalau dia lagi akur sama pacarnya, eksistensi gw menipis. Kalau dia lagi berantem, eksistensi gw menebal. Kalau ada tugas yang susah, eksistensi gw jauh lebih menebal lagi. -___-
Untungnya, ada banyak hal yang bisa mengalihkan pikiran gw dari dia.
Misalnya, ada kelompok produksi iklan dimana secara kebetulan gw ditunjuk menjadi ketua. Awalnya, kelompok ini agak berantakan karena gw kesulitan beradaptasi dengan karakter-karakter individu anggota gw. Pada minggu-minggu pertama, iklan-iklan yang kami produksi tidak begitu bagus. Moral dan semangat bertarung prajurit-prajurit gw sangat rendah... dan ada satu titik dimana kayaknya ga ada harapan lagi buat kelompok ini.
Untungnya, saat tugas mid, kelompok gw bisa mendapatkan irama yang tepat. Untuk pertama kalinya kami berhasil mengeksekusi iklan yang cukup bagus, dimana semua anggota kelompok bekerja secara efektif dan gw bisa bilang "akhirnya gw bisa juga mimpin ini kelompok. :)"
Untungnya lagi, mood bagus saat mengerjakan tugas mid semester ini terus terbawa sampai ke minggu-minggu selanjutnya. Happy ending pertama taun ini.
Begitulah... bulan-bulan terakhir ini, ada banyak pengalihan dan tidak ada drama. It's almost like I've moved on.
...
...
...
Almost.
Suatu sore, didepan kampus, gw baru saja ngambil sesuatu dari rumah seseorang sambil membonceng dia dengan menggunakan motornya. Harusnya, gw langsung pamit ngambil motor gw terus kerja dan dia langsung pulang buat dandan yang cantik terus pacaran. Tapi, tiba-tiba gw nyeletuk,
"Kamu mau aku tembak gak?"
Sampai sekarang gw ga ngerti kenapa gw tiba-tiba ngomong gitu. Mungkin karena waktu itu sore, semburat lembayungnya indah, dan suasananya sejuk. Atau mungkin karena gw desperate. Apapun itu lah. Jadi kita tinggal sepuluh menit lebih lama didepan kampus tersebut... dengan tong sampah dan satpam parkiran mobil sebagai saksi.
Huah...
Tau gak sih betapa enaknya ngungkapin perasaan?
Tau gak sih betapa enaknya bilang "Jadi kesimpulannya... mau gak lo jadi pacar gw?"
Yeaa... di satu sisi, sore tersebut memang tidak membuahkan apa-apa selain senyuman. Tapi dari reaksinya, gw bisa menyimpulkan bahwa kalau satu-satunya faktor penentu dalam asmara adalah kekerenan....
...maka hidup gw akan jauh lebih mudah.
Kamis, 31 Mei 2012
Rabu, 30 Mei 2012
Dari Penulis
Gak kerasa besok udah hari terakhir. Tanggal 31.
Sekarang pertanyannya, kenapa gw menghabiskan 29 hari belakangan untuk menulis tentang dia?
Jawabannya sebenarnya sederhana, saudara-saudara.
Semua orang punya kisah masing-masing. Ga ada yang spesial dari kisah gw. Tapi, gw memiliki sedikit pemahaman tentang ilmu-ilmu sosial, jadi selain menggalau... gw juga memiliki kemampuan untuk menganalisis hubungan antara gw dengan dia secara teoritis.
Dari dulu, pas masa-masa galau, gw udah sering ngebreakdown geliat hubungan gw menggunakan teori komunikasi. Rasanya kocak aja ngeliat gimana pola-pola perilaku kita bisa diprediksi dengan tepat oleh orang yang hidup jauh sekali dari kita kayak Miller, Herbert Mead, dan Schram. Dari dulu, gw berniat nulis tentang hal ini, tapi selalu ketunda males. Baru saat ada event 31 hari menulis inilah gw jadi kepaksa buat nulis... males banget bayar 20 ribu gara-gara gak nulis. :P
Thanks, 31 hari menulis.
Jadi, kalian-kalian yang bilang kuliah teori komunikasi ga berguna itu salah besar. Teori komunikasi interpersonal bisa kamu gunakan untuk memahami berbagai aspek dari hubungan kalian. :)
Yeaa... gw ngerti gw gak dalam posisi untuk memberi saran... wong buktinya meskipun gw paham teori komunikasi, dia masih ada di genggaman orang lain kok.
Tapi liat sisi terangnya... seengganya gw kalah dengan dramatis. Seenggaknya, gw pernah ngerasain berbagai hal yang biasanya gak dirasain sama orang-orang dengan latar belakang dan kelas sosial seperti gw.
Besok hari terakhir... cerita galau terakhir juga berarti.
Stay tune~
Sekarang pertanyannya, kenapa gw menghabiskan 29 hari belakangan untuk menulis tentang dia?
Jawabannya sebenarnya sederhana, saudara-saudara.
Semua orang punya kisah masing-masing. Ga ada yang spesial dari kisah gw. Tapi, gw memiliki sedikit pemahaman tentang ilmu-ilmu sosial, jadi selain menggalau... gw juga memiliki kemampuan untuk menganalisis hubungan antara gw dengan dia secara teoritis.
Dari dulu, pas masa-masa galau, gw udah sering ngebreakdown geliat hubungan gw menggunakan teori komunikasi. Rasanya kocak aja ngeliat gimana pola-pola perilaku kita bisa diprediksi dengan tepat oleh orang yang hidup jauh sekali dari kita kayak Miller, Herbert Mead, dan Schram. Dari dulu, gw berniat nulis tentang hal ini, tapi selalu ketunda males. Baru saat ada event 31 hari menulis inilah gw jadi kepaksa buat nulis... males banget bayar 20 ribu gara-gara gak nulis. :P
Thanks, 31 hari menulis.
Jadi, kalian-kalian yang bilang kuliah teori komunikasi ga berguna itu salah besar. Teori komunikasi interpersonal bisa kamu gunakan untuk memahami berbagai aspek dari hubungan kalian. :)
Yeaa... gw ngerti gw gak dalam posisi untuk memberi saran... wong buktinya meskipun gw paham teori komunikasi, dia masih ada di genggaman orang lain kok.
Tapi liat sisi terangnya... seengganya gw kalah dengan dramatis. Seenggaknya, gw pernah ngerasain berbagai hal yang biasanya gak dirasain sama orang-orang dengan latar belakang dan kelas sosial seperti gw.
Besok hari terakhir... cerita galau terakhir juga berarti.
Stay tune~
Selasa, 29 Mei 2012
6
Gimana ya perasaan orang Jepang dulu saat Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom?
Tiga tahun sebelumnya, pada tahun 1942, mereka merayakan keberhasilan mereka dalam meratakan Pearl Harbor dan menguasai Indochina. Tapi, pada 7 dan 9 Agustus 1945, mereka ditampar kenyataan yang kejam. Bahwa Hiroshima dan Nagasaki bisa luluh lantak oleh satu biji bom. Bahwa kekuatan pasukan sekutu ternyata jauh diatas mereka. Bahwa mereka sebenernya sangat-sangat lemah.
Pada tahun 1942, mereka berparade dengan sombong. Tapi pada tahun 1945, mereka meratapi jalannya nasib sambil berkata, "attack pearl harbor, they said... it's gonna be fun, they said..."
Sepulang dari Jakarta, perasaan gw kurang lebih sama seperti orang-orang Jepang pasca pemboman Hiroshima dan Nagasaki.
Depresi.
Kalah total.
Males ngapa-ngapain.
Di Jakarta, meski presentasi kami lumayan bagus, ternyata kami gagal merebut gelar juara. Kami kalah secara fair and square oleh tim-tim dari UNS, UMY, dan UI. Sayang banget emang, padahal dramatis banget kalau akhirnya bisa menang.
Nah, saat awarding night, ketika gw dan dia sedang bersama-sama memandang kekalahan... kita akhirnya baikan. Tapi kejadian di Jakarta tersebut masih meninggalkan bekas yang mendalam. Gimana ya... gw bahkan ga bisa cemburu lagi, ga bisa marah lagi, satu-satunya yang rasakan adalah... seperti yang dikatakan oleh Adam Levine:
You push me
I don't have the strength to
Resist or control you
So take me down, take me down
Untuk beberapa saat, sepanjang bulan Maret dan April gw menjadi dingin. Jadi males mikirin apapun. Bahkan untuk nyukur kumis dan jenggot pun rasanya males banget. Seperti yang dikatakan oleh Adam Levine lagi:
I will never walk again
I'm never gonna leave this bed, oh
Ada satu tahap dimana untuk mengatasi kegalauan, gw bilang kepada diri sendiri bahwa setelah Jakarta, gw udah berhenti suka atau sayang sama dia. Kalau gw deketin dia, itu karena dia cantik doang. Bahasa kasarnya, karena nafsu doang. Keyakinan ini emang bikin hati lebih nyaman, tapi cuma tahan beberapa hari. Karena kemudian gw sadar bahwa setiap sebelum tidur, atit-nya masih kerasa. Karena diam-diam, ada sudut hati dimana Adam Levine terus bernyanyi:
So come here
And never leave this place
Perfection of your face
Slows me down, slows me down
So fall down
I need you to trust me
Go easy, don't rush me
Help me out, why don't you help me out?
Kebetulan, waktu itu dia mau ulang taun. Dalam suatu percakapan random, dia sempat bilang "perlu gak sih gw beli buku TOEFL?" dan gw bilang "engga perlu." Sebenernya, gw bilang engga perlu karena rencananya gw bakal ngasih dia hadiah buku TOEFL tersebut. Tapi kemudian, gw sadar bahwa gw ga punya basis valid untuk ngasih dia hadiah. Ngapain ngasih hadiah? Toh taun lalu, temen gw yang naksir dia dan ngasih dia hadiah-hadiah spesial akhirnya malah bikin dia ilfil.
Jadi, saat hari ulang tahunnya tiba... gw enggak ngasih dia apa-apa. Bahkan, gw enggak dateng ke perayaannya.Lucu emang. Taun lalu... ulang taun dia tuh seru banget. Dia seneng banget sama kado dan surat ucapan yang gw tulis. Sekarang?
Yang tidak disangka-sangka kemudian adalah... ternyata dia menyadari sikap-sikap Adam Levine yang gw lakukan.Hingga puncaknya, pada suatu hari... dia melakukan intervensi.
"Kenapa sih man lo jadi dingin ke gw?"
"Mmm..."
"Kenapa sih bilang aja coba!"
"Mmm..."
"Man, gw ga suka kalau lo diem kaya gini. Kalau ada masalah bilang aja!"
"Mmmm..."
Terus dia nangis dong saudara-saudara,
"What the fuck,"
"Abisnya lo tiba-tiba gini sama gw. Kemaren udah baik-baik aja terus sekarang kaya gini lagi. Gw ulang taun lo ga ngucapin, terus engga dateng. Kenapa sih lo?"
Gee... you wouldn't even let me die in peace, would you?
Biasanya, saat dia nangis, gw bakal menurunkan harga diri gw dan menenangkan dia. Tapi saat itu, gw maless banget. Gw pengen berhenti mikirin dia. Eksistensi dia itu cuma bikin galau, dan gw pengen ngehapus itu. Gw pengen nyerah. Gw pengen mati secara konotatif.
Akhirnya, gw menggunakan strategi yang sama dengan yang dia pakai di Jakarta. Gw mengundang pihak ketiga kedalam pembicaraan, sehingga secara efektif kita tidak bisa membicarakan hal yang terlalu personal. Pembalasan? Bisa dibilang begitu.
Akhirnya, dia muak sama sikap tertutup gw dan rasa sedihnya berubah menjadi amarah. Bener-bener marah besar secara harafiah.
Jadi kesimpulannya, kalau ditarik garis lurus polanya seperti ini:
Dia ngeliat sikap gw berubah. Dia takut gw marah sama dia. Kemudian, karena dia takut gw marah sama dia, akhirnya dia marah.
Women are crazy. -__-
Tiga tahun sebelumnya, pada tahun 1942, mereka merayakan keberhasilan mereka dalam meratakan Pearl Harbor dan menguasai Indochina. Tapi, pada 7 dan 9 Agustus 1945, mereka ditampar kenyataan yang kejam. Bahwa Hiroshima dan Nagasaki bisa luluh lantak oleh satu biji bom. Bahwa kekuatan pasukan sekutu ternyata jauh diatas mereka. Bahwa mereka sebenernya sangat-sangat lemah.
Pada tahun 1942, mereka berparade dengan sombong. Tapi pada tahun 1945, mereka meratapi jalannya nasib sambil berkata, "attack pearl harbor, they said... it's gonna be fun, they said..."
Sepulang dari Jakarta, perasaan gw kurang lebih sama seperti orang-orang Jepang pasca pemboman Hiroshima dan Nagasaki.
Depresi.
Kalah total.
Males ngapa-ngapain.
Di Jakarta, meski presentasi kami lumayan bagus, ternyata kami gagal merebut gelar juara. Kami kalah secara fair and square oleh tim-tim dari UNS, UMY, dan UI. Sayang banget emang, padahal dramatis banget kalau akhirnya bisa menang.
Nah, saat awarding night, ketika gw dan dia sedang bersama-sama memandang kekalahan... kita akhirnya baikan. Tapi kejadian di Jakarta tersebut masih meninggalkan bekas yang mendalam. Gimana ya... gw bahkan ga bisa cemburu lagi, ga bisa marah lagi, satu-satunya yang rasakan adalah... seperti yang dikatakan oleh Adam Levine:
You push me
I don't have the strength to
Resist or control you
So take me down, take me down
Untuk beberapa saat, sepanjang bulan Maret dan April gw menjadi dingin. Jadi males mikirin apapun. Bahkan untuk nyukur kumis dan jenggot pun rasanya males banget. Seperti yang dikatakan oleh Adam Levine lagi:
I will never walk again
I'm never gonna leave this bed, oh
Ada satu tahap dimana untuk mengatasi kegalauan, gw bilang kepada diri sendiri bahwa setelah Jakarta, gw udah berhenti suka atau sayang sama dia. Kalau gw deketin dia, itu karena dia cantik doang. Bahasa kasarnya, karena nafsu doang. Keyakinan ini emang bikin hati lebih nyaman, tapi cuma tahan beberapa hari. Karena kemudian gw sadar bahwa setiap sebelum tidur, atit-nya masih kerasa. Karena diam-diam, ada sudut hati dimana Adam Levine terus bernyanyi:
So come here
And never leave this place
Perfection of your face
Slows me down, slows me down
So fall down
I need you to trust me
Go easy, don't rush me
Help me out, why don't you help me out?
Kebetulan, waktu itu dia mau ulang taun. Dalam suatu percakapan random, dia sempat bilang "perlu gak sih gw beli buku TOEFL?" dan gw bilang "engga perlu." Sebenernya, gw bilang engga perlu karena rencananya gw bakal ngasih dia hadiah buku TOEFL tersebut. Tapi kemudian, gw sadar bahwa gw ga punya basis valid untuk ngasih dia hadiah. Ngapain ngasih hadiah? Toh taun lalu, temen gw yang naksir dia dan ngasih dia hadiah-hadiah spesial akhirnya malah bikin dia ilfil.
Jadi, saat hari ulang tahunnya tiba... gw enggak ngasih dia apa-apa. Bahkan, gw enggak dateng ke perayaannya.Lucu emang. Taun lalu... ulang taun dia tuh seru banget. Dia seneng banget sama kado dan surat ucapan yang gw tulis. Sekarang?
Yang tidak disangka-sangka kemudian adalah... ternyata dia menyadari sikap-sikap Adam Levine yang gw lakukan.Hingga puncaknya, pada suatu hari... dia melakukan intervensi.
"Kenapa sih man lo jadi dingin ke gw?"
"Mmm..."
"Kenapa sih bilang aja coba!"
"Mmm..."
"Man, gw ga suka kalau lo diem kaya gini. Kalau ada masalah bilang aja!"
"Mmmm..."
Terus dia nangis dong saudara-saudara,
"What the fuck,"
"Abisnya lo tiba-tiba gini sama gw. Kemaren udah baik-baik aja terus sekarang kaya gini lagi. Gw ulang taun lo ga ngucapin, terus engga dateng. Kenapa sih lo?"
Gee... you wouldn't even let me die in peace, would you?
Biasanya, saat dia nangis, gw bakal menurunkan harga diri gw dan menenangkan dia. Tapi saat itu, gw maless banget. Gw pengen berhenti mikirin dia. Eksistensi dia itu cuma bikin galau, dan gw pengen ngehapus itu. Gw pengen nyerah. Gw pengen mati secara konotatif.
Akhirnya, gw menggunakan strategi yang sama dengan yang dia pakai di Jakarta. Gw mengundang pihak ketiga kedalam pembicaraan, sehingga secara efektif kita tidak bisa membicarakan hal yang terlalu personal. Pembalasan? Bisa dibilang begitu.
Akhirnya, dia muak sama sikap tertutup gw dan rasa sedihnya berubah menjadi amarah. Bener-bener marah besar secara harafiah.
Jadi kesimpulannya, kalau ditarik garis lurus polanya seperti ini:
Dia ngeliat sikap gw berubah. Dia takut gw marah sama dia. Kemudian, karena dia takut gw marah sama dia, akhirnya dia marah.
Women are crazy. -__-
Senin, 28 Mei 2012
5
Di hari H final lomba PR yang kami ikuti, kami dan setiap finalis lainnya harus mempresentasikan proposal kami pada empat juri yang semuanya merupakan praktisi PR profesional.
Tapi itu ga penting. Yang penting adalah...
07:53
Dia dapet voicemail yang berisi kata-kata semangat dari pacarnya, dan hal itu bikin dia bahagia banget.
Ya, saudara-saudara. Gw berhasil bawa dia ke Jakarta dalam sebuah lomba nasional yang jarang banget anak komunikasi ugm bisa tembus... dan gw masih kalah sama voicemail.
08:34
Urutan presentasi diberikan. Kotak Rubik (nama tim PR gw) dapet urutan paling akhir. Gw mulai nervous karena ini lomba pertama gw... dan gw bukan natural speaker. Ditengah kegugupan gw, gw gak sengaja ngelirik BB dia. Tebak apa yang ada disana?
Satu kata terkutuk yang bikin gw galau sampai sekarang.
08:36
Setelah selama dua menit berusaha bersikap rasional dan menahan emosi, gw akhirnya menyerah. Gw bisa menghandle kegugupan, gw bisa menghandle kegalauan, tapi gw gak bisa menahan dua hal tersebut dalam waktu yang bersamaan. Jadi... gw tarik dia keluar dengan kata-kata sakti, "I need to talk."
Jadi disana, didepan gedung komunikasi UI yang legendaris... terjadilah percakapan termutakhir abad ini.
"Kok, lo tega banget?"
"Apaan emang?"
"Itu,"
"Lah, itu kan urusan gw... kenapa sih lo mau tau aja urusan orang lain?"
"Jadi emang gitu?"
"So what? Emang kenapa kalau gitu?"
"Oke,"
"Jangan kaya gitu mukanya, biasa aja coba"
"Biasa gimana?"
"Ya biasa, ga usah kaya gini-kaya gini. Ini bikin gua engga nyaman."
It's always about you, isn't it. "Kasih tau dimana letak kesalahan gw,"
"Ya kaya gini,"
"Jadi gw salah karena sayang (geli gw nulisnya) sama lo?"
"Ah, tau ah. Gw kedalem bentar."
Sebenernya percakapannya lebih panjang dari itu, tapi gw lupa detailnya.
Akhirnya dia masuk ke gedung komunikasi dan keluar dengan membawa si laki-laki gak penting. Smart move, sekarang karena ada pihak ketiga, gw ga bisa ngomongin hal yang personal. Akhirnya, kegalauan gw nambah dan kegugupan gw masih belum teratasi. Seperti biasa, reaksi fisiologis gw adalah berjalan mondar-mandir dan nyanyi-nyanyi sendiri kaya orang stress.
09:27
Gw duduk di tempat yang agak terpencil. Masih shock. Masih galau maksimal. Dalam pose depresi, gw menggumamkan lagu Rainbow Vein dari Owl City buat menenangkan diri.
Cheer up and dry your damp eyes, and tell me where it rains.
Kaya orang gila beneran.
10:12
Gw sempet ngobrol sama Mutia sebentar. Cukup membuat rileks. Tapi kemudian dia pergi karena ada kelas dan akhirnya gw kembali ke rutinitas gila gw.
Cheer up and dry your damp eyes,
11:38
Giliran presentasi gw semakin dekat. Gw akhirnya memilih untuk berhenti menggalau di tempat sepi dan kembali ke kerumunan. Dia tersenyum saat menyambut gw, ngajak tos, sambil bilang "udah selesai menyepi?" sepertinya dia merasa bersalah tapi peduli amat. Gw cuma bales dengan senyum 2 detik.
11:42
Giliran presentasi gw tiba. Sebagai ketua, gw menjadi presenter pertama dari kelompok gw. Kalau gw gagal disini, sudah pasti kebelakang-belakangnya bakal gagal.
So, there I was. Sebagai orang yang ga punya bakat alami buat bicara... dengan kegalauan dan kegugupan pada level maksimal. Nevertheless, setelah gw menarik nafas dalam-dalam, gw berbisik ke si laki-laki ga penting dengan senyum penuh keyakinan. "Kayanya kita bakal menang deh,"
Kemudian gw ngambil microphone wireless yang sejatinya adalah jatah juri-nya, kemudian berjalan ke depan panggung. Kenapa harus microphone wireless?
Karena hal yang pertama gw lakukan di panggung adalah melempar microphone tersebut ke udara, membiarkannya berputar beberapa kali, kemudian menangkapnya kembali.
"Hit it,"
...
...
...
Presentasinya sukses, bagus banget, jurinya suka, dan key message "Senyum Gea, Senyum Indonesia" berhasil menyihir seluruh audiens di auditorium untuk tersenyum. Ajaib emang.
13:20
Seluruh finalis diantar pulang ke penginapan. Hal yang pertama gw lakukan adalah mandi, sementara hal yang pertama dia lakukan adalah siap-siap pulang. Alasannya, ayahnya telah menjemput dan siap mengantarnya pulang untuk bermalam di rumah. Dia kemudian pamit pada semua finalis yang masih berada di hotel.
Ketika dia mencoba pamit ke gw, dia ngetok-ngetok pintu kamar mandi sambil berkata "man, gw pulang ya. man? man? lo ga bunuh diri kan? man gw pulang ya?" sebanyak tiga puluh tiga kali. Gw nyalain semua keran buat ngeredam suara dia terus duduk dengan galau di sudut kamar mandi. Akhirnya dia menyerah dan pulang.
Kenapa? Pertama, karena gw masih males ngomong sama dia.
Kedua, karena itu keren. Kayak di pilem-pilem.
Tapi itu ga penting. Yang penting adalah...
07:53
Dia dapet voicemail yang berisi kata-kata semangat dari pacarnya, dan hal itu bikin dia bahagia banget.
Ya, saudara-saudara. Gw berhasil bawa dia ke Jakarta dalam sebuah lomba nasional yang jarang banget anak komunikasi ugm bisa tembus... dan gw masih kalah sama voicemail.
08:34
Urutan presentasi diberikan. Kotak Rubik (nama tim PR gw) dapet urutan paling akhir. Gw mulai nervous karena ini lomba pertama gw... dan gw bukan natural speaker. Ditengah kegugupan gw, gw gak sengaja ngelirik BB dia. Tebak apa yang ada disana?
Satu kata terkutuk yang bikin gw galau sampai sekarang.
08:36
Setelah selama dua menit berusaha bersikap rasional dan menahan emosi, gw akhirnya menyerah. Gw bisa menghandle kegugupan, gw bisa menghandle kegalauan, tapi gw gak bisa menahan dua hal tersebut dalam waktu yang bersamaan. Jadi... gw tarik dia keluar dengan kata-kata sakti, "I need to talk."
Jadi disana, didepan gedung komunikasi UI yang legendaris... terjadilah percakapan termutakhir abad ini.
"Kok, lo tega banget?"
"Apaan emang?"
"Itu,"
"Lah, itu kan urusan gw... kenapa sih lo mau tau aja urusan orang lain?"
"Jadi emang gitu?"
"So what? Emang kenapa kalau gitu?"
"Oke,"
"Jangan kaya gitu mukanya, biasa aja coba"
"Biasa gimana?"
"Ya biasa, ga usah kaya gini-kaya gini. Ini bikin gua engga nyaman."
It's always about you, isn't it. "Kasih tau dimana letak kesalahan gw,"
"Ya kaya gini,"
"Jadi gw salah karena sayang (geli gw nulisnya) sama lo?"
"Ah, tau ah. Gw kedalem bentar."
Sebenernya percakapannya lebih panjang dari itu, tapi gw lupa detailnya.
Akhirnya dia masuk ke gedung komunikasi dan keluar dengan membawa si laki-laki gak penting. Smart move, sekarang karena ada pihak ketiga, gw ga bisa ngomongin hal yang personal. Akhirnya, kegalauan gw nambah dan kegugupan gw masih belum teratasi. Seperti biasa, reaksi fisiologis gw adalah berjalan mondar-mandir dan nyanyi-nyanyi sendiri kaya orang stress.
09:27
Gw duduk di tempat yang agak terpencil. Masih shock. Masih galau maksimal. Dalam pose depresi, gw menggumamkan lagu Rainbow Vein dari Owl City buat menenangkan diri.
Cheer up and dry your damp eyes, and tell me where it rains.
Kaya orang gila beneran.
10:12
Gw sempet ngobrol sama Mutia sebentar. Cukup membuat rileks. Tapi kemudian dia pergi karena ada kelas dan akhirnya gw kembali ke rutinitas gila gw.
Cheer up and dry your damp eyes,
11:38
Giliran presentasi gw semakin dekat. Gw akhirnya memilih untuk berhenti menggalau di tempat sepi dan kembali ke kerumunan. Dia tersenyum saat menyambut gw, ngajak tos, sambil bilang "udah selesai menyepi?" sepertinya dia merasa bersalah tapi peduli amat. Gw cuma bales dengan senyum 2 detik.
11:42
Giliran presentasi gw tiba. Sebagai ketua, gw menjadi presenter pertama dari kelompok gw. Kalau gw gagal disini, sudah pasti kebelakang-belakangnya bakal gagal.
So, there I was. Sebagai orang yang ga punya bakat alami buat bicara... dengan kegalauan dan kegugupan pada level maksimal. Nevertheless, setelah gw menarik nafas dalam-dalam, gw berbisik ke si laki-laki ga penting dengan senyum penuh keyakinan. "Kayanya kita bakal menang deh,"
Kemudian gw ngambil microphone wireless yang sejatinya adalah jatah juri-nya, kemudian berjalan ke depan panggung. Kenapa harus microphone wireless?
Karena hal yang pertama gw lakukan di panggung adalah melempar microphone tersebut ke udara, membiarkannya berputar beberapa kali, kemudian menangkapnya kembali.
"Hit it,"
...
...
...
Presentasinya sukses, bagus banget, jurinya suka, dan key message "Senyum Gea, Senyum Indonesia" berhasil menyihir seluruh audiens di auditorium untuk tersenyum. Ajaib emang.
13:20
Seluruh finalis diantar pulang ke penginapan. Hal yang pertama gw lakukan adalah mandi, sementara hal yang pertama dia lakukan adalah siap-siap pulang. Alasannya, ayahnya telah menjemput dan siap mengantarnya pulang untuk bermalam di rumah. Dia kemudian pamit pada semua finalis yang masih berada di hotel.
Ketika dia mencoba pamit ke gw, dia ngetok-ngetok pintu kamar mandi sambil berkata "man, gw pulang ya. man? man? lo ga bunuh diri kan? man gw pulang ya?" sebanyak tiga puluh tiga kali. Gw nyalain semua keran buat ngeredam suara dia terus duduk dengan galau di sudut kamar mandi. Akhirnya dia menyerah dan pulang.
Kenapa? Pertama, karena gw masih males ngomong sama dia.
Kedua, karena itu keren. Kayak di pilem-pilem.
Minggu, 27 Mei 2012
4
"Enjoy your special trip. Inget, dia punya orang lain. Jangan diapa-apain."
Begitulah bunyi sms yang masuk saat gw sedang berada dalam perjalanan ke Jakarta.
Ya. Alhamdulillah proposal PR buatan gw, dia, dan laki-laki ga penting berhasil menjadi proposal terbaik keenam dari duapuluh sembilan peserta. Alhasil kita bertiga berhasil melenggang ke UI sebagai salah satu finalis untuk menyelesaikan babak berikutnya.
"Ya, kebetulan gw ga bawa kondom." balas gw sekenanya.
Satu pertanyaan besar yang engga terjawab adalah... kenapa banyak orang ngira gw bisa ngapa-ngapain dia?
Apakah gw sekeren itu sampai gw keliatan kayak bisa seenaknya ngapa-ngapain ke siapa-siapa?
Di kereta itu, jangankan ngapa-ngapain, ngobrol aja enggak. Dia sibuk galau gara-gara mantannya. Dia bahkan minjemin novelnya ke gw supaya gw diem. -___-
Gimana ya, gw gak berharap dengan ke Jakarta bareng dia bisa tiba-tiba ninggalin pacarnya dan jatuh ke pelukan gw. Tapi seengganya, gw pengen selama di Jakarta gw dan dia bisa bersenang-senang.
Fiuh, jauh panggang dari api. Yang ada, selama di perjalanan dan di hotel, dia memandang gw sebagai partner secara profesional. Setiap gw ngelawak, dia marah dan mendengus "serius, ah!". Percakapan terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan lomba. Dan yang paling parah, dia malah sibuk curhat tentang pacar dan mantannya ke si laki-laki gak penting.
Well, it's really get on my nerve.
Akhirnya, saat malam tiba dan kebetulan gw berdua doang di ruang tertutup sama dia, gw melakukan sesuatu yang tidak sopan. Dan, tentu saja, dia marah. -_-
Begitulah sisi kelam dari Jakarta.
Sisi terangnya?
Hotelnya bagus, universitasnya canggih, temen-temen (saingan) dari universitas lain asik diajak berteman, dan yang paling penting...
LO-nya cantik, bung. Namanya Mutia. Kalau dia masuk ilmu komunikasi UGM, mungkin dia jadi gadis paling cantik nomer tiga. Pada hari kedua, berkat beberapa peristiwa kebetulan, gw berhasil menjadi agak dekat dengan dia. Kita mulai bisa ngobrol tentang banyak hal dan tertawa tentang banyak hal. Yeah, selain cantik dia juga smart, manis, lucu, dan.... udah punya pacar. Anak teknik UGM pula pacarnya.
Nevertheless, Mutia adalah salah satu bukti bahwa meskipun galau, I'm still sharp.
Terakhir, hal yang paling berkesan dari UI tidak datang dari dia atau dari Mutia. Tapi datang dari Jas Almamater UGM.
Yak, jaster ini kekuatannya emang kerasa sekali. Setiap gw memakai jaster tersebut, gw bisa ngerasain semua orang ngelirik dengan mata yang kagum dan saling berbisik "wah, dari UGM."
Padahal, saudara-saudara, gw cuma keenam. Rasanya malu banget sumpah diliatin dan dianggap pinter saat gw cuma jadi keenam. Saat gw cuma jadi mediocre.
Besoknya...
Begitulah bunyi sms yang masuk saat gw sedang berada dalam perjalanan ke Jakarta.
Ya. Alhamdulillah proposal PR buatan gw, dia, dan laki-laki ga penting berhasil menjadi proposal terbaik keenam dari duapuluh sembilan peserta. Alhasil kita bertiga berhasil melenggang ke UI sebagai salah satu finalis untuk menyelesaikan babak berikutnya.
"Ya, kebetulan gw ga bawa kondom." balas gw sekenanya.
Satu pertanyaan besar yang engga terjawab adalah... kenapa banyak orang ngira gw bisa ngapa-ngapain dia?
Apakah gw sekeren itu sampai gw keliatan kayak bisa seenaknya ngapa-ngapain ke siapa-siapa?
Di kereta itu, jangankan ngapa-ngapain, ngobrol aja enggak. Dia sibuk galau gara-gara mantannya. Dia bahkan minjemin novelnya ke gw supaya gw diem. -___-
Gimana ya, gw gak berharap dengan ke Jakarta bareng dia bisa tiba-tiba ninggalin pacarnya dan jatuh ke pelukan gw. Tapi seengganya, gw pengen selama di Jakarta gw dan dia bisa bersenang-senang.
Fiuh, jauh panggang dari api. Yang ada, selama di perjalanan dan di hotel, dia memandang gw sebagai partner secara profesional. Setiap gw ngelawak, dia marah dan mendengus "serius, ah!". Percakapan terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan lomba. Dan yang paling parah, dia malah sibuk curhat tentang pacar dan mantannya ke si laki-laki gak penting.
Well, it's really get on my nerve.
Akhirnya, saat malam tiba dan kebetulan gw berdua doang di ruang tertutup sama dia, gw melakukan sesuatu yang tidak sopan. Dan, tentu saja, dia marah. -_-
Begitulah sisi kelam dari Jakarta.
Sisi terangnya?
Hotelnya bagus, universitasnya canggih, temen-temen (saingan) dari universitas lain asik diajak berteman, dan yang paling penting...
LO-nya cantik, bung. Namanya Mutia. Kalau dia masuk ilmu komunikasi UGM, mungkin dia jadi gadis paling cantik nomer tiga. Pada hari kedua, berkat beberapa peristiwa kebetulan, gw berhasil menjadi agak dekat dengan dia. Kita mulai bisa ngobrol tentang banyak hal dan tertawa tentang banyak hal. Yeah, selain cantik dia juga smart, manis, lucu, dan.... udah punya pacar. Anak teknik UGM pula pacarnya.
Nevertheless, Mutia adalah salah satu bukti bahwa meskipun galau, I'm still sharp.
Terakhir, hal yang paling berkesan dari UI tidak datang dari dia atau dari Mutia. Tapi datang dari Jas Almamater UGM.
Yak, jaster ini kekuatannya emang kerasa sekali. Setiap gw memakai jaster tersebut, gw bisa ngerasain semua orang ngelirik dengan mata yang kagum dan saling berbisik "wah, dari UGM."
Padahal, saudara-saudara, gw cuma keenam. Rasanya malu banget sumpah diliatin dan dianggap pinter saat gw cuma jadi keenam. Saat gw cuma jadi mediocre.
Besoknya...
Sabtu, 26 Mei 2012
3
Dari lima pagi yang gw habiskan bersama dengan dia, satu-satunya peristiwa yang 'berarti' adalah ketika pacarnya mau datang dan gw disuruh pulang. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, gw mencicipi sedikit rasa menjadi selingkuhan. I mean, of course yang gw dan dia lakukan jauh dari kata selingkuh. Tapi seengganya gw tau rasanya dibilangin, "haduh, suamiku pulang! ayo cepat pergi atau sembunyi!"
...
...
...
Nevermind. -__-
Di hari kelima, akhirnya kami berhasil menyelesaikan proposal lomba. Seperti yang telah gw ceritakan sebelumnya, pada hari itu dia akan pulang kampung ke Ujung Genteng. Saat gw pamit, dengan nada setengah bercanda dan setengah galau, gw memulai percakapan terakhir kita hari itu.
"Sebenernya gw takut loh kalau lo pulang kampung,"
"Hah, kenapa?"
"Ntar kaya dulu lagi. Pas libur tiba-tiba lo nemu orang baru."
"Hehe."
"Terus ninggalin gw,"
"Gak bakal lahhh... kan sekarang udah ada."
"Kali aja ada lagi, ntar gw harus saingan sama tiga orang berarti"
"Idihhh.."
Setelah itu gw melakukan sedikit kontak fisik yang wajar terus pulang.
Sebenarnya, hal yang gw bilang ke dia itu sama sekali bukan isu utama yang gw pikirkan. Isu utamanya adalah, dia bakal pulang ke Ujung Genteng berdua sama pacarnya. Artinya mereka bakal duduk berdual selama hampir 10 jam non-stop di bangku yang sempit dan gerbong yang sepi.
Dan ini bikin jealous serta depresi.
Gw tau dalam kondisi seperti itu, gw ga bakal bisa tidur tenang malem itu. Akhirnya, gw mencuci muka di wastafel dan kemudian menatap bayangan diri dalam cermin. "Baiklah, otak." kata gw pada diri sendiri. "Solusi apa yang tepat supaya gw bisa tidur tenang malem ini?"
Bayangan gw dalam cermin menjawab dengan senyuman sinis, "mau melakukan sesuatu yang bodoh?"
"Sure," bales gw.
"Ayo kita ke Semarang."
Ini tentu saja adalah hal yang bodoh. Satu, gw ga punya duit. Dua, gw baru satu bulan memakai motor. Dalam kondisi seperti itu, melakukan perjalanan panjang sendirian adalah hal yang sangat beresiko. Tapi, daripada harus melewatkan malam dalam kegalauan yang berkepanjangan, hal bodoh ini terdengar seperti pilihan yang menarik.
Jadi, gw langsung kontak temen gw yang ada di Semarang serta mengisi penuh bensin motor gw. Tanpa ba, bi, bu, hanya berbekal jaket biasa dan helm hadiah ulang tahun dari dia, gw berangkat ke Semarang.
Perjalanan selama hampir tiga jam ke Semarang itu adalah salah satu hal ternikmat yang pernah gw rasakan. Gw lari dari kenyataan, secara harafiah, dengan kecepatan 110 km/jam. Kalau jalanan lagi sepi, sambil ngebut gw nyanyi "no, no, I can't believe, you leaving me-e-e-e-e!!! stay with me baby... Uuuhh, stay with me baby!!"
Setiap ada motor gede yang nyusul, gw iklhas. Tapi begitu ada motor matik yang nyusul, gw teriak "know your place, faggot!!" sambil nyusul balik motor matik tersebut.
Saking dramatisnya perjalanan tersebut, sepatu gw sampai jebol ditengah perjalanan.
Di Semarang, gw bertemu dengan dua teman gw. Satunya laki-laki, orang yang waktu SMA berhasil pacaran sama gebetan gw saat SMP: Reza. Satunya lagi perempuan, temen satu aksel saat SMP sekaligus salah satu wanita paling cantik di dunia: Magna. Kita bertiga akhirnya makan bareng, nonton, dan beli sepatu. Dalam kata lain, lari dari kenyataan dengan buang-buang duit.
Pada satu titik, gw sedikit cerita ke Magna tentang dia. Salah satu reaksinya yang paling menohok adalah "Kok kamu segitu ngebetnya sih man? Emang dulu kalian pernah jadian?"
Hmmp. Enggak.
Gw pulang dari Semarang pada malam hari yang dihiasi dengan gerimis. Hawanya dingin, jalannya licin, dan gw sempet nabrak mobil. -___-
Hal yang paling menarik dari perjalanan pulang adalah kegelapannya. Selama dua hari di Semarang, gw telah berhasil lari dari kenyataan sampai puas. Sekarang, gw kembali ke kenyataan. Jalannya gelap, suram, dan gw gak bisa ngeliat apapun kecuali lampu belakang mobil yang ada di depan gw. Hujannya semakin membesar, dinginnya semakin menusuk, dan gw mulai menggigil. Tapi ga ada yang bisa gw lakukan selain maju terus karena Semarang telah jauh di belakang dan Magelang masih jauh didepan.
"Kapan ini bakal berakhir?" tanya gw pada diri sendiri dengan gigi yang bergemeletuk.
Tapi akhirnya siksaan itu berakhir.
Jalan yang gelap telah habis, digantikan oleh jalan yang diterangi oleh keramahan kota.
Gw berhenti di Indomaret terdekat untuk membeli minum dan kebetulan ada tukang martabak di depan Indomaret tersebut. Akhirnya, sambil makan martabak coklat dan minum teh botol sosro, gw tersenyum dan berterimakasih pada tuhan atas pelajaran langsung yang ia berikan.
Ketika lo berhenti kabur dan mulai berjalan untuk menghadapi kenyataan, jalannya sangat dingin dan gelap. Tapi, eventually, lo bakal sampai kota dan menemukan bahwa di ujung kenyataan kelam yang lo hadapi, ada satu kehangatan yang menanti.
Mungkin petuah ini gak valid secara empiris, tapi enggak apa-apalah.
...
...
...
Nevermind. -__-
Di hari kelima, akhirnya kami berhasil menyelesaikan proposal lomba. Seperti yang telah gw ceritakan sebelumnya, pada hari itu dia akan pulang kampung ke Ujung Genteng. Saat gw pamit, dengan nada setengah bercanda dan setengah galau, gw memulai percakapan terakhir kita hari itu.
"Sebenernya gw takut loh kalau lo pulang kampung,"
"Hah, kenapa?"
"Ntar kaya dulu lagi. Pas libur tiba-tiba lo nemu orang baru."
"Hehe."
"Terus ninggalin gw,"
"Gak bakal lahhh... kan sekarang udah ada."
"Kali aja ada lagi, ntar gw harus saingan sama tiga orang berarti"
"Idihhh.."
Setelah itu gw melakukan sedikit kontak fisik yang wajar terus pulang.
Sebenarnya, hal yang gw bilang ke dia itu sama sekali bukan isu utama yang gw pikirkan. Isu utamanya adalah, dia bakal pulang ke Ujung Genteng berdua sama pacarnya. Artinya mereka bakal duduk berdual selama hampir 10 jam non-stop di bangku yang sempit dan gerbong yang sepi.
Dan ini bikin jealous serta depresi.
Gw tau dalam kondisi seperti itu, gw ga bakal bisa tidur tenang malem itu. Akhirnya, gw mencuci muka di wastafel dan kemudian menatap bayangan diri dalam cermin. "Baiklah, otak." kata gw pada diri sendiri. "Solusi apa yang tepat supaya gw bisa tidur tenang malem ini?"
Bayangan gw dalam cermin menjawab dengan senyuman sinis, "mau melakukan sesuatu yang bodoh?"
"Sure," bales gw.
"Ayo kita ke Semarang."
Ini tentu saja adalah hal yang bodoh. Satu, gw ga punya duit. Dua, gw baru satu bulan memakai motor. Dalam kondisi seperti itu, melakukan perjalanan panjang sendirian adalah hal yang sangat beresiko. Tapi, daripada harus melewatkan malam dalam kegalauan yang berkepanjangan, hal bodoh ini terdengar seperti pilihan yang menarik.
Jadi, gw langsung kontak temen gw yang ada di Semarang serta mengisi penuh bensin motor gw. Tanpa ba, bi, bu, hanya berbekal jaket biasa dan helm hadiah ulang tahun dari dia, gw berangkat ke Semarang.
Perjalanan selama hampir tiga jam ke Semarang itu adalah salah satu hal ternikmat yang pernah gw rasakan. Gw lari dari kenyataan, secara harafiah, dengan kecepatan 110 km/jam. Kalau jalanan lagi sepi, sambil ngebut gw nyanyi "no, no, I can't believe, you leaving me-e-e-e-e!!! stay with me baby... Uuuhh, stay with me baby!!"
Setiap ada motor gede yang nyusul, gw iklhas. Tapi begitu ada motor matik yang nyusul, gw teriak "know your place, faggot!!" sambil nyusul balik motor matik tersebut.
Saking dramatisnya perjalanan tersebut, sepatu gw sampai jebol ditengah perjalanan.
Di Semarang, gw bertemu dengan dua teman gw. Satunya laki-laki, orang yang waktu SMA berhasil pacaran sama gebetan gw saat SMP: Reza. Satunya lagi perempuan, temen satu aksel saat SMP sekaligus salah satu wanita paling cantik di dunia: Magna. Kita bertiga akhirnya makan bareng, nonton, dan beli sepatu. Dalam kata lain, lari dari kenyataan dengan buang-buang duit.
Pada satu titik, gw sedikit cerita ke Magna tentang dia. Salah satu reaksinya yang paling menohok adalah "Kok kamu segitu ngebetnya sih man? Emang dulu kalian pernah jadian?"
Hmmp. Enggak.
Gw pulang dari Semarang pada malam hari yang dihiasi dengan gerimis. Hawanya dingin, jalannya licin, dan gw sempet nabrak mobil. -___-
Hal yang paling menarik dari perjalanan pulang adalah kegelapannya. Selama dua hari di Semarang, gw telah berhasil lari dari kenyataan sampai puas. Sekarang, gw kembali ke kenyataan. Jalannya gelap, suram, dan gw gak bisa ngeliat apapun kecuali lampu belakang mobil yang ada di depan gw. Hujannya semakin membesar, dinginnya semakin menusuk, dan gw mulai menggigil. Tapi ga ada yang bisa gw lakukan selain maju terus karena Semarang telah jauh di belakang dan Magelang masih jauh didepan.
"Kapan ini bakal berakhir?" tanya gw pada diri sendiri dengan gigi yang bergemeletuk.
Tapi akhirnya siksaan itu berakhir.
Jalan yang gelap telah habis, digantikan oleh jalan yang diterangi oleh keramahan kota.
Gw berhenti di Indomaret terdekat untuk membeli minum dan kebetulan ada tukang martabak di depan Indomaret tersebut. Akhirnya, sambil makan martabak coklat dan minum teh botol sosro, gw tersenyum dan berterimakasih pada tuhan atas pelajaran langsung yang ia berikan.
Ketika lo berhenti kabur dan mulai berjalan untuk menghadapi kenyataan, jalannya sangat dingin dan gelap. Tapi, eventually, lo bakal sampai kota dan menemukan bahwa di ujung kenyataan kelam yang lo hadapi, ada satu kehangatan yang menanti.
Mungkin petuah ini gak valid secara empiris, tapi enggak apa-apalah.
Jumat, 25 Mei 2012
2
Nonton bokep bareng.
Frase itu kini terdengar agak menjijikan. Tapi, waktu kita masih sma... frase tersebut rasanya sangat normal.
Yeah, siapa sih cowok yang engga pernah nonton bokep bareng pas masih remaja?
Dulu, gw pernah mendapat kesempatan untuk nonton bokep bareng saat sedang menginap di rumah teman.
Uniknya, tidak seperti bokep lainnya, film bokep yang waktu itu diputar memiliki jalan cerita yang cenderung menarik untuk disimak.
Ceritanya, ada seorang wanita yang suka sama sahabatnya. Sayangnya, sebelum sempat mengembangkan rasa sukanya tersebut menjadi sesuatu yang riil, dia mendapatkan kabar dari bapaknya bahwa mereka akan segera pindah rumah.
Si bapak harus pergi selama seminggu untuk mengurus berbagai hal yang terkait dengan kepindahan mereka. Selama bapaknya pergi, ia menitipkan sang wanita pada sahabatnya. Jadi, selama seminggu terakhir kebersamaan mereka, sang wanita berkesempatan untuk tinggal berdua dengan sahabatnya yang ia sukai.
Dimulailah cerita tersebut. Perkembangan hubungan antara sang wanita dengan sang sahabat pria berjalan dengan lucu, rumit, dan awkward. Sang wanita menyelipkan berbagai kode untuk menarik sang sahabat, tapi sahabatnya tersebut sama sekali clueless. Setiap satu hari berlalu, ada narator yang berkata "hari pertama seorang wanita dan seorang pria tinggal bersama... tidak terjadi apa-apa." begitu selanjutnya.
Baru pada hari terakhir sang wanita berhasil menyatakan perasaannya pada sang pria. It's kinda cute. :)) Akhirnya gw dan teman-teman gw malah lebih terpukau oleh jalan ceritanya dibandingkan adegan mesumnya.
Kenapa gw cerita hal diatas? Jadi begini...
Saat delegasi dari sebuah universitas datang ke kampus gw untuk mempromosikan sebuah lomba, gw langsung tertarik untuk mengikuti lomba tersebut. Alasannya? Pengen ngeliat luasnya dunia. Pengen ngukur sehebat apa sih gw. Pengen tau kalau dalam skala nasional, gw bisa berjuang sejauh apa.
Tapi ada satu masalah.
Lombanya berkelompok. Tiga-empat orang. Padahal seperti yang kita tahu, jumlah anak komunikasi yang tertarik untuk ikut lomba PR sangatlah terbatas. Akhirnya gw ngajak satu-satunya orang di komunikasi yang bisa gw 'percaya'. Seorang laki-laki yang ga penting dalam cerita ini. ~_~ Dan satunya lagi... gw milih orang yang paling biasa kerja bareng gw. Orang yang... sebenernya pinternya rata-rata, tapi punya banyak kualitas lain yang mungkin berguna:
Dia. -_-
Waktu itu, karena jadwal kerja yang berbeda, kita gak pernah ketemu bareng-bareng. Sistemnya adalah, pagi gw ketemu dia dan sore gw ketemu sana seorang laki-laki yang gak penting tadi. Kita cuma punya waktu lima hari karena pada hari kelima dia harus pulang kampung ke Ujung Genteng. Kebetulan... waktu itu libur jadi kosannya agak-agak sepi gimana gitu.
Kesimpulannya, selama lima pagi berturut-turut gw ketemu dia dalam suasana yang agak gimana gitu. Mulai terdengar seperti film bokep yang gw ceritain diatas kan?
Sialnya, ga ada adegan mesumnya. -___-
Frase itu kini terdengar agak menjijikan. Tapi, waktu kita masih sma... frase tersebut rasanya sangat normal.
Yeah, siapa sih cowok yang engga pernah nonton bokep bareng pas masih remaja?
Dulu, gw pernah mendapat kesempatan untuk nonton bokep bareng saat sedang menginap di rumah teman.
Uniknya, tidak seperti bokep lainnya, film bokep yang waktu itu diputar memiliki jalan cerita yang cenderung menarik untuk disimak.
Ceritanya, ada seorang wanita yang suka sama sahabatnya. Sayangnya, sebelum sempat mengembangkan rasa sukanya tersebut menjadi sesuatu yang riil, dia mendapatkan kabar dari bapaknya bahwa mereka akan segera pindah rumah.
Si bapak harus pergi selama seminggu untuk mengurus berbagai hal yang terkait dengan kepindahan mereka. Selama bapaknya pergi, ia menitipkan sang wanita pada sahabatnya. Jadi, selama seminggu terakhir kebersamaan mereka, sang wanita berkesempatan untuk tinggal berdua dengan sahabatnya yang ia sukai.
Dimulailah cerita tersebut. Perkembangan hubungan antara sang wanita dengan sang sahabat pria berjalan dengan lucu, rumit, dan awkward. Sang wanita menyelipkan berbagai kode untuk menarik sang sahabat, tapi sahabatnya tersebut sama sekali clueless. Setiap satu hari berlalu, ada narator yang berkata "hari pertama seorang wanita dan seorang pria tinggal bersama... tidak terjadi apa-apa." begitu selanjutnya.
Baru pada hari terakhir sang wanita berhasil menyatakan perasaannya pada sang pria. It's kinda cute. :)) Akhirnya gw dan teman-teman gw malah lebih terpukau oleh jalan ceritanya dibandingkan adegan mesumnya.
Kenapa gw cerita hal diatas? Jadi begini...
Saat delegasi dari sebuah universitas datang ke kampus gw untuk mempromosikan sebuah lomba, gw langsung tertarik untuk mengikuti lomba tersebut. Alasannya? Pengen ngeliat luasnya dunia. Pengen ngukur sehebat apa sih gw. Pengen tau kalau dalam skala nasional, gw bisa berjuang sejauh apa.
Tapi ada satu masalah.
Lombanya berkelompok. Tiga-empat orang. Padahal seperti yang kita tahu, jumlah anak komunikasi yang tertarik untuk ikut lomba PR sangatlah terbatas. Akhirnya gw ngajak satu-satunya orang di komunikasi yang bisa gw 'percaya'. Seorang laki-laki yang ga penting dalam cerita ini. ~_~ Dan satunya lagi... gw milih orang yang paling biasa kerja bareng gw. Orang yang... sebenernya pinternya rata-rata, tapi punya banyak kualitas lain yang mungkin berguna:
Dia. -_-
Waktu itu, karena jadwal kerja yang berbeda, kita gak pernah ketemu bareng-bareng. Sistemnya adalah, pagi gw ketemu dia dan sore gw ketemu sana seorang laki-laki yang gak penting tadi. Kita cuma punya waktu lima hari karena pada hari kelima dia harus pulang kampung ke Ujung Genteng. Kebetulan... waktu itu libur jadi kosannya agak-agak sepi gimana gitu.
Kesimpulannya, selama lima pagi berturut-turut gw ketemu dia dalam suasana yang agak gimana gitu. Mulai terdengar seperti film bokep yang gw ceritain diatas kan?
Sialnya, ga ada adegan mesumnya. -___-
Kamis, 24 Mei 2012
1
Kenapa gw sangat susah move on?
Sebenarnya hal ini bisa dianalisis dengan perspektif struktural fungsional.
Menurut perspektif ini, setiap sistem terdiri dari subsistem yang memiliki peran masing-masing. Peran-peran tersebut kemudian akan saling bersinergi untuk menciptakan sistem yang stabil.
Dalam level individual, hal ini dapat diaktualisasikan dengan pemilihan peran favorit.
Masih bingung? Kita ambil dia sebagai contoh. Kenapa dia memilih pacarnya yang (secara subjektif) engga bagus-bagus amat tapi kaya banget? Padahal, seperti yang kita tahu, dia engga mengincar kekayaan (sinetron abis) dari pacarnya tersebut.
Alasannya sederhana. Dengan membina hubungan dengan pacarnya tersebut, dia mendapatkan peran yang dia idam-idamkan: wanita kelas atas. Waktu masih berteman dulu, dia sering cerita ke gw tentang mimpinya untuk hidup dalam gemerlap kota Jakarta sebagai pemuncak rantai makanan. Nah, ketika dia berhubungan dengan pacarnya, dia mendapatkan lingkungan sosial baru (yang eksklusif), dia mendapatkan status baru (sebagai calon istri juragan kerbau), dan sebagainya. Inilah yang kemudian menjadi sistem ideal bagi dia. Pacarnya mungkin gak sempurna, tapi perannya kini sesuai dengan yang ia idamkan sejak masih bayi.
Hal yang sama berlaku buat gw. Dengan engak move-on dari dia, gw mendapatkan peran sebagai pria underdog yang harus bersaing dengan seorang yang tak terkalahkan untuk mendapatkan seorang putri yang bisa membelah lautan hanya dengan kedipannya.
Dan gw suka peran ini. Begitulah penjelasan dari perspektif struktural fungsional.
Selanjutnya bakal gw beberkan penjelasan dari perspektif postmodern, perspektif fenimisme, perspektif strukturasi adaptif, prespektif konflik, dan dua ratus perspektif lainnya.
Tapi boong.
Nah, ada satu hal lagi yang bikin gw susah move-on.
Menurut teori psikologi kehilangan, setelah kita memasuki fase acceptance maka seharusnya seluruh drama dan segala kegalauan yang dibawanya akan selesai.
Tapi, ada satu kondisi mutlak agar fase ini bisa tercapai dengan sempurna: you have to keep her away. Jaga jarak aman minimal 10 meter, jangan memandang wajahnya terlalu lama, jangan sampai parfumnya kecium, dan jangan mendatangi tempat-tempat yang penuh memori dirinya.
Sialnya -atau mungkin bisa gw bilang untungnya, kondisi ini gak pernah gw capai.
Gw stuck dalam beberapa kelompok sama dia, temen-temen gw adalah temen dia juga, banyak kelas yang kebetulan sama, dan lain-lain. Intinya, gw masih tetap berada dalam satu lingkungan sama dia.
Oleh karena itu, gw gak pernah bener-bener bisa menghindari terjadinya 'percikan'.
Jadi, meskipun setelah insiden ini gw gak pernah bener-bener menemukan keberanian dan energi untuk melakukan sesuatu yang secara eksplisit dan ekstensif untuk mendapatkan dia, tapi tetap ada beberapa drama yang tercipta.
Salah satu dari drama tersebut dimulai dari peristiwa yang sederhana. Ada sekelompok anak UI yang datang ke UGM untuk mempromosikan Pekan Komunikasi UI 2012.
Gw sendiri ga nyangka bahwa presentasi singkat dari anak-anak UI (yang salah satunya sok keren abis cuih) tersebut bakal berakhir dalam... sesuatu yang sangat dramatis. -_-
Sebenarnya hal ini bisa dianalisis dengan perspektif struktural fungsional.
Menurut perspektif ini, setiap sistem terdiri dari subsistem yang memiliki peran masing-masing. Peran-peran tersebut kemudian akan saling bersinergi untuk menciptakan sistem yang stabil.
Dalam level individual, hal ini dapat diaktualisasikan dengan pemilihan peran favorit.
Masih bingung? Kita ambil dia sebagai contoh. Kenapa dia memilih pacarnya yang (secara subjektif) engga bagus-bagus amat tapi kaya banget? Padahal, seperti yang kita tahu, dia engga mengincar kekayaan (sinetron abis) dari pacarnya tersebut.
Alasannya sederhana. Dengan membina hubungan dengan pacarnya tersebut, dia mendapatkan peran yang dia idam-idamkan: wanita kelas atas. Waktu masih berteman dulu, dia sering cerita ke gw tentang mimpinya untuk hidup dalam gemerlap kota Jakarta sebagai pemuncak rantai makanan. Nah, ketika dia berhubungan dengan pacarnya, dia mendapatkan lingkungan sosial baru (yang eksklusif), dia mendapatkan status baru (sebagai calon istri juragan kerbau), dan sebagainya. Inilah yang kemudian menjadi sistem ideal bagi dia. Pacarnya mungkin gak sempurna, tapi perannya kini sesuai dengan yang ia idamkan sejak masih bayi.
Hal yang sama berlaku buat gw. Dengan engak move-on dari dia, gw mendapatkan peran sebagai pria underdog yang harus bersaing dengan seorang yang tak terkalahkan untuk mendapatkan seorang putri yang bisa membelah lautan hanya dengan kedipannya.
Dan gw suka peran ini. Begitulah penjelasan dari perspektif struktural fungsional.
Selanjutnya bakal gw beberkan penjelasan dari perspektif postmodern, perspektif fenimisme, perspektif strukturasi adaptif, prespektif konflik, dan dua ratus perspektif lainnya.
Tapi boong.
Nah, ada satu hal lagi yang bikin gw susah move-on.
Menurut teori psikologi kehilangan, setelah kita memasuki fase acceptance maka seharusnya seluruh drama dan segala kegalauan yang dibawanya akan selesai.
Tapi, ada satu kondisi mutlak agar fase ini bisa tercapai dengan sempurna: you have to keep her away. Jaga jarak aman minimal 10 meter, jangan memandang wajahnya terlalu lama, jangan sampai parfumnya kecium, dan jangan mendatangi tempat-tempat yang penuh memori dirinya.
Sialnya -atau mungkin bisa gw bilang untungnya, kondisi ini gak pernah gw capai.
Gw stuck dalam beberapa kelompok sama dia, temen-temen gw adalah temen dia juga, banyak kelas yang kebetulan sama, dan lain-lain. Intinya, gw masih tetap berada dalam satu lingkungan sama dia.
Oleh karena itu, gw gak pernah bener-bener bisa menghindari terjadinya 'percikan'.
Jadi, meskipun setelah insiden ini gw gak pernah bener-bener menemukan keberanian dan energi untuk melakukan sesuatu yang secara eksplisit dan ekstensif untuk mendapatkan dia, tapi tetap ada beberapa drama yang tercipta.
Salah satu dari drama tersebut dimulai dari peristiwa yang sederhana. Ada sekelompok anak UI yang datang ke UGM untuk mempromosikan Pekan Komunikasi UI 2012.
Gw sendiri ga nyangka bahwa presentasi singkat dari anak-anak UI (yang salah satunya sok keren abis cuih) tersebut bakal berakhir dalam... sesuatu yang sangat dramatis. -_-
Rabu, 23 Mei 2012
Interlude: KKN
Secara umum, kita bisa mengkategorikan tiga tipe KKN.
Tipe pertama adalah tipe KKN idealis. KKN ini biasanya dilakukan di tempat dimana masyarakatnya benar-benar membutuhkan bantuan education for sustainable develpomet agar bisa bertahan hidup. Lokasinya biasanya menyeramkan seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Lebih Timur Lagi, Nusa Timur Tenggara Selatan Barat Daya, dan semacamnya.
Orang-orang yang mengikuti KKN ini adalah orang yang menyadari betul bahwa sebagai mahasiswa, ia memiliki kemampuan dan beban moral untuk mengabdi pada masyarakat. Ia mengemban misi pribadi untuk membawa masyarakat di daerah terpencil ke arah kesejahteraan yang berkelanjutan.
Sangat mengarukan. Patut dicontoh.
Tipe kedua adalah tipe KKN hura-hura. KKN ini tujuan utamanya liburan dan/atau nyuri waktu satu setengah bulan buat puas-puasin mesum sama pacar. Biasanya lokasinya di daerah-daerah wisata yang populer seperti di Dunia Fantasi.
Orang-orang yang mengikuti KKN ini adalah orang yang sadar betul bahwa setiap kesusahan dapat dimanfaatkan menjadi kesenangan. Mereka tidak idealis, tentunya... tapi mereka siap untuk membangun masyarakat dengan program-program yang efektif dan efisien. Nah, efisiensi menjadi kunci utama karena semakin cepat program diselesaikan... semakin banyak waktu yang tersisa buat bersenang-senang.
Engga mengharukan, tapi patut dicontoh juga. Mesum itu bagus buat kesehatan.
Nah, gw ada di tipe ketiga.
Tipe KKN "whatever maann... let's get this shit over with."
Tipe terakhir ini biasanya memilih tempat yang deket.
Program-programnya bagus tapi realistis dan affordable. Kita engga pengen-pengen amat mensejahterakan masyarakat, kita engga penge-pengen amat liburan atau nyuri waktu buat mesum, yang penting kita datang kesana... kita bikin masyarakat bahagia... kita dapet nilai A.. selesai.
Apapun tipe KKN anda... minumnya Nestle Pure Life.
Tipe pertama adalah tipe KKN idealis. KKN ini biasanya dilakukan di tempat dimana masyarakatnya benar-benar membutuhkan bantuan education for sustainable develpomet agar bisa bertahan hidup. Lokasinya biasanya menyeramkan seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Lebih Timur Lagi, Nusa Timur Tenggara Selatan Barat Daya, dan semacamnya.
Orang-orang yang mengikuti KKN ini adalah orang yang menyadari betul bahwa sebagai mahasiswa, ia memiliki kemampuan dan beban moral untuk mengabdi pada masyarakat. Ia mengemban misi pribadi untuk membawa masyarakat di daerah terpencil ke arah kesejahteraan yang berkelanjutan.
Sangat mengarukan. Patut dicontoh.
Tipe kedua adalah tipe KKN hura-hura. KKN ini tujuan utamanya liburan dan/atau nyuri waktu satu setengah bulan buat puas-puasin mesum sama pacar. Biasanya lokasinya di daerah-daerah wisata yang populer seperti di Dunia Fantasi.
Orang-orang yang mengikuti KKN ini adalah orang yang sadar betul bahwa setiap kesusahan dapat dimanfaatkan menjadi kesenangan. Mereka tidak idealis, tentunya... tapi mereka siap untuk membangun masyarakat dengan program-program yang efektif dan efisien. Nah, efisiensi menjadi kunci utama karena semakin cepat program diselesaikan... semakin banyak waktu yang tersisa buat bersenang-senang.
Engga mengharukan, tapi patut dicontoh juga. Mesum itu bagus buat kesehatan.
Nah, gw ada di tipe ketiga.
Tipe KKN "whatever maann... let's get this shit over with."
Tipe terakhir ini biasanya memilih tempat yang deket.
Program-programnya bagus tapi realistis dan affordable. Kita engga pengen-pengen amat mensejahterakan masyarakat, kita engga penge-pengen amat liburan atau nyuri waktu buat mesum, yang penting kita datang kesana... kita bikin masyarakat bahagia... kita dapet nilai A.. selesai.
Apapun tipe KKN anda... minumnya Nestle Pure Life.
Selasa, 22 Mei 2012
Acceptance
Orang beriman selalu bilang bahwa "tuhan tidak akan memberikan cobaan lebih daripada yang mampu ditanggung oleh hambanya."
Tapi, personally gw lebih suka "bitch, throw me anything. I'll handle it."
Ya. Gw memang memiliki sifat over-convidence yang akut.
Faktanya, gw masuk jurusan komunikasi tanpa banyak mikir. Satu-satunya yang gw pikirin adalah "ya udah lah, loncat secara random aja... dimanapun gw bisa survive kok."
Nah, selain memiliki sifat over-convidence, gw juga memiliki sifat kecanduan akan tantangan yang akut.
Semakin besar tantangannya, semakin mustahil tugasnya, semakin tertantang gw untuk melakukannya. Prinsipnya sederhana. Kalaupun enggak bisa menang, seengganya gw harus kalah dengan keren.
Tapi itu dulu.
Pengalaman yang gw tulis selama 21 hari belakangan mengajari gw bahwa ada hal-hal yang emang ga bisa dicapai.
Bahwa, seperti yang bapak gw sering bilang, kita harus menjejakan kaki kita ke tanah.
Yea.. it cracks me up.
Biasanya, ketika ada tugas yang numpuk... ketika banyak klien baru yang datang... ketika gw dituntut untuk memeras otak lebih banyak, gw bilang "bagus lah, biar ada tantangan buat otak gw."
Tapi sekarang, respon gw adalah "are you insane? We don't have enough manpower and time. This is impossible."
Akhirnya tetep gw kerjain juga sih, tapi ga ada kepercayaan diri dan keyakinan saat menyelesaikan tugas tersebut. Semua serba pesimis. -_-
Hehe...
Dari sudut padang marketing, sikap ini adalah sesuatu yang bagus.
Gak terhitung banyaknya perusahaan besar yang merugi gara-gara mereka berharap bisa mencapai sesuatu yang enggak mungkin dicapai.
Xerox, misalnya, pernah mencoba untuk menembus pasar komputer, tapi gagal. Alasannya, pasar komputer itu ya milik IBM dan Apple. Kamu cuma mesin fotokopi, puas-puasin aja jadi mesin fotokopi.
Kodak, misalnya, pernah mencoba untuk menembus pasar kamera digital, tapi gagal. Alasannya, kamera digital tu ya milik LG, Sony, Canon, Nikon, dll. Kamu cuma kamera analog, puas-puasin aja jadi mesin analog.
Kesimpulannya... stay where you are.
There are things that unreachable.
Tapi, personally gw lebih suka "bitch, throw me anything. I'll handle it."
Ya. Gw memang memiliki sifat over-convidence yang akut.
Faktanya, gw masuk jurusan komunikasi tanpa banyak mikir. Satu-satunya yang gw pikirin adalah "ya udah lah, loncat secara random aja... dimanapun gw bisa survive kok."
Nah, selain memiliki sifat over-convidence, gw juga memiliki sifat kecanduan akan tantangan yang akut.
Semakin besar tantangannya, semakin mustahil tugasnya, semakin tertantang gw untuk melakukannya. Prinsipnya sederhana. Kalaupun enggak bisa menang, seengganya gw harus kalah dengan keren.
Tapi itu dulu.
Pengalaman yang gw tulis selama 21 hari belakangan mengajari gw bahwa ada hal-hal yang emang ga bisa dicapai.
Bahwa, seperti yang bapak gw sering bilang, kita harus menjejakan kaki kita ke tanah.
Yea.. it cracks me up.
Biasanya, ketika ada tugas yang numpuk... ketika banyak klien baru yang datang... ketika gw dituntut untuk memeras otak lebih banyak, gw bilang "bagus lah, biar ada tantangan buat otak gw."
Tapi sekarang, respon gw adalah "are you insane? We don't have enough manpower and time. This is impossible."
Akhirnya tetep gw kerjain juga sih, tapi ga ada kepercayaan diri dan keyakinan saat menyelesaikan tugas tersebut. Semua serba pesimis. -_-
Hehe...
Dari sudut padang marketing, sikap ini adalah sesuatu yang bagus.
Gak terhitung banyaknya perusahaan besar yang merugi gara-gara mereka berharap bisa mencapai sesuatu yang enggak mungkin dicapai.
Xerox, misalnya, pernah mencoba untuk menembus pasar komputer, tapi gagal. Alasannya, pasar komputer itu ya milik IBM dan Apple. Kamu cuma mesin fotokopi, puas-puasin aja jadi mesin fotokopi.
Kodak, misalnya, pernah mencoba untuk menembus pasar kamera digital, tapi gagal. Alasannya, kamera digital tu ya milik LG, Sony, Canon, Nikon, dll. Kamu cuma kamera analog, puas-puasin aja jadi mesin analog.
Kesimpulannya... stay where you are.
There are things that unreachable.
Senin, 21 Mei 2012
Depression 4
Gw selalu terganggu oleh adanya ketimpangan antara kuliah periklanan dan public relation dalam jurusan ilmu komunikasi UGM.
Mata kuliah periklanan diampu oleh dosen-dosen yang memiliki kemampuan tinggi sementara mata kuliah public relation diampu oleh dosen yang jumlah dan kemampuannya terbatas.
Mata kuliah periklanan selalu berhasil menghadirkan kuliah-kuliah praktek dengan atmosfer kompetitif sementara mata kuliah public relation selalu terpaku pada metode kuliah berbasis ceramah.
It's not fair...
Mata kuliah periklanan diampu oleh dosen-dosen yang memiliki kemampuan tinggi sementara mata kuliah public relation diampu oleh dosen yang jumlah dan kemampuannya terbatas.
Mata kuliah periklanan selalu berhasil menghadirkan kuliah-kuliah praktek dengan atmosfer kompetitif sementara mata kuliah public relation selalu terpaku pada metode kuliah berbasis ceramah.
It's not fair...
Dan yang paling menyakitkan adalah...
Dalam setiap kompetisi periklanan, pasti ada wakil UGM yang meraih gelar juara. Sementara dalam kompetisi public relation? Belum pernah tuh ada gelar juara yang diraih.
Untuk mengatasi kebuntuan dalam bidang PR ini, gw dan beberapa teman berinisiatif untuk mendirikan BSO PR. Tujuannya sih sederhana, mbok ya kalau pendidikan formal dari jurusan engga bisa ngebawa anak-anak komunikasi menangin kompetisi PR, biar pendidikan non-formal aja yang ambil alih
Nah, ketika teman gw mengajukan ide tentang pembentukan BSO PR ini pada seorang dosen yang memiliki posisi strategis di jurusan, dosen tersebut berkata seperti ini:
"Sebenernya mahasiswa komunikasi UGM itu lebih pinter dibanding mahasiswa lainnya, cuma masalahnya kurang percaya diri aja."
Setelah itu, buaknnya membangun suatu badan untuk membuat mahasiswa komunikasi UGM lebih pintar, dosen tersebut malah membangun suatu badan untuk membuat mahasiswa komunikasi UGM lebih percaya diri.
*Facepalm*
Oke, mungkin gw cuma mahasiswa dan dia adalah dosen. Mungkin pengetahuan dan pengalaman dia lebih luas daripada gw. But I was there. Gw pernah ikut kompetisi PR nasional dan kenyataannya gak seperti yang dikatakan dosen tersebut.
Masalah mahasiswa komunikasi UGM adalah... kita terlalu bodoh. Bukan masalah percaya diri.
I mean, I am one of the brightest student here, but my ass get kicked pretty bad out there. Meskipun kelompok gw berhasil menyajikan presentasi yang bagus dan smooth banget... tapi kita kalah jauh di bagian kontennya.
Kalah jauh.
Habis lomba tersebut, gw sempet ngobrol dengan partner gw...
"Ternyata ada yang lebih hebat dari gw ya," kata gw.
"Banyak," balasnya.
Tapi kenapa dosen tersebut masih menganggap bahwa (dalam bidang PR) mahasiswa komunikasi UGM itu lebih pinter daripada mahasiswa universitas lain? Kenapa dosen tersebut tidak bisa sadar diri?
Apa susahnya sih sadar diri?
Sadar diri woi... cewe kayak dia terlalu tinggi buat anda.
Kekurangan anda tuh masih banyak. Sebelum kekurangan-kekurangan anda tersebut ilang... puas-puasin aja mimpiin dia.
Pecundang dasar.
Minggu, 20 Mei 2012
Depression 3
Ada satu prinsip ekonomi yang menyatakan bahwa nilai suatu barang tidak akan terlalu tinggi apabila barang terebut memiliki subtitut. Misalnya, harga rotan tidak akan pernah mencapai bermilyar-milyar dolar karena ketika tidak ada rotan, konsumen bisa memlih menggunakan akar. Sebaliknya, nilai suatu barang bisa menjadi sangat tingi apabila barang tersebut tidak memilki subtitut. Misalnya, harga sumur di ladang bisa mencapai triliunan rupiah karena apabila tidak ada sumur di ladang, konsumen tidak akan memiliki tempat untuk menumpang mandi.
Oleh karena itu, untuk mengurangi nilai suatu barang... kita harus mencari subtitut dari barang tersebut.
Atau dalam bahasa ilmiahnya: nyari pelampiasan.
Nah, mencari pelampiasan adalah hal yang normal dilakukan saat anda berada dalam fase depresi. Alasannya, untuk meninggalkan fase depresi, lo harus mengurangi nilai insintrik dari subjek yang membuat anda depresi. Semakin besar nilai subjek yang membuat anda depresi, maka semakin besar kualitas dan kuantitas pelampiasan yang harus didapatkan.
Ambil gw sebagai contoh... gw ga pernah tanggung-tanggung buat nyari pelampiasan. Dulu, semua objek menarik yang terdeteksi oleh radar pasti gw bribik. Bahkan, gw pernah ngegodain botol bekas Coca-cola, kucing tetangga, dan pohon rambutan di depan kos dalam satu hari yang sama. Kalimat buat godainnya sederhana: "Gw tau kita baru ketemu, tapi gw harus bilang bahwa elo adalah botol coca-cola/kucing tetangga/pohon rambutan tercantik yang pernah gw temui."
Selain membribik objek-objek random, gw juga berusaha memprospek beberapa gadis potensial untuk dijadikan gebetan baru. Tapi dalam tahap ini, ada satu masalah...
Seperti yang kalian tau, gw adalah anak muda berusia 19 tahun yang pola pikir dan kepribadiannya jauh melebih umur. Hal ini memang keren, tapi hal ini juga membawa masalah.
Ketika gw memprospek orang-orang seangkatan gw yang usianya 20-21 tahun, gw ngerasa gak cocok.
"Jih, orang-orang ini enggak asik amat sih. Pikirannya kawin, kerja, kawin, kerja. Ketuaan!"
Ketika gw memprospek adik angkatan yang usianya setara sama gw, gw juga ngerasa gak cocok.
"Jih, orang-orang ini enggak dewasa banget sih. Mbok ya agak mikirin masa depan sedikit. Kemudaan!"
Life is fucking impossible. =___=
Akhirnya, setelah banyak botol coca-cola dan kucing tak bersalah yang menjadi korban pelampiasan gw... gw mulai menemukan titik terang.
Titik terang ini gw dapet dari film 'Shaolin'. Tau kan di setiap film-film kungfu pasti ada ketua biksu yang kerjanya cuma bilang "amitabha"? Itu lohhh... ketua biksu yang disatu sisi emang jago banget buat ngeluarin petuah-petuah golden ways mario teguh, tapi disisi lain selalu jadi yang pertama keok kalau berantem. Nah, di film 'Shaolin', si ketua biksu bilang begini:
"Perasaan yang menghhantui kamu itu... jangan dilawan, jangan ditekan, tapi ikhlaskan."
Dari kata-kata tersebut, gw sadar bahwa kunci untuk menghilangkan depresi bukanlah mencari pelampiasan, tapi mengikhlaskan. Sejak nonton film tersebut, gw tobat. Gw berhenti ngebribik botol coca-cola dan kucing tetangga. Gw mulai membatasi kontak fisik dengan lawan jenis. Gw mulai belajar untuk hidup dengan cara Budha.
Karena depresi itu disebabkan oleh ketidakpuasan.
Ketidakpuasan itu disebabkan oleh keinginan.
Dan keinginan itu bisa dihilangkan selama kita ikhlas.
Gw mulai terdengar seperti Mario Teguh.
Btw, gw gak ngerti kenapa orang-orang bisa termotivasi oleh orang botak. -_-
Oleh karena itu, untuk mengurangi nilai suatu barang... kita harus mencari subtitut dari barang tersebut.
Atau dalam bahasa ilmiahnya: nyari pelampiasan.
Nah, mencari pelampiasan adalah hal yang normal dilakukan saat anda berada dalam fase depresi. Alasannya, untuk meninggalkan fase depresi, lo harus mengurangi nilai insintrik dari subjek yang membuat anda depresi. Semakin besar nilai subjek yang membuat anda depresi, maka semakin besar kualitas dan kuantitas pelampiasan yang harus didapatkan.
Ambil gw sebagai contoh... gw ga pernah tanggung-tanggung buat nyari pelampiasan. Dulu, semua objek menarik yang terdeteksi oleh radar pasti gw bribik. Bahkan, gw pernah ngegodain botol bekas Coca-cola, kucing tetangga, dan pohon rambutan di depan kos dalam satu hari yang sama. Kalimat buat godainnya sederhana: "Gw tau kita baru ketemu, tapi gw harus bilang bahwa elo adalah botol coca-cola/kucing tetangga/pohon rambutan tercantik yang pernah gw temui."
Selain membribik objek-objek random, gw juga berusaha memprospek beberapa gadis potensial untuk dijadikan gebetan baru. Tapi dalam tahap ini, ada satu masalah...
Seperti yang kalian tau, gw adalah anak muda berusia 19 tahun yang pola pikir dan kepribadiannya jauh melebih umur. Hal ini memang keren, tapi hal ini juga membawa masalah.
Ketika gw memprospek orang-orang seangkatan gw yang usianya 20-21 tahun, gw ngerasa gak cocok.
"Jih, orang-orang ini enggak asik amat sih. Pikirannya kawin, kerja, kawin, kerja. Ketuaan!"
Ketika gw memprospek adik angkatan yang usianya setara sama gw, gw juga ngerasa gak cocok.
"Jih, orang-orang ini enggak dewasa banget sih. Mbok ya agak mikirin masa depan sedikit. Kemudaan!"
Life is fucking impossible. =___=
Akhirnya, setelah banyak botol coca-cola dan kucing tak bersalah yang menjadi korban pelampiasan gw... gw mulai menemukan titik terang.
Titik terang ini gw dapet dari film 'Shaolin'. Tau kan di setiap film-film kungfu pasti ada ketua biksu yang kerjanya cuma bilang "amitabha"? Itu lohhh... ketua biksu yang disatu sisi emang jago banget buat ngeluarin petuah-petuah golden ways mario teguh, tapi disisi lain selalu jadi yang pertama keok kalau berantem. Nah, di film 'Shaolin', si ketua biksu bilang begini:
"Perasaan yang menghhantui kamu itu... jangan dilawan, jangan ditekan, tapi ikhlaskan."
Dari kata-kata tersebut, gw sadar bahwa kunci untuk menghilangkan depresi bukanlah mencari pelampiasan, tapi mengikhlaskan. Sejak nonton film tersebut, gw tobat. Gw berhenti ngebribik botol coca-cola dan kucing tetangga. Gw mulai membatasi kontak fisik dengan lawan jenis. Gw mulai belajar untuk hidup dengan cara Budha.
Karena depresi itu disebabkan oleh ketidakpuasan.
Ketidakpuasan itu disebabkan oleh keinginan.
Dan keinginan itu bisa dihilangkan selama kita ikhlas.
Gw mulai terdengar seperti Mario Teguh.
Btw, gw gak ngerti kenapa orang-orang bisa termotivasi oleh orang botak. -_-
Sabtu, 19 Mei 2012
Depression 2
Once upon a time, she kissed his cheek in front of me.
"Tega amat?" adalah reaksi pertama gw terhadap kejadian tersebut.
Bahkan saking terkejutnya gw, selama beberapa hari setelahnya, setiap ada kesempatan untuk ngobrol berdua sama cewe, gw selalu nanya "seandainya lo tau ada orang yang suka sama lo dalam satu ruangan, terus tiba-tiba pacar lo datang ke ruangan tersebut, apakah lo bakal nyium pipi pacar lo didepan orang yang suka sama lo tersebut?"
10000 dari 10000 wanita menjawab 'tidak'.
Dari hasil penelitian empiris tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa...
1. She's not a woman.
Atau.
2. She's a bitch.
Tapi coba kita tilik fenomena ini dari sisi lain. Seperti yang kita pelajari dalam filsafat komunikasi, selain secara empirisme, kita memiliki pilihan untuk memandang suatu masalah dengan paradigma rasionalisme.
Jadi, mari kita coba abaikan hasil riset terhadap 10000 wanita diatas dan coba kita fokuskan penelitian kita pada kejadian di malam itu.
Waktu itu, kita lagi ngerjain tugas kelompok. Saat sedang sibuk membagi tugas dan menganalisis masalah, tiba-tiba pacarnya dateng. Pacarnya kemudian ikut nimbrung bersama kelompok kami, ikut bercanda bercanda, hingga kemudian terjadilah insiden yang tersebut diatas.
Setelah melihat kejadian tersebut, gw memilih pindah tempat duduk ke balkon kafe. Beberapa menit kemudian, dari balkon kafe tersebut, gw melihat dia keluar bersama pacarnya. Izin makan, katanya.
Sekitar setengah jam kemudian, dia kembali.
Sendiri. Pacarnya balik.
Dia kemudian mengerjakan tugasnya dan secara konsisten melaporkan progress tugasnya ke gw. Selama proses tersebut, gw berusaha membunuh personal feeling dan memberikan penilaian dan rekomendasi yang objektif terhadap hasil kerjanya. Tapi usaha ini gak begitu berhasil, karena sepertinya sikap gw jadi terlalu dingin dan intimidatif.
Setelah tugasnya selesai, sebelum pulang tiba-tiba dia marah sama gw.
That's the thing with women, dude. Mereka yang nusuk-nusuk kita, terus mereka juga yang kemudian marah. -_-
Kalau seandainya dia yang suka sama gw, terus kemudian gw yang nyium pipi orang didepan dia, gw ngertilah dia marah kenapa.
Kalau seandainya gw yang tiba-tiba ninggalin kerja kelompok buat makan sama pacar, gw juga bisa ngerti alasan dia marah.
Lah, ini?
Kayak ada penjambret yang ngambil tas seorang ibu-ibu, terus bukannya kabur, penjambret tersebut malah balik lagi dan marahin ibu-ibu tersebut. "Ibu ini gimana sih!! Kok mau aja dijambret!!"
Untungnya, gw udah belajar Cognitive Dissonance Theory. Jadi gw ngerti alasan kenapa dia tiba-tiba marah.
Alasannya satu: dia merasa bersalah atas kedatangan pacarnya tersebut.
Dia berusaha menghapus rasa bersalahnya (menambah positive consonance) dengan cara mengerjakan tugasnya secara giat dan 'memamerkannya' ke gw, tapi karena respon gw yang terlalu dingin dan matematis, perasaan bersalahnya tersebut gak kehapus.
Akhirnya, sistem ekuilibrum mental dia runtuh oleh perasaan bersalah. Secara alamiah, ketika sistem ekuilibrum mental telah runtuh, maka manusia akan bertindak agresif dan menyalahkan sistem eksternal.
Dalam kasus ini, sistem eksternalnya gw.
It's kinda cute really. I just provoke her with one small sarcasm, and she blow the shit out of herself.
"Apaan sih man??!!! Gw kan udah ngerjain tugas gw!! @^%$^%$@#&%#@%&^!!!!!!" katanya sambil lempar-lempar pulpen.
Kemarahan dia terus berlanjut selama sepuluh atau dua puluh menit, sampai akhirnya kita turun dari kafe tersebut.
Di parkiran, saat kita tinggal berdua. Dia mengendarai motornya ke arah gw. I tought dia masih marah dan berencana untuk ngelindes gw hidup-hidup, tapi dia berhenti tepat sebelum ujung hidung motornya kena ke gw.
"Maaf ya man, tadi gw lagi capek." katanya.
"Sure," bales gw dengan nada tidak peduli.
Tapi akhirnya gw memutuskan untuk berhenti berpura-pura bahwa gw ga peduli.
"Jangan cium pipi dia depan gw." kata gw.
"Yaaaaaaaaaaaaaa," jawabnya.
Kesimpulannya?
Well... She's a bitch with guilty conscience...
And it's fucking cute. :)
Jumat, 18 Mei 2012
Depression
Ada satu plot klasik dalam romantika modern.
Plot tersebut dimulai dengan surfing di Facebook sampai menemukan wanita cantik di friendlist anda/teman anda.
Dilanjutkan dengan usaha pedekate sampai jadian.
Diakhiri dengan hubungan yang datar dan penuh ketidakpuasan, tapi gak apa-apa karena yang penting ada temen buat ngisi waktu saat selo dan ada teritori baru buat dieksplorasi.
Tamat.
Sangat dramatis dan menyentuh bukan?
I was being sarcastic.
I mean, bukankah harusnya cinta itu tumbuh dengan cara yang lebih spesial?
Yeah, di satu sisi kita gak bisa memungkiri fakta bahwa cinta itu cuma kombinasi dari hormon. Kita gak bisa mengabaikan kenyataan bahwa cinta itu cuma make-up dari nafsu alamiah manusia. Tapi disisi lain, I want to (and try to) believe that love is a magical thing. Kayak di pilem-pilem.
Hasil dari sesuatu yang dramatis, bukan hasil surfing di facebook.
That's why its always takes a while for me to fall in love. And its always takes a longer while for me to move one.
Nah, ketika gw kehilangan dia. Gw bukan cuma kehilangan seorang gebetan.
Gw juga kehilangan teman baik gw dan partner utama gw.
Hah, teman baik?
Ya, kalau dari jauh emang susah banget untuk memahami bagaimana pria dengan kepribadian seperti gw bisa berteman dengan cewe dengan kepribadian seperti dia. Enggak heran kalau kemudian banyak orang yang ngira kalau dia deketin gw cuma buat manfaatin otak gw. Enggak heran kalau kemudian banyak orang yang ngira kalau gw deketin dia cuma karena pantatnya bagus.
Tapi engga loh, kita temen beneran. -_-
Lalu, saat dia mulai pacaran dan gw sadar bahwa gw suka sama dia, tiba-tiba secara misterius kita enggak temenan lagi.
Baiklah, terus partner utama?
Ya, emang secara logika orang kayak gw gak bakal terlalu butuh partner akademis buat menamatkan kuliah di komunikasi. Tapi faktanya, gw selalu lebih efektif kalau di sisi gw ada dia. Dia ambisius, disiplin, dan perfeksionis. Selalu bisa nyeret gw dari zona kemalasan dan merangsang gw untuk mengaktifkan sebanyak mungkin sel otak saat menyelesaikan tugas. Tanpa dia, mungkin gw bakal menyia-nyiakan otak gw kaya waktu smp dan sma.
Saat dia mulai pacaran, tiba-tiba sisi ambisius, disiplin, dan perfeksionis dia saat kuliah menghilang.
Well, bukan salah dia juga... Siapa sih yang bakal peduli sama kuliah kalau calon suami di masa depan udah bisa ngasih makan delapan turunan?
Yang lucu adalah, suatu hari dia mengeluh "nilai gw semester ini ancur nih,"
Gw menjawab dengan mata yang menyipit,
"bitch please, nilai lo rusak gara-gara kebanyakan maen sama pacar lo. Nilai gw rusak gara-gara lo tinggal."
Kesimpulannya, gw kehilangan gebetan, teman baik, dan partner dalam satu waktu.
Pesan moral yang dapat kita ambil?
Satu, jangan pernah jatuh cinta sama teman baik kamu.
Dua, jangan jadikan cewe paling cantik di kelas lo sebagai teman baik. Chances are, you'll fall for her eventually. -___-
Akhirnya, di fase depression ini gw sempat jatuh ke satu titik dimana gw berharap gw ga pernah jatuh cinta sama dia. Karena bahkan setelah semua kegalauan yang dia berikan, gw masih kangen temen baik dan partner gw.
Seperti yang dibilang oleh Frente...
Whenever I got this way, I just don't know what to say.
Why can't we be ourselves like we were yesterday?
Plot tersebut dimulai dengan surfing di Facebook sampai menemukan wanita cantik di friendlist anda/teman anda.
Dilanjutkan dengan usaha pedekate sampai jadian.
Diakhiri dengan hubungan yang datar dan penuh ketidakpuasan, tapi gak apa-apa karena yang penting ada temen buat ngisi waktu saat selo dan ada teritori baru buat dieksplorasi.
Tamat.
Sangat dramatis dan menyentuh bukan?
I was being sarcastic.
I mean, bukankah harusnya cinta itu tumbuh dengan cara yang lebih spesial?
Yeah, di satu sisi kita gak bisa memungkiri fakta bahwa cinta itu cuma kombinasi dari hormon. Kita gak bisa mengabaikan kenyataan bahwa cinta itu cuma make-up dari nafsu alamiah manusia. Tapi disisi lain, I want to (and try to) believe that love is a magical thing. Kayak di pilem-pilem.
Hasil dari sesuatu yang dramatis, bukan hasil surfing di facebook.
That's why its always takes a while for me to fall in love. And its always takes a longer while for me to move one.
Nah, ketika gw kehilangan dia. Gw bukan cuma kehilangan seorang gebetan.
Gw juga kehilangan teman baik gw dan partner utama gw.
Hah, teman baik?
Ya, kalau dari jauh emang susah banget untuk memahami bagaimana pria dengan kepribadian seperti gw bisa berteman dengan cewe dengan kepribadian seperti dia. Enggak heran kalau kemudian banyak orang yang ngira kalau dia deketin gw cuma buat manfaatin otak gw. Enggak heran kalau kemudian banyak orang yang ngira kalau gw deketin dia cuma karena pantatnya bagus.
Tapi engga loh, kita temen beneran. -_-
Lalu, saat dia mulai pacaran dan gw sadar bahwa gw suka sama dia, tiba-tiba secara misterius kita enggak temenan lagi.
Baiklah, terus partner utama?
Ya, emang secara logika orang kayak gw gak bakal terlalu butuh partner akademis buat menamatkan kuliah di komunikasi. Tapi faktanya, gw selalu lebih efektif kalau di sisi gw ada dia. Dia ambisius, disiplin, dan perfeksionis. Selalu bisa nyeret gw dari zona kemalasan dan merangsang gw untuk mengaktifkan sebanyak mungkin sel otak saat menyelesaikan tugas. Tanpa dia, mungkin gw bakal menyia-nyiakan otak gw kaya waktu smp dan sma.
Saat dia mulai pacaran, tiba-tiba sisi ambisius, disiplin, dan perfeksionis dia saat kuliah menghilang.
Well, bukan salah dia juga... Siapa sih yang bakal peduli sama kuliah kalau calon suami di masa depan udah bisa ngasih makan delapan turunan?
Yang lucu adalah, suatu hari dia mengeluh "nilai gw semester ini ancur nih,"
Gw menjawab dengan mata yang menyipit,
"bitch please, nilai lo rusak gara-gara kebanyakan maen sama pacar lo. Nilai gw rusak gara-gara lo tinggal."
Kesimpulannya, gw kehilangan gebetan, teman baik, dan partner dalam satu waktu.
Pesan moral yang dapat kita ambil?
Satu, jangan pernah jatuh cinta sama teman baik kamu.
Dua, jangan jadikan cewe paling cantik di kelas lo sebagai teman baik. Chances are, you'll fall for her eventually. -___-
Akhirnya, di fase depression ini gw sempat jatuh ke satu titik dimana gw berharap gw ga pernah jatuh cinta sama dia. Karena bahkan setelah semua kegalauan yang dia berikan, gw masih kangen temen baik dan partner gw.
Seperti yang dibilang oleh Frente...
Whenever I got this way, I just don't know what to say.
Why can't we be ourselves like we were yesterday?
Kamis, 17 Mei 2012
Interlude
Udah liat film Zombieland? Filmnya lumayan. Engga spesial, tapi engga ngebosenin.Yang pasti, hal yang paling menarik dari film ini adalah kalimat penutupnya:
"There's only one secret to survive Zombieland. Enjoy the little thing."
Dan ternyata, saudara-saudara, enjoy the little thing adalah kalimat sakti yang dapat membantu anda untuk dalam kondisi apapun.
Salah satunya... saat anda berusaha mendapatkan gadis yang terlalu sulit untuk didapatkan.
Gw pernah nonton sebuah serial TV bernama "Raising Hope". Dalam film ini, diceritakan ada seorang pria yang jantuh cinta pada gadis cantik... yang sudah memiliki pacar.
Seiring dengan berjalannya waktu, pria tersebut akhirnya berhasil membujuk sang gadis untuk bermain ke rumahnya.
Saat sedang asik mengobrol, gadis tersebut mendapatkan panggilan telepon dari pacarnya. Namun, bukannya mengangkat telepon tersebut, sang gadis malah menekan tombol 'ignore'.
Setelah menyaksikan hal tersebut, sang pria langsung kegirangan. Ia berlari ke dapur untuk bercerita pada ibunya.
"Ibu, tadi pacarnya dia nelpon, tapi sama dia enggak diangkat. Huah. Apa maksudnya ini? Apa yang harus saya lakukan sekarang? Uwaaa aku bahagiaa" :D
Yeap, mate. Enjoy the little thing.
Nikmati momen-momen kecil seperti saat dia berhenti bbm-an sama pacarnya buat ngobrol sama kamu, saat dia duduk di sebelah kamu, saat terjadi kontak fisik yang tidak disengaja, saat kamu bisa nyium bau parfum atau shampo dia, saat dia buru-buru menyudahi telepon dari pacarnya gara-gara gak enak sama kamu, dan semacamnya. Karena kalau kamu kehilangan kemampuan untuk menikmati hal-hal tersebut, kamu bisa mati gila karena depresi dan frustasi.
Gak usahlah diinget-inget bahwa dia ngabisin lebih banyak waktunya sama pacarnya dibanding sama kamu.
Gak usahlah memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi saat dia dan pacarnya cuma berdua doang.
Resepnya sederhana kok. Fuck the big stuff. Enjoy the little thing.
Btw lanjutan dari kisah tadi. Ibu dari pria tersebut memberi saran yang sederhana.
"Cium dia. Kalau tidak cepat-cepat kamu cium, kamu bakal di friendzone."
Akhirnya pria tersebut kembali duduk disamping si gadis. Namun, belum juga menemukan momen yang tepat untuk ciuman, gadis tersebut berkata "menyenangkan deh berteman sama kamu."
Berteman...
TEMAN...
Mendengar perkataan gadis tersebut, Ibu dari sang pria hanya terkekeh sambil berteriak dari dapur.
"Kamu menunggu terlalu lama! Makan tu friendzone!"
"There's only one secret to survive Zombieland. Enjoy the little thing."
Dan ternyata, saudara-saudara, enjoy the little thing adalah kalimat sakti yang dapat membantu anda untuk dalam kondisi apapun.
Salah satunya... saat anda berusaha mendapatkan gadis yang terlalu sulit untuk didapatkan.
Gw pernah nonton sebuah serial TV bernama "Raising Hope". Dalam film ini, diceritakan ada seorang pria yang jantuh cinta pada gadis cantik... yang sudah memiliki pacar.
Seiring dengan berjalannya waktu, pria tersebut akhirnya berhasil membujuk sang gadis untuk bermain ke rumahnya.
Saat sedang asik mengobrol, gadis tersebut mendapatkan panggilan telepon dari pacarnya. Namun, bukannya mengangkat telepon tersebut, sang gadis malah menekan tombol 'ignore'.
Setelah menyaksikan hal tersebut, sang pria langsung kegirangan. Ia berlari ke dapur untuk bercerita pada ibunya.
"Ibu, tadi pacarnya dia nelpon, tapi sama dia enggak diangkat. Huah. Apa maksudnya ini? Apa yang harus saya lakukan sekarang? Uwaaa aku bahagiaa" :D
Yeap, mate. Enjoy the little thing.
Nikmati momen-momen kecil seperti saat dia berhenti bbm-an sama pacarnya buat ngobrol sama kamu, saat dia duduk di sebelah kamu, saat terjadi kontak fisik yang tidak disengaja, saat kamu bisa nyium bau parfum atau shampo dia, saat dia buru-buru menyudahi telepon dari pacarnya gara-gara gak enak sama kamu, dan semacamnya. Karena kalau kamu kehilangan kemampuan untuk menikmati hal-hal tersebut, kamu bisa mati gila karena depresi dan frustasi.
Gak usahlah diinget-inget bahwa dia ngabisin lebih banyak waktunya sama pacarnya dibanding sama kamu.
Gak usahlah memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi saat dia dan pacarnya cuma berdua doang.
Resepnya sederhana kok. Fuck the big stuff. Enjoy the little thing.
Btw lanjutan dari kisah tadi. Ibu dari pria tersebut memberi saran yang sederhana.
"Cium dia. Kalau tidak cepat-cepat kamu cium, kamu bakal di friendzone."
Akhirnya pria tersebut kembali duduk disamping si gadis. Namun, belum juga menemukan momen yang tepat untuk ciuman, gadis tersebut berkata "menyenangkan deh berteman sama kamu."
Berteman...
TEMAN...
Mendengar perkataan gadis tersebut, Ibu dari sang pria hanya terkekeh sambil berteriak dari dapur.
"Kamu menunggu terlalu lama! Makan tu friendzone!"
Rabu, 16 Mei 2012
Bargain 4
Alkisah, ada satu tes kepribadian yang merubah jalan hidup gw selamanya.
Waktu itu, di sebuah kafe, gw seperti biasa memimpin teman-teman gw -salah satunya dia- untuk mengerjakan sebuah tugas kelompok. Waktu itu hujan dan gw lagi stress dan pusing parah gara-gara capek setelah kerja seharian. Sebelum kerja kelompok, gw ngerokok tiga batang Gudang Garam buat ngejernihin otak. Yah, efeknya lumayan. Stress dan pusingnya gak ilang, tapi seengaknya ada tambahan kekuatan mental buat beresin tugas.
Setelah tugasnya selesai, tiga orang teman gw pulang, satu orang teman gw ketemuan sama selingkuhannya, dan satu orang lagi tetap ditempat tersebut untuk menunggu dijemput pacarnya.
Bisa ditebak, orang yang tadi terakhir disebut itu 'dia'. (-_-) Tinggallah gw duduk berdua dengan dia, ditengah rintik-rintik hujan, ditempat duduk luar, ditengah gelap malam.
For your information, saat itu kampanye gw untuk mendapatkan dia tengah berjalan. Kadang gw berhasil mencuri kemenangan-kemenangan kecil, tapi secara keseluruhan, kampanye tersebut adalah kampanye yang penuh dengan aksi keren... dan kegagalan. Ada waktu-waktu dimana gw berhasil menjebol benteng hatinya dia, tapi dalam waktu singkat benteng tersebut akan memperbaiki diri sendiri. Ada hari dimana jarak kita deket banget, terus tiba-tiba besoknya dia mulai jaga jarak lagi. Hal ini, terus terang, bikin capek.
Nah, waktu duduk berdua di kafe tersebut, gw sedang berada dalam titik capek yang sangat tinggi.
Untuk menghabiskan waktu, gw kemudian ngajak dia maen sebuah tes kepribadian yang baru gw pelajari dari seorang bule Australia beberapa jam sebelumnya.
Pertama, pilih sebuah warna dan tulis tiga kata sifat dari warna tersebut. Dia pilih merah, gw lupa kata sifat yang dia pilih. Kata sifat yang dia pilih ini mendeskripsikan karakter lo yang sebenernya.
Kedua, pilih sebuah binatang dan tulis tiga kata sifat dari binatang tersebut. Dia pilih marmut, gw lupa kata sifat yang dia pilih. Kata sifat yang dia pilih di bagian ini mendeskripsikan bagaimana dia ingin dirinya dipandang oleh orang lain.
Ketiga, pilih sebuah bentuk air yang kamu suka dan tulis tiga kata sifat dari bentuk air tersebut. Dia pilih hujan. Kata sifat yang dia pilih di bagian ini mendeskripsikan kondisi hubungan romansa dia.
Dan gw inget banget jawabannya.
Inget banget.
...
...
...
Boong deng, gw lupa. Pokoknya tiga kata sifat itu bagus semua. Hubungan antara dia dan pacarnya itu cuma ada sisi positifnya doang.
Tentu saja gw cuma bisa menghela nafas ngeliat hasil ini, tersenyum pait, dan bilang "selamat ya" tanpa antusiasme.
Terus gw kasih tahu hasil gw dalam tes kepribadian tersebut.
Warna yang gw pilih, melambangkan karakteristik sejati gw, adalah orange. Kata sifat yang gw tulis adalah santai, ceria, dan satu lagi gw lupa.
Binatang yang gw pilih, melambangkan bagaimana gw dilihat sama orang lain, adalah serilaga. Kata sifat yang gw tulis adalah cerdas, tajam, dan intimidatif.
Bentuk air yang gw pilih, melambangkan kondisi hubungan romansa gw (sama dia, tentunya), adalah hujan. Kata sifat yang gw tulis adalah suram... dingin... *disini gw kasih jeda sebentar* tapi menyegarkan.
Dia senyum gak enak.
Pacarnya dateng. Naek mobil warna merah. (Gw gak pernah ngerti merek atau tipe mobil, -_-)
Dia pamit pulang. Ketika dia berdiri dan beranjak pergi, dengan gestur yang lemah gw memohon.
"Lo gak bakal meluk gw?"
She hesitate. Ngebalik sebentar, tap kemudian dia nerusin jalan ke mobil pacarnya.
Tinggalah gw sendiri di kafe tersebut. Gw ngambil satu batang rokok buat menetralisir emosi negatif, tapi sebelum gw nyalain, ada sel otak yang bertanya, "kamu ngapain?"
Ngapain ngerokok? Biar emosi tetep stabil saat ngejar dia.
Ngapain ngejar-ngejar dia? Karena...
Ngapain? Karena...
Hari itu gw berhenti ngerokok.
Hari itu juga, fase bargain berakhir.
Waktu itu, di sebuah kafe, gw seperti biasa memimpin teman-teman gw -salah satunya dia- untuk mengerjakan sebuah tugas kelompok. Waktu itu hujan dan gw lagi stress dan pusing parah gara-gara capek setelah kerja seharian. Sebelum kerja kelompok, gw ngerokok tiga batang Gudang Garam buat ngejernihin otak. Yah, efeknya lumayan. Stress dan pusingnya gak ilang, tapi seengaknya ada tambahan kekuatan mental buat beresin tugas.
Setelah tugasnya selesai, tiga orang teman gw pulang, satu orang teman gw ketemuan sama selingkuhannya, dan satu orang lagi tetap ditempat tersebut untuk menunggu dijemput pacarnya.
Bisa ditebak, orang yang tadi terakhir disebut itu 'dia'. (-_-) Tinggallah gw duduk berdua dengan dia, ditengah rintik-rintik hujan, ditempat duduk luar, ditengah gelap malam.
For your information, saat itu kampanye gw untuk mendapatkan dia tengah berjalan. Kadang gw berhasil mencuri kemenangan-kemenangan kecil, tapi secara keseluruhan, kampanye tersebut adalah kampanye yang penuh dengan aksi keren... dan kegagalan. Ada waktu-waktu dimana gw berhasil menjebol benteng hatinya dia, tapi dalam waktu singkat benteng tersebut akan memperbaiki diri sendiri. Ada hari dimana jarak kita deket banget, terus tiba-tiba besoknya dia mulai jaga jarak lagi. Hal ini, terus terang, bikin capek.
Nah, waktu duduk berdua di kafe tersebut, gw sedang berada dalam titik capek yang sangat tinggi.
Untuk menghabiskan waktu, gw kemudian ngajak dia maen sebuah tes kepribadian yang baru gw pelajari dari seorang bule Australia beberapa jam sebelumnya.
Pertama, pilih sebuah warna dan tulis tiga kata sifat dari warna tersebut. Dia pilih merah, gw lupa kata sifat yang dia pilih. Kata sifat yang dia pilih ini mendeskripsikan karakter lo yang sebenernya.
Kedua, pilih sebuah binatang dan tulis tiga kata sifat dari binatang tersebut. Dia pilih marmut, gw lupa kata sifat yang dia pilih. Kata sifat yang dia pilih di bagian ini mendeskripsikan bagaimana dia ingin dirinya dipandang oleh orang lain.
Ketiga, pilih sebuah bentuk air yang kamu suka dan tulis tiga kata sifat dari bentuk air tersebut. Dia pilih hujan. Kata sifat yang dia pilih di bagian ini mendeskripsikan kondisi hubungan romansa dia.
Dan gw inget banget jawabannya.
Inget banget.
...
...
...
Boong deng, gw lupa. Pokoknya tiga kata sifat itu bagus semua. Hubungan antara dia dan pacarnya itu cuma ada sisi positifnya doang.
Tentu saja gw cuma bisa menghela nafas ngeliat hasil ini, tersenyum pait, dan bilang "selamat ya" tanpa antusiasme.
Terus gw kasih tahu hasil gw dalam tes kepribadian tersebut.
Warna yang gw pilih, melambangkan karakteristik sejati gw, adalah orange. Kata sifat yang gw tulis adalah santai, ceria, dan satu lagi gw lupa.
Binatang yang gw pilih, melambangkan bagaimana gw dilihat sama orang lain, adalah serilaga. Kata sifat yang gw tulis adalah cerdas, tajam, dan intimidatif.
Bentuk air yang gw pilih, melambangkan kondisi hubungan romansa gw (sama dia, tentunya), adalah hujan. Kata sifat yang gw tulis adalah suram... dingin... *disini gw kasih jeda sebentar* tapi menyegarkan.
Dia senyum gak enak.
Pacarnya dateng. Naek mobil warna merah. (Gw gak pernah ngerti merek atau tipe mobil, -_-)
Dia pamit pulang. Ketika dia berdiri dan beranjak pergi, dengan gestur yang lemah gw memohon.
"Lo gak bakal meluk gw?"
She hesitate. Ngebalik sebentar, tap kemudian dia nerusin jalan ke mobil pacarnya.
Tinggalah gw sendiri di kafe tersebut. Gw ngambil satu batang rokok buat menetralisir emosi negatif, tapi sebelum gw nyalain, ada sel otak yang bertanya, "kamu ngapain?"
Ngapain ngerokok? Biar emosi tetep stabil saat ngejar dia.
Ngapain ngejar-ngejar dia? Karena...
Ngapain? Karena...
Hari itu gw berhenti ngerokok.
Hari itu juga, fase bargain berakhir.
Selasa, 15 Mei 2012
Interlude (lagi)
Apa fungsi tidur? Menurut mereka, setidaknya ada enam alasan untuk tidur berkecukupan. Yaitu:
- Learning and memory: Sleep helps the brain commit new information to memory through a process called memory consolidation. In studies, people who’d slept after learning a task did better on tests later.
- Metabolism and weight: Chronic sleep deprivation may cause weight gain by affecting the way our bodies process and store carbohydrates, and by altering levels of hormones that affect our appetite.
- Safety: Sleep debt contributes to a greater tendency to fall asleep during the daytime. These lapses may cause falls and mistakes such as medical errors, air traffic mishaps, and road accidents.
- Mood: Sleep loss may result in irritability, impatience, inability to concentrate, and moodiness. Too little sleep can also leave you too tired to do the things you like to do.
- Cardiovascular health: Serious sleep disorders have been linked to hypertension, increased stress hormone levels, and irregular heartbeat.
- Disease: Sleep deprivation alters immune function, including the activity of the body’s killer cells. Keeping up with sleep may also help fight cancer.
Senin, 14 Mei 2012
Interlude
Ada sebuah aplikasi mobile bernama 'know yourself'. Aplikasi ini memiliki konsep yang sederhana, yakni kumpulan dari bebagai macam kuis tentang kepribadian. Simpel, klise, tapi sangat fungsional.
Tadi, kebetulan gw berkesempatan untuk mencoba aplikasi ini. Ada dua kuis kepribadian yang gw ambil, yaitu 'apakah kamu pemarah?' dan 'apakah kamu stress?'.
Well, nenek-nenek gayung juga tau jawaban dua pertanyaan ini -apalagi pertanyaan kedua. Ya, gw pemarah. Ya, gw sangat stress. Gw terlalu banyak memikirkan hal-hal kecil, gw mudah terganggu, gw sangat sensitif, gw terlalu banyak kerja, gw ga punya tempat bersandar, tidur gw gak berkualitas, dan masih banyak lagi indikator stress yang tersemat dalam kehidupan gw.
Kadang gw merasa kaya Bruce Banner alias Hulk. Terutama saat dia bilang kata-kata paling keren sepanjang film Avengers:
"That's my secret, captain. I'm always angry."
But wait... Bruce Banner alias Hulk akan menjadi lebih tangguh dan efektif saat dia melepaskan kemarahannya. Sementara gw akan terkapar tidak berdaya di kasur kalau kemarahan gw gak bisa gw kontrol lagi. Jadi mungkin gw bukan Bruce Banner. Hmmm...
I'll let you decide, then... Menurut anda, anggota Avenger manakah yang paling cocok dengan saya?
A. Tony Stark alias Iron Man. Sosok 'likeable asshole'. Selalu bertindak menyebalkan dan semau sendiri, tapi keberadaannya tetap dibutuhkan. Tangguh, cerdas, individualis, narsis, dan playboy.
B. Steve Rogers alias Captain Amerika. Sosok pemimpin yang kaku. Kekuatan sebenarnya gak terlalu besar, tapi ada dukungan dari teman-teman yang memiliki karakter dan spesialisasi masing-masing. Kekuatan 'super'-nya justru adalah kemampuan untuk mengatur teman-teman tersebut menjadi sebuah tim yang solid.
C. Natasha alias Black Widow. No, nevermind. Pasti bukan cewe yang ahli memanfaatkan pesona diri untuk memanipulasi situasi ini.
D. Thor. Sosok yang tidak terlalu cerdas tapi kuat. Sangat peduli pada nilai-nilai 'old-school' seperti 'jiwa ksatria', 'harga diri', 'kebijaksanaan', dan lain-lain.
E. Hawkeye. Sosok yang berdiri di menara paling tinggi. Paling handal dalam mengawasi dan menilai situasi, untuk kemudian memberikan tindakan-tindakan pendukung yang sederhana tapi efektif.
Ayo dipilih... Terutama buat anda sendiri. Siapakah tokoh Avenger yang paling sesuai dengan anda?
Tadi, kebetulan gw berkesempatan untuk mencoba aplikasi ini. Ada dua kuis kepribadian yang gw ambil, yaitu 'apakah kamu pemarah?' dan 'apakah kamu stress?'.
Well, nenek-nenek gayung juga tau jawaban dua pertanyaan ini -apalagi pertanyaan kedua. Ya, gw pemarah. Ya, gw sangat stress. Gw terlalu banyak memikirkan hal-hal kecil, gw mudah terganggu, gw sangat sensitif, gw terlalu banyak kerja, gw ga punya tempat bersandar, tidur gw gak berkualitas, dan masih banyak lagi indikator stress yang tersemat dalam kehidupan gw.
Kadang gw merasa kaya Bruce Banner alias Hulk. Terutama saat dia bilang kata-kata paling keren sepanjang film Avengers:
"That's my secret, captain. I'm always angry."
But wait... Bruce Banner alias Hulk akan menjadi lebih tangguh dan efektif saat dia melepaskan kemarahannya. Sementara gw akan terkapar tidak berdaya di kasur kalau kemarahan gw gak bisa gw kontrol lagi. Jadi mungkin gw bukan Bruce Banner. Hmmm...
I'll let you decide, then... Menurut anda, anggota Avenger manakah yang paling cocok dengan saya?
A. Tony Stark alias Iron Man. Sosok 'likeable asshole'. Selalu bertindak menyebalkan dan semau sendiri, tapi keberadaannya tetap dibutuhkan. Tangguh, cerdas, individualis, narsis, dan playboy.
B. Steve Rogers alias Captain Amerika. Sosok pemimpin yang kaku. Kekuatan sebenarnya gak terlalu besar, tapi ada dukungan dari teman-teman yang memiliki karakter dan spesialisasi masing-masing. Kekuatan 'super'-nya justru adalah kemampuan untuk mengatur teman-teman tersebut menjadi sebuah tim yang solid.
C. Natasha alias Black Widow. No, nevermind. Pasti bukan cewe yang ahli memanfaatkan pesona diri untuk memanipulasi situasi ini.
D. Thor. Sosok yang tidak terlalu cerdas tapi kuat. Sangat peduli pada nilai-nilai 'old-school' seperti 'jiwa ksatria', 'harga diri', 'kebijaksanaan', dan lain-lain.
E. Hawkeye. Sosok yang berdiri di menara paling tinggi. Paling handal dalam mengawasi dan menilai situasi, untuk kemudian memberikan tindakan-tindakan pendukung yang sederhana tapi efektif.
Ayo dipilih... Terutama buat anda sendiri. Siapakah tokoh Avenger yang paling sesuai dengan anda?
Minggu, 13 Mei 2012
Bargain 3
Dulu, jaman dia sekolah masih pakai seragam, dia pernah selingkuh.
Setelah putus dari pacar yang dia selingkuhi tersebut, dia pacaran sama seseorang yang ganteng. Ironisnya, ternyata si pacar ganteng tersebut selingkuh juga. Gak tanggung-tanggung: dari satu tahun masa pacaran, si pacar ganteng selingkuh selama enam bulan.
Dari pengalaman tersebut, dia belajar dua hal.
Pertama, karma itu ada. Kalau lo selingkuh, maka lo bakal diselingkuhi.
Kedua, jangan pacaran sama orang ganteng. Karena itulah, dalam recent history-nya kita tidak dapat menemukan satupun wajah tampan.
Bagaimana menurut anda tentang sikapnya ini? Layak dicontoh? Layak diapresiasi? Atau terdengar bodoh? Apapun pendapat anda, yang pasti sikapnya ini bikin proses bargain gw menjadi lebih sulit.
Terutama poin nomer dua. ;)
I don't think it's wise to write a long post when everyone's attention is directed on EPL. I'll continue tomorrow.
Setelah putus dari pacar yang dia selingkuhi tersebut, dia pacaran sama seseorang yang ganteng. Ironisnya, ternyata si pacar ganteng tersebut selingkuh juga. Gak tanggung-tanggung: dari satu tahun masa pacaran, si pacar ganteng selingkuh selama enam bulan.
Dari pengalaman tersebut, dia belajar dua hal.
Pertama, karma itu ada. Kalau lo selingkuh, maka lo bakal diselingkuhi.
Kedua, jangan pacaran sama orang ganteng. Karena itulah, dalam recent history-nya kita tidak dapat menemukan satupun wajah tampan.
Bagaimana menurut anda tentang sikapnya ini? Layak dicontoh? Layak diapresiasi? Atau terdengar bodoh? Apapun pendapat anda, yang pasti sikapnya ini bikin proses bargain gw menjadi lebih sulit.
Terutama poin nomer dua. ;)
I don't think it's wise to write a long post when everyone's attention is directed on EPL. I'll continue tomorrow.
Sabtu, 12 Mei 2012
Interlude
Ada beberapa orang yang menemani gw selama galau.
1. Maroon 5
I must have been a fool to love you so hard for so long
So much stronger than before but so much harder to move on
Now the bitter chill of winter still moves through me like a plague
Only to wake up in an empty bed on a perfect summers day
My world just feels so cold
And you find yourself walking down the wrong side of the road, oh
I cant lie, you’re on my mind, stuck inside my head
I wanna feel your heart beat for me instead
I just died so much inside now that you’re not there
I wanna feel your heart beat like yesterday
I never did my best to express how I really felt
And now that I know exactly what I want you’ve found somebody else
2. Owl City
When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I'll taste the sky and feel alive again
And I'll forget the world that I knew
But I swear I won't forget you
Oh, if my voice could reach
Back through the past
I'd whisper in your ear
Oh darling, I wish you were here
3. Jason Mraz
And it's okay if you have go away
Oh just remember the telephone works both ways
And if I never ever hear them ring
If nothing else I'll think the bells inside
Have finally found you someone else and that's okay
Cause I'll remember everything you sang
4. Panic at the Disco
Waking up to a kiss and you're on your way
I really hope that you would stay
But you left and went your own way, babe
I don't mind, take your time, I've got things to do
Besides sit around and wait for you
Oh, and I hope you do too, oh
You fooled me once with your eyes now, honey
You fooled me twice with your lies and I say
Sarah smiles like Sarah doesn't care
She lives in her world so unaware
Does she know that my destiny lies with her?
5. Chairil Anwar
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Terimakasih.
1. Maroon 5
I must have been a fool to love you so hard for so long
So much stronger than before but so much harder to move on
Now the bitter chill of winter still moves through me like a plague
Only to wake up in an empty bed on a perfect summers day
My world just feels so cold
And you find yourself walking down the wrong side of the road, oh
I cant lie, you’re on my mind, stuck inside my head
I wanna feel your heart beat for me instead
I just died so much inside now that you’re not there
I wanna feel your heart beat like yesterday
I never did my best to express how I really felt
And now that I know exactly what I want you’ve found somebody else
2. Owl City
When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I'll taste the sky and feel alive again
And I'll forget the world that I knew
But I swear I won't forget you
Oh, if my voice could reach
Back through the past
I'd whisper in your ear
Oh darling, I wish you were here
3. Jason Mraz
And it's okay if you have go away
Oh just remember the telephone works both ways
And if I never ever hear them ring
If nothing else I'll think the bells inside
Have finally found you someone else and that's okay
Cause I'll remember everything you sang
4. Panic at the Disco
Waking up to a kiss and you're on your way
I really hope that you would stay
But you left and went your own way, babe
I don't mind, take your time, I've got things to do
Besides sit around and wait for you
Oh, and I hope you do too, oh
You fooled me once with your eyes now, honey
You fooled me twice with your lies and I say
Sarah smiles like Sarah doesn't care
She lives in her world so unaware
Does she know that my destiny lies with her?
5. Chairil Anwar
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Terimakasih.
Jumat, 11 Mei 2012
Bargain 2
Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh para non-perokok adalah, "apa enaknya sih ngerokok?"
Jawabannya satu. Enak.
Tapi enak disini tidak bisa ditafsirkan secara harafiah semata. Beberapa rokok memang rasanya kayak lolipop -manis dan harganya seribuan- tapi banyak rokok lain yang rasanya pait blas.
Lalu kenapa ada orang yang suka sama rokok pait blas tersebut?
Karena rokok pait blas adalah barang yang dapat meringankan beban hidup. Sama seperti doa atau tuhan, tapi lebih praktis.
Dulu ada penelitian yang menunjukan bahwa wanita lebih memilih mengkonsumsi rokok berat (rokok pait blas) daripada rokok ringan (rokok lolipop). Padahal, produsen rokok awalnya merilis produk rokok lolipop buat wanita. Hasil penelitian ini sempat membuat bingung dunia persilatan.
Tapi sebenarnya alasannya sederhana. Wanita merokok karena mereka butuh sesuatu untuk meringankan beban hidup. Karena kalau mereka gak ngerokok, mereka bisa depresi dan bunuh diri. Sementara banyak pria yang merokok cuma buat bakar duit atau gaya-gayaan. Pria-pria seperti ini biasanya lari ke arah rokok lolipop. Oleh karena itulah rokok lolipop lebih banyak dikonsumsi oleh pria.
Beberapa bulan yang lalu, gw belajar buat ngerokok.
Awalnya iseng. Ada temen yang nawarin rokok, terus sisi keren dalam jiwa gw menyambut dengan tangan terbuka. Biasanya gw nolak, tapi waktu itu gw berada di fase anger sehingga ego dan superego mengalah dan id berkata dengan lantang: "Let's try this shit. You're already fucked anyway."
Awalnya cuma marlboro light. Bukan rokok lolipop, tapi bukan rokok berat blas juga.
Sejak saat itu, gw selalu dikasih rokok sama temen gw tersebut setiap ketemu. Sampai suatu hari, ada orang lain yang nawarin Gudang Garam.
Pas pertama kali nyoba, gw tau bahwa GG ini adalah partner yang gw butuhin. Rokoknya berat blas. Rasanya pait blas. Wanginya enak blas. Dengan kandungan tar dan nikotin yang jauh diatas rokok rata-rata, GG memiliki kemampuan menenangkan pikiran dan menetralisir emosi yang sangat tinggi.
Kemampuan inilah yang gw butuhin.
Waktu gw mulai nyoba GG, gw sedang berada dalam fase yang asburd. Di satu sisi, setelah peristiwa ini, gw tau masih ada harapan buat dapetin 'the one that get away'. Tapi masalahnya, saat itu gw sangat sensitif, sangat emosional, dan sangat mudah galau. Sementara untuk bisa memulai kampanye untuk mendapatkan dia kembali, emosi gw harus stabil.
Makanya saat ketemu GG, gw seneng banget. Inilah stabilizer emosi yang gw butuhin.
Sambil nyalain rokok, gw berpikir.
Gw mungkin gak kaya... gak punya mobil... heck, bahkan saat itu gw ga punya motor. Tapi gw tetep salah satu orang terkeren di dunia, kan?
Seiring dengan hembusan asap pertama, gw tersenyum sinis dan berbisik pada diri sendiri.
"Game on,"
Jawabannya satu. Enak.
Tapi enak disini tidak bisa ditafsirkan secara harafiah semata. Beberapa rokok memang rasanya kayak lolipop -manis dan harganya seribuan- tapi banyak rokok lain yang rasanya pait blas.
Lalu kenapa ada orang yang suka sama rokok pait blas tersebut?
Karena rokok pait blas adalah barang yang dapat meringankan beban hidup. Sama seperti doa atau tuhan, tapi lebih praktis.
Dulu ada penelitian yang menunjukan bahwa wanita lebih memilih mengkonsumsi rokok berat (rokok pait blas) daripada rokok ringan (rokok lolipop). Padahal, produsen rokok awalnya merilis produk rokok lolipop buat wanita. Hasil penelitian ini sempat membuat bingung dunia persilatan.
Tapi sebenarnya alasannya sederhana. Wanita merokok karena mereka butuh sesuatu untuk meringankan beban hidup. Karena kalau mereka gak ngerokok, mereka bisa depresi dan bunuh diri. Sementara banyak pria yang merokok cuma buat bakar duit atau gaya-gayaan. Pria-pria seperti ini biasanya lari ke arah rokok lolipop. Oleh karena itulah rokok lolipop lebih banyak dikonsumsi oleh pria.
Beberapa bulan yang lalu, gw belajar buat ngerokok.
Awalnya iseng. Ada temen yang nawarin rokok, terus sisi keren dalam jiwa gw menyambut dengan tangan terbuka. Biasanya gw nolak, tapi waktu itu gw berada di fase anger sehingga ego dan superego mengalah dan id berkata dengan lantang: "Let's try this shit. You're already fucked anyway."
Awalnya cuma marlboro light. Bukan rokok lolipop, tapi bukan rokok berat blas juga.
Sejak saat itu, gw selalu dikasih rokok sama temen gw tersebut setiap ketemu. Sampai suatu hari, ada orang lain yang nawarin Gudang Garam.
Pas pertama kali nyoba, gw tau bahwa GG ini adalah partner yang gw butuhin. Rokoknya berat blas. Rasanya pait blas. Wanginya enak blas. Dengan kandungan tar dan nikotin yang jauh diatas rokok rata-rata, GG memiliki kemampuan menenangkan pikiran dan menetralisir emosi yang sangat tinggi.
Kemampuan inilah yang gw butuhin.
Waktu gw mulai nyoba GG, gw sedang berada dalam fase yang asburd. Di satu sisi, setelah peristiwa ini, gw tau masih ada harapan buat dapetin 'the one that get away'. Tapi masalahnya, saat itu gw sangat sensitif, sangat emosional, dan sangat mudah galau. Sementara untuk bisa memulai kampanye untuk mendapatkan dia kembali, emosi gw harus stabil.
Makanya saat ketemu GG, gw seneng banget. Inilah stabilizer emosi yang gw butuhin.
Sambil nyalain rokok, gw berpikir.
Gw mungkin gak kaya... gak punya mobil... heck, bahkan saat itu gw ga punya motor. Tapi gw tetep salah satu orang terkeren di dunia, kan?
Seiring dengan hembusan asap pertama, gw tersenyum sinis dan berbisik pada diri sendiri.
"Game on,"
Kamis, 10 Mei 2012
Bargain
Pria adalah pejuang.
Kami membuat api, roda, senjata, mesin hidrolik, mesin uap, listrik, komputer, dan iPad.
Kami secara konstan menantang dunia, merubah hal-hal yang tak kami suka. Kami tak pernah betah di zona nyaman, selalu menjelajah ke zona tidak nyaman, kemudian merubah zona tersebut menjadi jajahan kami. Kami suka kompetisi, kami suka berperang, kami suka membangun.
Sebaliknya, wanita adalah peringkuk.
Wanita, dengan pengecualian yang terbatas, lebih suka meringkuk dalam zona nyamannya. Tentu saja ada banyak contoh wanita yang meretas jalan keluar dari kungkungan zona nyaman seperti Hellen Keller, Margaret Tacher, Florence Nightihale, mbak Pulung Uci dan banyak lagi. Tapi sebagian besar... I dare you to say the opposite, sebagian besar lebih suka meringkuk dalam zona nyaman.
Maybe it's the combination between the chromosome and thousand years of cultural oppression from men, or maybe it's maybelline.
Dari interaksi dengan wanita yang gw alami sejauh ini, mulai dari ibu gw sampai gebetan gw, ada satu hal yang gw pelajari: jangan pernah usik wanita dalam zona nyaman mereka.
Like seriously, JANGAN.
Kecuali... kalau... *efek flashback*
Seminggu setelah peristiwa ini, gw dan dia berada dalam fase saling mengabaikan. Gw gak bikin inisiatif untuk minta maaf, dia gak ngasih kode yang memerintahkan gw untuk minta maaf. I mean, of course dalam fase ini gw melalui countless sleepless night dihantui dengan perasaan bersalah dan rasa rindu sementara dia bersenang-senang dengan pacarnya, tapi intinya... kita saling mengabaikan.
Terus, pada suatu kamis setelah suatu kelas, tanpa disangka dia ngajak gw ngobrol. (Perilaku ini gw kasih istilah 'intervensi'. Definisi resmi intervensi adalah kejadian dimana dia mendeteksi perilaku dingin atau kebete-an gw kemudian ngajak gw ngobrol buat mencairkan perilaku gw.)
"Oke," katanya sambil memasang wajah termanisnya, "maaf minggu lalu kemarin aku lagi bad mood, tapi kamu kenapa sih?" lanjutnya.
I have to admit bahwa meskipun dia ketawanya juelek banget kaya kuda hamil diaborsi, tapi senyum, mata berbinar, dan wajah manisnya itu enggak ada yang bisa ngalahin.
"Engga kenapa-kenapa," jawab gw dengan dingin.
Dia terus mendesak, dan gw punya jawaban bagus yang bisa bikin melting sebenernya, tapi ini agak berbaya. Gw pengen teriak:
"GW BETE GARA-GARA GW CUMA BISA TIDUR DI SEBELAH LO PAS KEMAREN DOANG SEMENTARA ADA ORANG LAIN YANG KELAK BAKAL BISA TIDUR DI SEBELAH LO SETIAP MALEM. GW CEMBURU. GW SAYANG ELO WOI, SAYANG."
Tapi masalahnya adalah, kalimat dramatis tersebut bakal nendang dia keluar dari zona nyamannya, dan itu berbahaya. Kalau dia keluar dari zona nyaman, maka dia bisa lebih marah, dia bisa lebih iflif, dan dia bisa ninggalin gw lebih jauh. Belum saatnya itu terjadi.
Jadi gw terus menghindar "udah lah, engga usah dibahas."
Tapi dia terus mendesak dan sulit sekali bilang 'tidak' pada wajah semanis itu.
Maka akhirnya gw katakan jawaban bagus diatas, dengan bahasa yang diperhalus. Habis kata-kata itu selesai, gw merem. Kaya di film kartun dimana sang karakter melakukan sesuatu yang amat sangat salah dan ledakan yang sangat besar akan segera terjadi. "Wah, berakhir sudah," kata gw dalam hati. Apalagi, gw ga inget kapan terakhir kali gw bilang sayang sama seseorang, dan orang tersebut engga merasa ilfeel.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Gw buka sebelah mata, dan yang ada didepan gw bukanlah wajah seorang wanita yang ilfeel.
Dia... sumringhah? ceria? senang? Engga taulah, tapi intinya dia senyum dengan lebar.
"Terus gimana doooong?" katanya.
"Gak tau," kata gw singkat karena gw masih shock. Gak ada ledakan yang terjadi.
"Terus gimana donnnnngggg?" katanya lagi.
Well...
Kami membuat api, roda, senjata, mesin hidrolik, mesin uap, listrik, komputer, dan iPad.
Kami secara konstan menantang dunia, merubah hal-hal yang tak kami suka. Kami tak pernah betah di zona nyaman, selalu menjelajah ke zona tidak nyaman, kemudian merubah zona tersebut menjadi jajahan kami. Kami suka kompetisi, kami suka berperang, kami suka membangun.
Sebaliknya, wanita adalah peringkuk.
Wanita, dengan pengecualian yang terbatas, lebih suka meringkuk dalam zona nyamannya. Tentu saja ada banyak contoh wanita yang meretas jalan keluar dari kungkungan zona nyaman seperti Hellen Keller, Margaret Tacher, Florence Nightihale, mbak Pulung Uci dan banyak lagi. Tapi sebagian besar... I dare you to say the opposite, sebagian besar lebih suka meringkuk dalam zona nyaman.
Maybe it's the combination between the chromosome and thousand years of cultural oppression from men, or maybe it's maybelline.
Dari interaksi dengan wanita yang gw alami sejauh ini, mulai dari ibu gw sampai gebetan gw, ada satu hal yang gw pelajari: jangan pernah usik wanita dalam zona nyaman mereka.
Like seriously, JANGAN.
Kecuali... kalau... *efek flashback*
Seminggu setelah peristiwa ini, gw dan dia berada dalam fase saling mengabaikan. Gw gak bikin inisiatif untuk minta maaf, dia gak ngasih kode yang memerintahkan gw untuk minta maaf. I mean, of course dalam fase ini gw melalui countless sleepless night dihantui dengan perasaan bersalah dan rasa rindu sementara dia bersenang-senang dengan pacarnya, tapi intinya... kita saling mengabaikan.
Terus, pada suatu kamis setelah suatu kelas, tanpa disangka dia ngajak gw ngobrol. (Perilaku ini gw kasih istilah 'intervensi'. Definisi resmi intervensi adalah kejadian dimana dia mendeteksi perilaku dingin atau kebete-an gw kemudian ngajak gw ngobrol buat mencairkan perilaku gw.)
"Oke," katanya sambil memasang wajah termanisnya, "maaf minggu lalu kemarin aku lagi bad mood, tapi kamu kenapa sih?" lanjutnya.
I have to admit bahwa meskipun dia ketawanya juelek banget kaya kuda hamil diaborsi, tapi senyum, mata berbinar, dan wajah manisnya itu enggak ada yang bisa ngalahin.
"Engga kenapa-kenapa," jawab gw dengan dingin.
Dia terus mendesak, dan gw punya jawaban bagus yang bisa bikin melting sebenernya, tapi ini agak berbaya. Gw pengen teriak:
"GW BETE GARA-GARA GW CUMA BISA TIDUR DI SEBELAH LO PAS KEMAREN DOANG SEMENTARA ADA ORANG LAIN YANG KELAK BAKAL BISA TIDUR DI SEBELAH LO SETIAP MALEM. GW CEMBURU. GW SAYANG ELO WOI, SAYANG."
Tapi masalahnya adalah, kalimat dramatis tersebut bakal nendang dia keluar dari zona nyamannya, dan itu berbahaya. Kalau dia keluar dari zona nyaman, maka dia bisa lebih marah, dia bisa lebih iflif, dan dia bisa ninggalin gw lebih jauh. Belum saatnya itu terjadi.
Jadi gw terus menghindar "udah lah, engga usah dibahas."
Tapi dia terus mendesak dan sulit sekali bilang 'tidak' pada wajah semanis itu.
Maka akhirnya gw katakan jawaban bagus diatas, dengan bahasa yang diperhalus. Habis kata-kata itu selesai, gw merem. Kaya di film kartun dimana sang karakter melakukan sesuatu yang amat sangat salah dan ledakan yang sangat besar akan segera terjadi. "Wah, berakhir sudah," kata gw dalam hati. Apalagi, gw ga inget kapan terakhir kali gw bilang sayang sama seseorang, dan orang tersebut engga merasa ilfeel.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Gw buka sebelah mata, dan yang ada didepan gw bukanlah wajah seorang wanita yang ilfeel.
Dia... sumringhah? ceria? senang? Engga taulah, tapi intinya dia senyum dengan lebar.
"Terus gimana doooong?" katanya.
"Gak tau," kata gw singkat karena gw masih shock. Gak ada ledakan yang terjadi.
"Terus gimana donnnnngggg?" katanya lagi.
Well...
Rabu, 09 Mei 2012
Anger 3
Inget Bunga? Gebetan pertama gw waktu jaman SMP?
Bunga merupakan seorang kembang desa.
Dengan penekanan pada bagian 'desa'.
Dia tinggal di satu ujung terjauh kota Sukabumi dan bersekolah di ujung lainnya. Setiap hari dia harus berangkat pukul enam pagi dan naik angkot tiga kali agar bisa sampai ke sekolah sebelum terlambat. Tapi, yang lebih spesialnya lagi adalah...
Dia gak pernah telat kalau janjian.
Setiap ada janji temu ngumpul, dia selalu berangkat lebih awal. Akibatnya, meskipun rumahnya jauh, dia biasa datang paling duluan. Misalnya ada janji kumpul kelompok jam 10, mungkin dia berangkat jam 9 dan tiba pukul 10 tepat -sementara teman-teman yang lain datang jam setengah sebelas.
Hardcore bukan?
Coba bandingkan dengan teman-teman disekeliling anda, atau mungkin anda sendiri. Yang sering ditemukan adalah, saat ada janji temu jam sepuluh, maka orang yang rumahnya jauh baru berangkat pukul 10.30 dan alhasil baru nyampe tempat ketemu pada pukul 11.30. Ketika diomelin atau dimarahin, jawabannya satu kata:
"Jauh,"
Yea rite.. emangnya baru pindah rumah kemaren? Tau jarak tempuhnya satu jam, berangkatnya masih nelat? Are you kidding me? -_-
Dalam konteks yang lebih luas, hal ini berkaitan dengan sikap 'menghargai orang lain' dan 'gak mau merepotkan orang lain'.
Pada suatu hari, seorang teman gw ditunggu oleh adik kelasnya. Tapi bukannya buru-buru menemui sang adik kelas, teman gw tersebut malah makan dengan santai... terus solat dulu dengan santai... gak ada jejak-jejak kepedulian sama sekali buat adik kelasnya yang lagi nunggu tersebut.
Dan pertanyaannya adalah, how could somebody be 'that' selfish?
Sementara gw sendiri, yang sangat arogan dan engga pernah terlalu peduli sama orang lain, engga bisa sampai segitunya.
Katanya sih ya, itu ada hubungannya sama 'frontal lobe', bagian depan lebar dari otak. Semakin canggih frontal lobe, maka semakin besar rasa 'gak enak' sama orang lain dan semakin tinggi kemampuan untuk menghargai orang lain.
Dan sebaliknya.
Satu lagi, semakin besar frontal lobe seseorang... semakin besar jidatnya.
Tapi sebenernya, selfish itu perlu loh. Gw kadang sirik sama orang yang bisa dengan lantang mementingkan diri sendiri, orang yang bisa memandang sesuatu cuma dari perspektifnya sendiri, orang yang bisa marah-marah tanpa basis jelas kecuali emosi diri sendiri.
Karena gw ga bisa.
Gw pengen marah, tapi gw tau waktu itu dia lagi stress banget. Bulan-bulan pertama dia jadian itu neraka buat dia.
Dan gw ga punya basis logis yang jelas buat marah sama dia. I mean, siapa gw?
Makanya, mayoritas fase anger ini gw habiskan dengan sebuah permohonan tak bersuara.
"Tolong dong, kasih gw ruang buat marah sama lo."
Besok kita mulai fase ketiga. Bargain.
Bunga merupakan seorang kembang desa.
Dengan penekanan pada bagian 'desa'.
Dia tinggal di satu ujung terjauh kota Sukabumi dan bersekolah di ujung lainnya. Setiap hari dia harus berangkat pukul enam pagi dan naik angkot tiga kali agar bisa sampai ke sekolah sebelum terlambat. Tapi, yang lebih spesialnya lagi adalah...
Dia gak pernah telat kalau janjian.
Setiap ada janji temu ngumpul, dia selalu berangkat lebih awal. Akibatnya, meskipun rumahnya jauh, dia biasa datang paling duluan. Misalnya ada janji kumpul kelompok jam 10, mungkin dia berangkat jam 9 dan tiba pukul 10 tepat -sementara teman-teman yang lain datang jam setengah sebelas.
Hardcore bukan?
Coba bandingkan dengan teman-teman disekeliling anda, atau mungkin anda sendiri. Yang sering ditemukan adalah, saat ada janji temu jam sepuluh, maka orang yang rumahnya jauh baru berangkat pukul 10.30 dan alhasil baru nyampe tempat ketemu pada pukul 11.30. Ketika diomelin atau dimarahin, jawabannya satu kata:
"Jauh,"
Yea rite.. emangnya baru pindah rumah kemaren? Tau jarak tempuhnya satu jam, berangkatnya masih nelat? Are you kidding me? -_-
Dalam konteks yang lebih luas, hal ini berkaitan dengan sikap 'menghargai orang lain' dan 'gak mau merepotkan orang lain'.
Pada suatu hari, seorang teman gw ditunggu oleh adik kelasnya. Tapi bukannya buru-buru menemui sang adik kelas, teman gw tersebut malah makan dengan santai... terus solat dulu dengan santai... gak ada jejak-jejak kepedulian sama sekali buat adik kelasnya yang lagi nunggu tersebut.
Dan pertanyaannya adalah, how could somebody be 'that' selfish?
Sementara gw sendiri, yang sangat arogan dan engga pernah terlalu peduli sama orang lain, engga bisa sampai segitunya.
Katanya sih ya, itu ada hubungannya sama 'frontal lobe', bagian depan lebar dari otak. Semakin canggih frontal lobe, maka semakin besar rasa 'gak enak' sama orang lain dan semakin tinggi kemampuan untuk menghargai orang lain.
Dan sebaliknya.
Satu lagi, semakin besar frontal lobe seseorang... semakin besar jidatnya.
Tapi sebenernya, selfish itu perlu loh. Gw kadang sirik sama orang yang bisa dengan lantang mementingkan diri sendiri, orang yang bisa memandang sesuatu cuma dari perspektifnya sendiri, orang yang bisa marah-marah tanpa basis jelas kecuali emosi diri sendiri.
Karena gw ga bisa.
Gw pengen marah, tapi gw tau waktu itu dia lagi stress banget. Bulan-bulan pertama dia jadian itu neraka buat dia.
Dan gw ga punya basis logis yang jelas buat marah sama dia. I mean, siapa gw?
Makanya, mayoritas fase anger ini gw habiskan dengan sebuah permohonan tak bersuara.
"Tolong dong, kasih gw ruang buat marah sama lo."
Besok kita mulai fase ketiga. Bargain.
Selasa, 08 Mei 2012
Anger 2
Tau Harvey Dent? Dari film Batman: The Dark Knight?
Dia adalah seorang jaksa penuntut yang dikenal sebagai ksatria putih Gotham. Satu dari sedikit orang yang lurus ditengah kota yang sistemnya lumpuh oleh korupsi dan kolusi. Satu dari sedikit orang yang punya keseimbangan maksimal antara hati nurani, kecerdasan, ketampanan, dan kekuatan fisik.
Sayangnya, Joker ngebunuh satu-satunya orang yang dicintai Dent. Pada saat yang bersamaan, Joker secara tidak langsung membakar habis setengah tubuh Dent. Akhirnya, Dent berhenti menjadi ksatria putih Gotham dan berubah menjadi Two Face.
Seorang penjahat super dengan dua wajah.
Wajah pertama adalah wajah yang sedih. Tampan, tapi menyimpan duka yang mendalam. Wajah kedua adalah wajah yang menyeramkan. Buruk rupa, penuh amarah, dan penuh dendam.
Sama seperti Two-Face, Anger juga memiliki dua wajah.
Dulu, saat UTS dimulai, dia dan pacar barunya berlibur bersama beberapa teman mereka ke Semarang. Biasa aja sih sebenarnya, tapi ini bikin gw marah luar biasa. Mungkin alasan utamanya cemburu, tapi gw bilang ke dia "Bisa gak sih liburannya pas liburan aja? Sekarang kan UTS. Harusnya kita belajar dan beresin tugas take-home kelompok kita dong!" Gw bener-bener marah... marah... marah... sampai rasanya pengen bakar kantor polisi.
Tapi beberapa hari kemudian, ketika gw berangkat kerja sambilan di sebuah rental film... Dia ada di depan rental film. Nungguin gw.
Gw bener-bener seneng sampai-sampai ada segerombolan ninja yang motong bawang di sekeliling gw.
Inilah wajah menyedihkan dari Anger. Di satu sisi kamu sensitif karena hal-hal kecil, tapi di sisi lain kamu gampang luluh, gampang melting, gampang seneng.
Urgghh.... Ugly...
Sekarang kita beranjak ke contoh kasus nomer dua. Kejadiannya beberapa hari setelah peristiwa yang gw ceritain di denial 3. .
Saat itu, ada sebuah mata kuliah yang ritual awalnya adalah "share tugas". Intinya adalah, dosen akan meminta seorang volunteer untuk mempresentasikan tugas mingguan di depan kelas. Biasanya gw males volunteer buat gituan. Tapi saat itu, karena dorongan anger, saat dosen bertanya "ada yang mau jadi volunteer?" otak gw langsung berbisik "let's do something cool." dan tangan gw terangkat ke udara dengan dramatis.
Kemudian gw matiin proyektor, gw ambil spidol, dan gw tarik papan tulis ke tengah kelas. Terus dengan gaya sok tahu, sok pede, dan sok keren, gw jelasin materi tugas saat itu secara komperhensif dan mendalam. Dosen beneran aja gayanya kalah dah, sumpah. Inget Tony Stark pas dia presentasi senjata canggihnya di awal film Iron-man 1? Hampir kaya gitu lah.
Bagian kerennya adalah, dalam presentasi tersebut, gw secara tersirat bilang "aku sayang kamu." dengan pesan yang cuma bisa dimengerti oleh gw, dia, dan beberapa teman dekat kami.
Dosen kemudian mengumumkan bahwa kelas akan dibagi kedalam kelompok. Selesai kelas, di balkon gedung yang waktu itu masih sangat baru, dia nyamperin gw.
"Mau sekelompok sama gw?" tanya gw.
"Mau," kata dia.
"Tapi gw takut galau," balas gw.
Terus suaranya mengecil,
"Galau kenapa?"
Terus gw mukul dia.
Well, gak mukul sih. Gw 'menyetuh' wajah dia dengan kekuatan di atas rata-rata normal. Gak sampai keitung 'kekerasan terhadap perempuan', tapi juga bukan cuma 'sentuhan lembut'. Makna 'sentuhan' tersebut kira-kira "gak usah pura-pura gak tau."
Terus dia pergi. Katanya sih kemudian dia nangis.
Dramatis yak?
Btw, gara-gara peristiwa inilah gw gak begitu maksimal dalam tugas kelompok mata kulah ini, Maaf ya teman-teman sekelompok. -__-
Inilah wajah yang menyeramkan dari anger. Wajah yang bisa mendorong kita untuk berkata "Fuck this, lets do it" dan memberikan kita kekuatan untuk melakukan hal-hal yang biasanya tidak kita lakukan. Seperti presentasi dengan gaya Tony Stark atau 'menyetuh' wajah perempuan.
I love this face. :)
Dia adalah seorang jaksa penuntut yang dikenal sebagai ksatria putih Gotham. Satu dari sedikit orang yang lurus ditengah kota yang sistemnya lumpuh oleh korupsi dan kolusi. Satu dari sedikit orang yang punya keseimbangan maksimal antara hati nurani, kecerdasan, ketampanan, dan kekuatan fisik.
Sayangnya, Joker ngebunuh satu-satunya orang yang dicintai Dent. Pada saat yang bersamaan, Joker secara tidak langsung membakar habis setengah tubuh Dent. Akhirnya, Dent berhenti menjadi ksatria putih Gotham dan berubah menjadi Two Face.
Seorang penjahat super dengan dua wajah.
Wajah pertama adalah wajah yang sedih. Tampan, tapi menyimpan duka yang mendalam. Wajah kedua adalah wajah yang menyeramkan. Buruk rupa, penuh amarah, dan penuh dendam.
Sama seperti Two-Face, Anger juga memiliki dua wajah.
Dulu, saat UTS dimulai, dia dan pacar barunya berlibur bersama beberapa teman mereka ke Semarang. Biasa aja sih sebenarnya, tapi ini bikin gw marah luar biasa. Mungkin alasan utamanya cemburu, tapi gw bilang ke dia "Bisa gak sih liburannya pas liburan aja? Sekarang kan UTS. Harusnya kita belajar dan beresin tugas take-home kelompok kita dong!" Gw bener-bener marah... marah... marah... sampai rasanya pengen bakar kantor polisi.
Tapi beberapa hari kemudian, ketika gw berangkat kerja sambilan di sebuah rental film... Dia ada di depan rental film. Nungguin gw.
Gw bener-bener seneng sampai-sampai ada segerombolan ninja yang motong bawang di sekeliling gw.
Inilah wajah menyedihkan dari Anger. Di satu sisi kamu sensitif karena hal-hal kecil, tapi di sisi lain kamu gampang luluh, gampang melting, gampang seneng.
Urgghh.... Ugly...
Sekarang kita beranjak ke contoh kasus nomer dua. Kejadiannya beberapa hari setelah peristiwa yang gw ceritain di denial 3. .
Saat itu, ada sebuah mata kuliah yang ritual awalnya adalah "share tugas". Intinya adalah, dosen akan meminta seorang volunteer untuk mempresentasikan tugas mingguan di depan kelas. Biasanya gw males volunteer buat gituan. Tapi saat itu, karena dorongan anger, saat dosen bertanya "ada yang mau jadi volunteer?" otak gw langsung berbisik "let's do something cool." dan tangan gw terangkat ke udara dengan dramatis.
Kemudian gw matiin proyektor, gw ambil spidol, dan gw tarik papan tulis ke tengah kelas. Terus dengan gaya sok tahu, sok pede, dan sok keren, gw jelasin materi tugas saat itu secara komperhensif dan mendalam. Dosen beneran aja gayanya kalah dah, sumpah. Inget Tony Stark pas dia presentasi senjata canggihnya di awal film Iron-man 1? Hampir kaya gitu lah.
Bagian kerennya adalah, dalam presentasi tersebut, gw secara tersirat bilang "aku sayang kamu." dengan pesan yang cuma bisa dimengerti oleh gw, dia, dan beberapa teman dekat kami.
Dosen kemudian mengumumkan bahwa kelas akan dibagi kedalam kelompok. Selesai kelas, di balkon gedung yang waktu itu masih sangat baru, dia nyamperin gw.
"Mau sekelompok sama gw?" tanya gw.
"Mau," kata dia.
"Tapi gw takut galau," balas gw.
Terus suaranya mengecil,
"Galau kenapa?"
Terus gw mukul dia.
Well, gak mukul sih. Gw 'menyetuh' wajah dia dengan kekuatan di atas rata-rata normal. Gak sampai keitung 'kekerasan terhadap perempuan', tapi juga bukan cuma 'sentuhan lembut'. Makna 'sentuhan' tersebut kira-kira "gak usah pura-pura gak tau."
Terus dia pergi. Katanya sih kemudian dia nangis.
Dramatis yak?
Btw, gara-gara peristiwa inilah gw gak begitu maksimal dalam tugas kelompok mata kulah ini, Maaf ya teman-teman sekelompok. -__-
Inilah wajah yang menyeramkan dari anger. Wajah yang bisa mendorong kita untuk berkata "Fuck this, lets do it" dan memberikan kita kekuatan untuk melakukan hal-hal yang biasanya tidak kita lakukan. Seperti presentasi dengan gaya Tony Stark atau 'menyetuh' wajah perempuan.
I love this face. :)
Senin, 07 Mei 2012
Interlude
Selalu ada dua sisi dari segala hal.
Tapi menurut gw, sebaiknya cukup satu sisi aja yang kita ketahui.
Karena ketika kita tahu kedua sisi dari sebuah cerita, maka kita akan kehilangan makna.
Mau bukti? Boleh...
Mulai dari isu yang kecil ke yang besar yak.
Pertama, tentang Thariq bin Ziyad. Kenal?
Thariq adalah salah seorang pahlawan yang terkenal dalam sejarah islam. Dia merupakan jendral yang memimpin 7000 pasukan moor islam melawan 70.000 pasukan Roderick dari Spanyol. Meski kalah jumlah satu banding sepuluh, tapi Thariq tetap berhasil membawa pasukan islam menuju kemenangan. Salah satu aksinya yang paling fenomenal adalah pada saat pendaratan di teluk Giblartar. Kala itu, begitu mendengar bahwa jumlah tentara spanyol amat sangat banyak dan persenjataaannya lebih lengkap, banyak tentara islam yang ragu dan takut. Beberapa dari mereka bahkan menyarakan untuk segera naik kapal dan balik lagi ke tanah Moor.
Apa reaksi Thariq?
Sederhana. Dia bakar semua kapal di armadanya. Lalu dia berpidato lantang. "Di belakang kalian laut, di depan kalian musuh yang lebih besar. In the end, kalian bakal mati juga. Tapi, kalian punya dua pilihan. Mati kelelep atau mati di jalan Allah."
Radikal, memang. Tapi efektif. Moral tentara islam lansung meningkat dan tentara spanyol dibabat bagaikan rumput yang tertiup angin.
Heroik kan? Super sekali kan?
Tapi itu baru satu sisi dari mata koin. Sisi lainnya agak lebih kelam.
Habis perang, Thariq dan seorang Jendral lainnya bertengkar masalah pembagian harta rampasan perang. Pertikaian ini berakhir dengan hukuman pecut bagi Thariq.
Meh.
Bukti kedua, konflik Israel dan Palestina.
Sebagai orang islam, kebanyakan dari kita tentu memihak Palestina dan negara-negara arab tetangganya seperti Mesir, Libanon, dan Suriah.
Terlampau sering kita terhanyut dan tersentuh oleh kisah-kisah tentang betapa heroiknya perjuangan orang-orang Palestina serta geram oleh kisah-kisah kejahatan tentara Israel.
Tapi ada tahukah anda apa yang berada di sisi lain koin?
Pada tahun 1948, Israel memerdekakan diri. Kata 'memerdekakan diri' disini harus digarisbawahi karena tidak seperti Libanon dkk yang kemerdekaannya 'diberikan' oleh Inggris, Israel mendapatkan kemerdekaannya setelah upaya perjuangan panjang dalam bidang diplomatik maupun dalam bidang fisik. Inggris sebenarnya tidak mau mendirikan sebuah negara khusus Yahudi, namun teror yang ditimbulkan para pejuang kemerdekaan Israel membuat Inggris mengkerut dan akhirnya mengalah.
Saat mereka memerdekakan diri, Israel langsung dikeroyok oleh negara-negara islam disekitarnya. Israel saat itu tidak memiliki organisasi tentara resmi. Mereka kalah jumlah dan kalah persenjataan. Sementara musuh-musuh Israel datang menyerang dengan tentara yang telah tertata dan suplai persenjataan yang cukup.
Hasilnya?
Super. Israel menang.
Gak cuma sekali. Tiga kali.
Ini nunjukin bahwa Israel memang memiliki kualitas yang hebat. Mereka bisa ada di posisinya sekarang sebagai pemain dominan di Timur Tengah bukan karena keajaiban, tapi karena mereka memang layak mendapatkannya.
Kesimpulannya?
Nothing is true, everything is permitted.
Jangan terlalu fanatis sama satu sisi mata koin, karena sisi lainnya mungkin bisa melunturkan fanatisme tersebut dalam sekejap mata.
Tapi menurut gw, sebaiknya cukup satu sisi aja yang kita ketahui.
Karena ketika kita tahu kedua sisi dari sebuah cerita, maka kita akan kehilangan makna.
Mau bukti? Boleh...
Mulai dari isu yang kecil ke yang besar yak.
Pertama, tentang Thariq bin Ziyad. Kenal?
Thariq adalah salah seorang pahlawan yang terkenal dalam sejarah islam. Dia merupakan jendral yang memimpin 7000 pasukan moor islam melawan 70.000 pasukan Roderick dari Spanyol. Meski kalah jumlah satu banding sepuluh, tapi Thariq tetap berhasil membawa pasukan islam menuju kemenangan. Salah satu aksinya yang paling fenomenal adalah pada saat pendaratan di teluk Giblartar. Kala itu, begitu mendengar bahwa jumlah tentara spanyol amat sangat banyak dan persenjataaannya lebih lengkap, banyak tentara islam yang ragu dan takut. Beberapa dari mereka bahkan menyarakan untuk segera naik kapal dan balik lagi ke tanah Moor.
Apa reaksi Thariq?
Sederhana. Dia bakar semua kapal di armadanya. Lalu dia berpidato lantang. "Di belakang kalian laut, di depan kalian musuh yang lebih besar. In the end, kalian bakal mati juga. Tapi, kalian punya dua pilihan. Mati kelelep atau mati di jalan Allah."
Radikal, memang. Tapi efektif. Moral tentara islam lansung meningkat dan tentara spanyol dibabat bagaikan rumput yang tertiup angin.
Heroik kan? Super sekali kan?
Tapi itu baru satu sisi dari mata koin. Sisi lainnya agak lebih kelam.
Habis perang, Thariq dan seorang Jendral lainnya bertengkar masalah pembagian harta rampasan perang. Pertikaian ini berakhir dengan hukuman pecut bagi Thariq.
Meh.
Bukti kedua, konflik Israel dan Palestina.
Sebagai orang islam, kebanyakan dari kita tentu memihak Palestina dan negara-negara arab tetangganya seperti Mesir, Libanon, dan Suriah.
Terlampau sering kita terhanyut dan tersentuh oleh kisah-kisah tentang betapa heroiknya perjuangan orang-orang Palestina serta geram oleh kisah-kisah kejahatan tentara Israel.
Tapi ada tahukah anda apa yang berada di sisi lain koin?
Pada tahun 1948, Israel memerdekakan diri. Kata 'memerdekakan diri' disini harus digarisbawahi karena tidak seperti Libanon dkk yang kemerdekaannya 'diberikan' oleh Inggris, Israel mendapatkan kemerdekaannya setelah upaya perjuangan panjang dalam bidang diplomatik maupun dalam bidang fisik. Inggris sebenarnya tidak mau mendirikan sebuah negara khusus Yahudi, namun teror yang ditimbulkan para pejuang kemerdekaan Israel membuat Inggris mengkerut dan akhirnya mengalah.
Saat mereka memerdekakan diri, Israel langsung dikeroyok oleh negara-negara islam disekitarnya. Israel saat itu tidak memiliki organisasi tentara resmi. Mereka kalah jumlah dan kalah persenjataan. Sementara musuh-musuh Israel datang menyerang dengan tentara yang telah tertata dan suplai persenjataan yang cukup.
Hasilnya?
Super. Israel menang.
Gak cuma sekali. Tiga kali.
Ini nunjukin bahwa Israel memang memiliki kualitas yang hebat. Mereka bisa ada di posisinya sekarang sebagai pemain dominan di Timur Tengah bukan karena keajaiban, tapi karena mereka memang layak mendapatkannya.
Kesimpulannya?
Nothing is true, everything is permitted.
Jangan terlalu fanatis sama satu sisi mata koin, karena sisi lainnya mungkin bisa melunturkan fanatisme tersebut dalam sekejap mata.
Minggu, 06 Mei 2012
Anger
This is the most depressing part of the drama
Ada dua hal yang sangat menyenangkan saat kita suka sama orang yang udah punya pacar.
Pertama adalah pepatah klasik: kalau cewek yang kamu taksir jomblo, maka seluruh dunia jadi saingan kamu. Sebaliknya, kalau cewek yang kamu taksir udah punya pacar, saingan kamu cuma satu.
Kedua, kita punya gambaran pasti cowo seperti apa yang diinginkan sama si cewe target. Artinya, kita bisa:
1. Membandingkan kapasitas diri dengan kapasitas pacarnya secara langsung.
2. Menganalisis strength, weakness, oportunity, dan threat secara objektif.
3. Mengetahui apa yang harus diperbaiki dari diri sendiri agar bisa bikin target jatuh hati..
Sebagai pria yang sering gak sengaja suka sama cewe yang punya pacar, gw telah merasakan sendiri arti penting dari tiga poin tersebut.
Terutama poin nomer tiga.
Dulu, gw pernah suka sama seorang cewe yang pacarnya sangat atletis. Sementara, seperti yang kita ketahui, gw agak sedikit cungkring. Perbedaan yang ekstrim antara atletisitas gw dan pacarnya cewe tersebut memang di satu sisi bikin depresi. Tapi di sisi lain, hal ini memicu gw untuk meningkatkan atlesitas gw. Sama seperti seorang Sims yang berusaha meningkatkan level atlesitasnya, gw mendapatkan motivasi baru untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk berkeringat.
Hasilnya?
Dia tetep sama pacarnya. Tapi seengganya nilai atletisitas gw naik beberapa poin. Positif kan?
Lebih dulu lagi, cewe yang gw suka pacaran sama seorang 'senior cool'. Hal ini bikin frustasi di satu sisi, tapi di sisi lain mendorong gw untuk memperbaiki sikap dan kepribadian gw.
Hasilnya?
Gak ada hasilnya. Dia tetep sama pacarnya, dan butuh waktu lima tahun lagi sebelum gw akhirnya bisa menyandang predikat 'senior cool'. Agak telat sih, tapi positif kan?
Yang agak lucu adalah... kebiasaan 'belajar dari pacarnya target' ini pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang memperbesar 'anger' gw. Gw terbiasa buat berada dalam posisi 'dibawah' pacarnya target. Gw terbiasa buat belajar dari kekalahan. Gw terbiasa berkembang untuk menyamai atau bahkan melebihi pacarnya target. Honestly, gw sangat menikmatinya.
Makanya timbul masalah saat...
Pacar barunya dia gak ada bagus-bagusnya sama sekali.
Gw menghabiskan waktu yang agak lama untuk menganalisis karakter dari pacar barunya dia dan membandingkannya dengan kapasitas gw.
Apa dia lebih ganteng? Nope.
Apa dia lebih pinter? Haha, not a chance.
Apa dia lebih keren? Debatable.
Apa dia lebih jago maen musik? Ngeh. .
Apa dia lebih atletis? Perut gw rata sekarang, thanks.
Apa dia lebih produktif? Not really, no.
Jadi apa? Gak ada hal yang 'lebih' selain fakta obvious bahwa keluarganya jauh lebih kaya dari keluarga gw. Terus kalau lebihnya cuma itu, gw mesti ngapain? Berdoa supaya bokap gw tiba-tiba kaya? Teriak "monyet bawa paku" seratus kali biar uang tiba-tiba turun dari langit? Gak bisa kan? Kalau kalah atletis, gw bisa mulai workout lagi. Kalau kalah produktif, gw bisa meningkatkan produktivitas gw. Tapi kalau gini?
It's a dead end.
And I fucking hate dead end.
Fakta ini kemudian menjadi dementor yang menyedot segala motivasi gw.
Setiap gw mau jogging atau olahraga lainnya, ada suara kecil yang berkata "Ngapain? Toh perut rata lo ga bisa menangin dia,"
Negatif kan?
Makanya, gw kemudian menjadi sangat-sangat marah.
Marahnya bukan sama dia yang ninggalin gw, bukan sama pacar barunya yang terlalu beruntung. bukan sama keluarga gw yang harta kekayaannya kurang melimpah.
Tapi sama gw sendiri.
Ada dua hal yang sangat menyenangkan saat kita suka sama orang yang udah punya pacar.
Pertama adalah pepatah klasik: kalau cewek yang kamu taksir jomblo, maka seluruh dunia jadi saingan kamu. Sebaliknya, kalau cewek yang kamu taksir udah punya pacar, saingan kamu cuma satu.
Kedua, kita punya gambaran pasti cowo seperti apa yang diinginkan sama si cewe target. Artinya, kita bisa:
1. Membandingkan kapasitas diri dengan kapasitas pacarnya secara langsung.
2. Menganalisis strength, weakness, oportunity, dan threat secara objektif.
3. Mengetahui apa yang harus diperbaiki dari diri sendiri agar bisa bikin target jatuh hati..
Sebagai pria yang sering gak sengaja suka sama cewe yang punya pacar, gw telah merasakan sendiri arti penting dari tiga poin tersebut.
Terutama poin nomer tiga.
Dulu, gw pernah suka sama seorang cewe yang pacarnya sangat atletis. Sementara, seperti yang kita ketahui, gw agak sedikit cungkring. Perbedaan yang ekstrim antara atletisitas gw dan pacarnya cewe tersebut memang di satu sisi bikin depresi. Tapi di sisi lain, hal ini memicu gw untuk meningkatkan atlesitas gw. Sama seperti seorang Sims yang berusaha meningkatkan level atlesitasnya, gw mendapatkan motivasi baru untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk berkeringat.
Hasilnya?
Dia tetep sama pacarnya. Tapi seengganya nilai atletisitas gw naik beberapa poin. Positif kan?
Lebih dulu lagi, cewe yang gw suka pacaran sama seorang 'senior cool'. Hal ini bikin frustasi di satu sisi, tapi di sisi lain mendorong gw untuk memperbaiki sikap dan kepribadian gw.
Hasilnya?
Gak ada hasilnya. Dia tetep sama pacarnya, dan butuh waktu lima tahun lagi sebelum gw akhirnya bisa menyandang predikat 'senior cool'. Agak telat sih, tapi positif kan?
Yang agak lucu adalah... kebiasaan 'belajar dari pacarnya target' ini pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang memperbesar 'anger' gw. Gw terbiasa buat berada dalam posisi 'dibawah' pacarnya target. Gw terbiasa buat belajar dari kekalahan. Gw terbiasa berkembang untuk menyamai atau bahkan melebihi pacarnya target. Honestly, gw sangat menikmatinya.
Makanya timbul masalah saat...
Pacar barunya dia gak ada bagus-bagusnya sama sekali.
Gw menghabiskan waktu yang agak lama untuk menganalisis karakter dari pacar barunya dia dan membandingkannya dengan kapasitas gw.
Apa dia lebih ganteng? Nope.
Apa dia lebih pinter? Haha, not a chance.
Apa dia lebih keren? Debatable.
Apa dia lebih jago maen musik? Ngeh. .
Apa dia lebih atletis? Perut gw rata sekarang, thanks.
Apa dia lebih produktif? Not really, no.
Jadi apa? Gak ada hal yang 'lebih' selain fakta obvious bahwa keluarganya jauh lebih kaya dari keluarga gw. Terus kalau lebihnya cuma itu, gw mesti ngapain? Berdoa supaya bokap gw tiba-tiba kaya? Teriak "monyet bawa paku" seratus kali biar uang tiba-tiba turun dari langit? Gak bisa kan? Kalau kalah atletis, gw bisa mulai workout lagi. Kalau kalah produktif, gw bisa meningkatkan produktivitas gw. Tapi kalau gini?
It's a dead end.
And I fucking hate dead end.
Fakta ini kemudian menjadi dementor yang menyedot segala motivasi gw.
Setiap gw mau jogging atau olahraga lainnya, ada suara kecil yang berkata "Ngapain? Toh perut rata lo ga bisa menangin dia,"
Negatif kan?
Makanya, gw kemudian menjadi sangat-sangat marah.
Marahnya bukan sama dia yang ninggalin gw, bukan sama pacar barunya yang terlalu beruntung. bukan sama keluarga gw yang harta kekayaannya kurang melimpah.
Tapi sama gw sendiri.
Sabtu, 05 Mei 2012
Denial 3
Lady Justicia. Kenal?
Dia adalah simbol dari hukum. Seorang wanita dengan timbangan di tangan kanan, pedang di tangan kiri, dan mata yang ditutup. Timbangan di tangan kanan menyimbolkan bahwa mbak Justicia selalu adil dan seimbang. Pedang di tangan kiri menyimbolkan ketegasan.Mata yang ditutup menyimbolkan bahwa dia tidak memandang status, kekayaan, kegantengan, dan lain-lain. Semua orang sama di mata beliau. Hardcore kan? Saking hardcorenya, patung Lady Justicia sering ditemukan didepan gedung-gedung pengadilan. Menginspirasi para penegak hukum dan membuat para pesakitan bergidik.
Tapi pertanyaannya adalah...
Kenapa harus perempuan? (-_-)
Gimana kalau Lady Justicia lagi dapet? Atau kena PMS? Apa dia bisa nimbang dengan adil?
Mungkin karena inilah penegakan hukum selalu sulit dilakukan. (-_-)
Dan lagi, matanya si Lady Justicia ini ditutup. Padahal, bagi perempuan, menutup mata itu sangat berbahaya. Penelitian terakhir menyatakan bahwa permintaan "tutup mata kamu bentar dong," pada seorang wanita seringkali berujung pada ciuman di pipi atau hal lain yang lebih mesum. Bayangin, kalau nutup mata bentar aja bisa berakibat seperti itu, apalagi kalau nutup mata seharian macam Lady Justicia ini?
Sekarang pertanyaannya,
Apakah kamu punya pengalaman spiritual yang berkaitan dengan tutup mata?
Gw punya.
Dulu, di suatu akhir pekan, gw dan sembilan teman lain dengan jenis kelamin yang bervariasi memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan bersama di sebuah tempat. Tujuannya adalah merayakan kesuksesan kami semua dalam mendapatkan nilai A di dua mata kuliah yang legendaris, sambil menghabiskan sisa dana praktikum yang kami dapatkan.
Malemnya, gw tidur di sebelah dia.
Dan dia nutup mata buat tidur.
Padahal, seperti yang gw bilang, nutup mata adalah hal yang sangat berbahaya bagi perempuan. Sangat sangat berbahaya. Terutama kalau kamu cantik. Dan lebih terutama lagi kalau kamu tidur di sebelah orang yang iman dan mekanisme superegonya enggak terbina dengan baik seperti gw.
Ketika malam mulai larut dan semua orang terdengar sudah tidur, gw tetap terjaga oleh suara perang didalam benak gw. "Kesempatan..." kata sebuah suara gelap, "...kamu banci homo kalau kamu engga memanfaatkan kesempatan ini," lanjutnya. "Betul sekali," kata sebuah suara gelap yang lebih ringan, "dia punya pacar baru sekarang. Kamu udah ga bakal dapet kesempatan kaya gini selain malam ini."
Yeah, dua suara gelap itu argumennya cukup logis. Tapi ada satu masalah.
Waktu itu gw lagi jatuh cinta sama dia.
Dan salah satu masalah yang ditimbulkan oleh jatuh cinta adalah, kamu jadi lebih enggan untuk melakukan hal-hal yang engga baik ke orang yang kamu cintai.
Padahal itu kesempatan besar. Dan gw laki-laki normal. Dan dia cantik.
Akhirnya dua suara gelap yang cerdas dan rasional itu gw abaikan. Gw bisa ngedenger mereka pergi dengan terkekeh-kekeh sambil berbisik sinis "dasar bodoh...". Setelah suara gelap tersebut pergi, gw mengatur ulang posisi tidur gw biar gw bisa nyium bau rambutnya dan melakukan 'kontak' yang masih dalam batas 'norma' dan 'kewajaran'.
Terus gw gak tidur semaleman.
A fucking shortest 6 hours in my life.
Gw bangun pagi-pagi banget, sebelum ada temen lain yang bangun. Gw ngambil gitar, ngabisin teh dan roti yang disediain sang tempat nginep, terus gw nyanyi sendiri sekitar setengah jam. Salah satu lagunya tentu saja... I don't wanna miss a thing dari Aerosmith. Cucok tenan dah.
Hal yang sedikit aneh adalah, gw kira setelah malam itu gw bakal jadi lebih bahagia. Tapi ternyata enggak.
Pengalaman tentang betapa nyamannya tidur di sebelah dia dan kenyataan bahwa itu gak bakal terulang lagi selama-lama-lama-lama-lama-lamanya itu bikin depresi.
Di pagi itu, disela dentingan gitar, manisnya teh, gurihnya roti bakar, dan hangatnya matahari pagi. Ada panah besar tak kasat mata yang menancap dalam jiwa.
Di panah tersebut, tertulis "Dia bukan punya lo, deal with it,"
Setelah pagi itu...
Fase denial berakhir, dan fase anger dimulai.
Dia adalah simbol dari hukum. Seorang wanita dengan timbangan di tangan kanan, pedang di tangan kiri, dan mata yang ditutup. Timbangan di tangan kanan menyimbolkan bahwa mbak Justicia selalu adil dan seimbang. Pedang di tangan kiri menyimbolkan ketegasan.Mata yang ditutup menyimbolkan bahwa dia tidak memandang status, kekayaan, kegantengan, dan lain-lain. Semua orang sama di mata beliau. Hardcore kan? Saking hardcorenya, patung Lady Justicia sering ditemukan didepan gedung-gedung pengadilan. Menginspirasi para penegak hukum dan membuat para pesakitan bergidik.
Tapi pertanyaannya adalah...
Kenapa harus perempuan? (-_-)
Gimana kalau Lady Justicia lagi dapet? Atau kena PMS? Apa dia bisa nimbang dengan adil?
Mungkin karena inilah penegakan hukum selalu sulit dilakukan. (-_-)
Dan lagi, matanya si Lady Justicia ini ditutup. Padahal, bagi perempuan, menutup mata itu sangat berbahaya. Penelitian terakhir menyatakan bahwa permintaan "tutup mata kamu bentar dong," pada seorang wanita seringkali berujung pada ciuman di pipi atau hal lain yang lebih mesum. Bayangin, kalau nutup mata bentar aja bisa berakibat seperti itu, apalagi kalau nutup mata seharian macam Lady Justicia ini?
Sekarang pertanyaannya,
Apakah kamu punya pengalaman spiritual yang berkaitan dengan tutup mata?
Gw punya.
Dulu, di suatu akhir pekan, gw dan sembilan teman lain dengan jenis kelamin yang bervariasi memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan bersama di sebuah tempat. Tujuannya adalah merayakan kesuksesan kami semua dalam mendapatkan nilai A di dua mata kuliah yang legendaris, sambil menghabiskan sisa dana praktikum yang kami dapatkan.
Malemnya, gw tidur di sebelah dia.
Dan dia nutup mata buat tidur.
Padahal, seperti yang gw bilang, nutup mata adalah hal yang sangat berbahaya bagi perempuan. Sangat sangat berbahaya. Terutama kalau kamu cantik. Dan lebih terutama lagi kalau kamu tidur di sebelah orang yang iman dan mekanisme superegonya enggak terbina dengan baik seperti gw.
Ketika malam mulai larut dan semua orang terdengar sudah tidur, gw tetap terjaga oleh suara perang didalam benak gw. "Kesempatan..." kata sebuah suara gelap, "...kamu banci homo kalau kamu engga memanfaatkan kesempatan ini," lanjutnya. "Betul sekali," kata sebuah suara gelap yang lebih ringan, "dia punya pacar baru sekarang. Kamu udah ga bakal dapet kesempatan kaya gini selain malam ini."
Yeah, dua suara gelap itu argumennya cukup logis. Tapi ada satu masalah.
Waktu itu gw lagi jatuh cinta sama dia.
Dan salah satu masalah yang ditimbulkan oleh jatuh cinta adalah, kamu jadi lebih enggan untuk melakukan hal-hal yang engga baik ke orang yang kamu cintai.
Padahal itu kesempatan besar. Dan gw laki-laki normal. Dan dia cantik.
Akhirnya dua suara gelap yang cerdas dan rasional itu gw abaikan. Gw bisa ngedenger mereka pergi dengan terkekeh-kekeh sambil berbisik sinis "dasar bodoh...". Setelah suara gelap tersebut pergi, gw mengatur ulang posisi tidur gw biar gw bisa nyium bau rambutnya dan melakukan 'kontak' yang masih dalam batas 'norma' dan 'kewajaran'.
Terus gw gak tidur semaleman.
A fucking shortest 6 hours in my life.
Gw bangun pagi-pagi banget, sebelum ada temen lain yang bangun. Gw ngambil gitar, ngabisin teh dan roti yang disediain sang tempat nginep, terus gw nyanyi sendiri sekitar setengah jam. Salah satu lagunya tentu saja... I don't wanna miss a thing dari Aerosmith. Cucok tenan dah.
Hal yang sedikit aneh adalah, gw kira setelah malam itu gw bakal jadi lebih bahagia. Tapi ternyata enggak.
Pengalaman tentang betapa nyamannya tidur di sebelah dia dan kenyataan bahwa itu gak bakal terulang lagi selama-lama-lama-lama-lama-lamanya itu bikin depresi.
Di pagi itu, disela dentingan gitar, manisnya teh, gurihnya roti bakar, dan hangatnya matahari pagi. Ada panah besar tak kasat mata yang menancap dalam jiwa.
Di panah tersebut, tertulis "Dia bukan punya lo, deal with it,"
Setelah pagi itu...
Fase denial berakhir, dan fase anger dimulai.
Jumat, 04 Mei 2012
Denial 2
Tau gak sih, kita bisa menggunakan sistem skor untuk menentukan kapasitas seseorang?
Sistemnya sederhana. Skor satu diberikan pada orang dengan bentukan dan sumber daya yang sebanding sama Hunchback of Notredame, sementara skor sepuluh diberikan para orang yang kaya, tampan, baik, dan sempurna. Skor dua sampai sembilan ada diantara kedua ekstrim tersebut.
Kenapa skor ini kemudian penting? Karena ada satu aturan penting yang harus diingat.
Orang yang aman untuk dicintai berada dalam range dua tingkat diatas atau dua tingkat dibawah kamu. Kalau terlalu atas, cinta kamu gak bakal kesampaian. Kalau terlalu bawah, cinta kamu bisa kesampaian tapi dalam hitungan detik kamu bakal muak sama pasangan kamu.
As for my self, I'm a four. Skor gw 4. Artinya, cewe yang aman untuk gw cintai adalah cewe yang skornya 2, 3, 4, 5, dan 6.
Tapi tentu saja bukan itu yang terjadi.
Dulu, waktu SMP, gw pernah ikut study tour ke Dufan, Seaworld, Ancol, dan sekitarnya. Di perjalanan pulang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, gw ngegodain cewe. Kita duduk sebelahan, kita ngobrol, gw bikinin dia puisi aneh, gw ketawa bareng dia, dst dst.
Cewe itu namanya Bunga. Skornya 9.
Skor gw waktu SMP dulu mungkin cuma 2. Artinya, ada selisih 7 angka antara gw dan bunga. Tapi coba tebak,
Gw berhasil.
Untuk semalam itu, di perjalanan pulang Jakarta - Sukabumi, gw yakin bahwa gw berhasil bikin Bunga suka sama gw.
Tapi kelanjutannya adalah sebuah lawakan yang sangat menyedihkan. Tak perlulah gw ceritakan detailnya, intinya gw ngacauin segalanya. Dalam waktu satu minggu, perasaan Bunga ke gw berubah 180 derajat dari suka menjadi ilfil abis.
Kesimpulannya? Gw adalah seorang pria yang diberkahi bakat untuk melompati margin skor yang sangat besar, gw bisa bikin cewe yang skornya jauh lebih tinggi suka sama gw, tapi pada saat yang bersamaan... gw diberkahi bakat yang gak kalah besar untuk merubah cewe yang suka sama gw menjadi ilfil atau muak atau benci. Radikal, kan?
Setaunan yang lalu, waktu skor gw naik setingkat menjadi 3, gw mengulangi keajaiban ini. Ceritanya gw berteman dengan seorang cewe yang skornya 9. Semakin hari kami semakin akrab... semakin akrab... semakin akrab... sampai pada satu titik gw yakin bahwa dia suka sama gw.
Well, gak begitu yakin sih...
Yang gw tau, waktu di pelajaran Psikologi Komunikasi mas Widodo ngejelasin tentang 'bahaya memendam perasaan', gw dan dia langsung saling bilang "Aku sayang kamu."
Yang gw tau, ada malam-malam dimana kita duduk berdua buat curhat masalah masing-masing. Waktu itu, karena dia punya pacar dan karena seorang teman deket lain juga suka sama dia, gw bikin aturan yang menyatakan bahwa dia boleh nyender ke bahu gw, tapi harus dibatasi selama 10 detik doang karena ga enak sama pihak-pihak yang disebut diatas.
Biasanya gw yang jadi timekeeper. Ngitung keras-keras satu sampai sepuluh.
Tapi di satu malam, ketika dia nyender dan seperti biasa gw mulai ngitung "satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan... sembilan..."
...
...
...
Gak ada kata sepuluh yang terucap.
Dramatis ya?
Makanya rasanya agak sakit ketika gw gak sengaja ketemu dia dan pacar barunya di Platinum
Karena biasanya dia ke platinum sama gw.
Makanya rasanya agak tajam ketika gw ngeliat dia ngelus wajah pacar barunya.
Karena biasanya dia ngelus wajah gw.
Huah.
Kenapa jadi galau beneran ini. -_____-
Sistemnya sederhana. Skor satu diberikan pada orang dengan bentukan dan sumber daya yang sebanding sama Hunchback of Notredame, sementara skor sepuluh diberikan para orang yang kaya, tampan, baik, dan sempurna. Skor dua sampai sembilan ada diantara kedua ekstrim tersebut.
Kenapa skor ini kemudian penting? Karena ada satu aturan penting yang harus diingat.
Orang yang aman untuk dicintai berada dalam range dua tingkat diatas atau dua tingkat dibawah kamu. Kalau terlalu atas, cinta kamu gak bakal kesampaian. Kalau terlalu bawah, cinta kamu bisa kesampaian tapi dalam hitungan detik kamu bakal muak sama pasangan kamu.
As for my self, I'm a four. Skor gw 4. Artinya, cewe yang aman untuk gw cintai adalah cewe yang skornya 2, 3, 4, 5, dan 6.
Tapi tentu saja bukan itu yang terjadi.
Dulu, waktu SMP, gw pernah ikut study tour ke Dufan, Seaworld, Ancol, dan sekitarnya. Di perjalanan pulang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, gw ngegodain cewe. Kita duduk sebelahan, kita ngobrol, gw bikinin dia puisi aneh, gw ketawa bareng dia, dst dst.
Cewe itu namanya Bunga. Skornya 9.
Skor gw waktu SMP dulu mungkin cuma 2. Artinya, ada selisih 7 angka antara gw dan bunga. Tapi coba tebak,
Gw berhasil.
Untuk semalam itu, di perjalanan pulang Jakarta - Sukabumi, gw yakin bahwa gw berhasil bikin Bunga suka sama gw.
Tapi kelanjutannya adalah sebuah lawakan yang sangat menyedihkan. Tak perlulah gw ceritakan detailnya, intinya gw ngacauin segalanya. Dalam waktu satu minggu, perasaan Bunga ke gw berubah 180 derajat dari suka menjadi ilfil abis.
Kesimpulannya? Gw adalah seorang pria yang diberkahi bakat untuk melompati margin skor yang sangat besar, gw bisa bikin cewe yang skornya jauh lebih tinggi suka sama gw, tapi pada saat yang bersamaan... gw diberkahi bakat yang gak kalah besar untuk merubah cewe yang suka sama gw menjadi ilfil atau muak atau benci. Radikal, kan?
Setaunan yang lalu, waktu skor gw naik setingkat menjadi 3, gw mengulangi keajaiban ini. Ceritanya gw berteman dengan seorang cewe yang skornya 9. Semakin hari kami semakin akrab... semakin akrab... semakin akrab... sampai pada satu titik gw yakin bahwa dia suka sama gw.
Well, gak begitu yakin sih...
Yang gw tau, waktu di pelajaran Psikologi Komunikasi mas Widodo ngejelasin tentang 'bahaya memendam perasaan', gw dan dia langsung saling bilang "Aku sayang kamu."
Yang gw tau, ada malam-malam dimana kita duduk berdua buat curhat masalah masing-masing. Waktu itu, karena dia punya pacar dan karena seorang teman deket lain juga suka sama dia, gw bikin aturan yang menyatakan bahwa dia boleh nyender ke bahu gw, tapi harus dibatasi selama 10 detik doang karena ga enak sama pihak-pihak yang disebut diatas.
Biasanya gw yang jadi timekeeper. Ngitung keras-keras satu sampai sepuluh.
Tapi di satu malam, ketika dia nyender dan seperti biasa gw mulai ngitung "satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan... sembilan..."
...
...
...
Gak ada kata sepuluh yang terucap.
Dramatis ya?
Karena biasanya dia ke platinum sama gw.
Makanya rasanya agak tajam ketika gw ngeliat dia ngelus wajah pacar barunya.
Karena biasanya dia ngelus wajah gw.
Huah.
Kenapa jadi galau beneran ini. -_____-
Kamis, 03 Mei 2012
Denial
Berapa lama seseorang bisa hidup dalam denial?
Jawabannya bervariasi.
Inget ga dulu waktu SMP, kita disuruh bikin percobaan untuk membuktikan bahwa mahluk hidup itu pasti bernafas.
Secara pribadi, gw lebih suka kalau percobaannya dilakukan dengan metode assassin creed: bekep seseorang sampai mati. Tapi tentu saja bukan itu metodenya.
Metode yang dilakukan adalah menaruh belalang di sebuah tabung. Dalam tabung tersebut dimasukan unsur kimia X yang berfungsi untuk menyerap karbon dioksida. Kemudian di ujung tabung tersebut, diteteskan setetes pewarna. Setelah itu, tabung ditutup rapat-rapat agar tidak ada udara yang bisa keluar masuk tabung.
Saat si belalang bernafas, secara otomatis tetesan cairan berwarna turut tersedot bersama oksigen dan bergerak ke arah si Belalang. Ini membukitkan, tutur sang guru biologi, bahwa Belalang tersebut bernafas.
Ribet banget ya? Jauh lebih praktis metode assassin creed. -_-
Anyway, belalang kelompok gw kami kasih nama Jackson. Ketika Jackson dijajarkan dengan tabung belalang milik kelompok lain, kami kemudian dihibur dengan lomba 'balap bernafas' para belalang. Jackson menghabiskan kadar oksigennya dengan cepat dan menjadi Belalang pertama yang berhasil menarik cairan berwarna ke ujung dalam. Diluar Jackson, ada belalang yang bernafas dengan tempo lambat tapi konstan, ada juga belalang yang bernafas dengan tempo sangat cepat lalu kemudian berganti menjadi sangat lambat.
Bervariasi.
Sama kaya belalang, waktu hidup dalam fase denial juga sangat bervariasi.
Gw pernah ketemu orang yang hidup dalam fase denial selama bertahun-tahun. Menyisakan "Are you blind? Are you fucking kidding me?" yang tergantung tak terucap karena diri ini tak sampai hati.
Dan mungkin ini sexis, tapi dari pengamatan gw, wanita lebih jago hidup dalam fase denial dibanding pria. Wanita bisa menciptakan dunia nyaman-nya sendiri yang penuh ilusi dan hidup didalamnya dalam waktu yang sangat lama.
Dan gw rasa bukan cuma gw yang berpendapat kaya gini. Inget kata-kata Jack Sparrow di film Pirates of Caribbean: At Worlds End? "Adalah tugas seorang gentleman untuk membiarkan wanita hidup dalam ilusinya." Ilusi disini, tentu saja, adalah denial.
As for myself, since I'm a rational male species, I don't live 'that' long in denial phase. Hanya dalam hitungan minggu, pikiran gw meluncur deras ke arah realitas. Tinggal landas meninggalkan kenyamanan pelukan fase denial.
Mulai dari...
"Dia masih sayang gua"
"Gua masih penting buat dia"
"Dia masih butuh gua"
Sampai ke...
"Dia pacaran paling cuma ngincer duitnya doang"
"Dia gak bakal lama kok pacarannya"
"Dia masih lebih nyaman sama gua dibanding sama pacarnya"
Sampai akhirnya gw sadar bahwa dia emang bener-bener sayang sama pacarnya, bukan cuma ngincer duitnya, dan gw udah bukan siapa-siapa lagi.
Dan pikiran gw kemudian berakhir di,,,
,,,
...
...
...
"Fuck."
Jawabannya bervariasi.
Inget ga dulu waktu SMP, kita disuruh bikin percobaan untuk membuktikan bahwa mahluk hidup itu pasti bernafas.
Secara pribadi, gw lebih suka kalau percobaannya dilakukan dengan metode assassin creed: bekep seseorang sampai mati. Tapi tentu saja bukan itu metodenya.
Metode yang dilakukan adalah menaruh belalang di sebuah tabung. Dalam tabung tersebut dimasukan unsur kimia X yang berfungsi untuk menyerap karbon dioksida. Kemudian di ujung tabung tersebut, diteteskan setetes pewarna. Setelah itu, tabung ditutup rapat-rapat agar tidak ada udara yang bisa keluar masuk tabung.
Saat si belalang bernafas, secara otomatis tetesan cairan berwarna turut tersedot bersama oksigen dan bergerak ke arah si Belalang. Ini membukitkan, tutur sang guru biologi, bahwa Belalang tersebut bernafas.
Ribet banget ya? Jauh lebih praktis metode assassin creed. -_-
Anyway, belalang kelompok gw kami kasih nama Jackson. Ketika Jackson dijajarkan dengan tabung belalang milik kelompok lain, kami kemudian dihibur dengan lomba 'balap bernafas' para belalang. Jackson menghabiskan kadar oksigennya dengan cepat dan menjadi Belalang pertama yang berhasil menarik cairan berwarna ke ujung dalam. Diluar Jackson, ada belalang yang bernafas dengan tempo lambat tapi konstan, ada juga belalang yang bernafas dengan tempo sangat cepat lalu kemudian berganti menjadi sangat lambat.
Bervariasi.
Sama kaya belalang, waktu hidup dalam fase denial juga sangat bervariasi.
Gw pernah ketemu orang yang hidup dalam fase denial selama bertahun-tahun. Menyisakan "Are you blind? Are you fucking kidding me?" yang tergantung tak terucap karena diri ini tak sampai hati.
Dan mungkin ini sexis, tapi dari pengamatan gw, wanita lebih jago hidup dalam fase denial dibanding pria. Wanita bisa menciptakan dunia nyaman-nya sendiri yang penuh ilusi dan hidup didalamnya dalam waktu yang sangat lama.
Dan gw rasa bukan cuma gw yang berpendapat kaya gini. Inget kata-kata Jack Sparrow di film Pirates of Caribbean: At Worlds End? "Adalah tugas seorang gentleman untuk membiarkan wanita hidup dalam ilusinya." Ilusi disini, tentu saja, adalah denial.
As for myself, since I'm a rational male species, I don't live 'that' long in denial phase. Hanya dalam hitungan minggu, pikiran gw meluncur deras ke arah realitas. Tinggal landas meninggalkan kenyamanan pelukan fase denial.
Mulai dari...
"Dia masih sayang gua"
"Gua masih penting buat dia"
"Dia masih butuh gua"
Sampai ke...
"Dia pacaran paling cuma ngincer duitnya doang"
"Dia gak bakal lama kok pacarannya"
"Dia masih lebih nyaman sama gua dibanding sama pacarnya"
Sampai akhirnya gw sadar bahwa dia emang bener-bener sayang sama pacarnya, bukan cuma ngincer duitnya, dan gw udah bukan siapa-siapa lagi.
Dan pikiran gw kemudian berakhir di,,,
,,,
...
...
...
"Fuck."
Rabu, 02 Mei 2012
Preface 2
Secara psikologis, ada lima tahap yang dilalui seseorang ketika dia kehilangan sesuatu. Lima tahap tersebut adalah denial, anger, bargain, depression, dan acceptance. Dulu, waktu kelas 4 atau 5 SD, gw gak jajan seminggu buat ngumpulin uang dua puluh ribu. Di akhir minggu, tepatnya hari Jumat, uang tersebut hilang. Reaksi gw kemudian adalah:
1. Merogoh saku celana sedalam-dalamnya, bongkar-bongkar tas nyariin uang 20 ribu tersebut mati-matian sambil berbisik lirih "engga ilang kok, ini pasti engga ilang kok". Ini tahap denial.
2. Teriak-teriak, nangis, banting pintu. Ini tahap anger.
3. Ngetrace ulang setiap langkah kaki dari sekolah ke rumah, nyari uang 20 ribu tersebut di setiap sudut. Berdoa sama Allah supaya uang 20 ribu tersebut ketemu. Solat Jumat dan solat Ashar dengan sekhusyuk mungkin. Ini tahap bargain.
4. Sadar bahwa uang tersebut telah hilang selama-lamanya. Ngerasa nyesel karena udah cape-cape gak jajan selama seminggu terakhir. Nangis lagi. Ini tahap depression.
5. Berhenti depresi, move on. Ngumpulin duit lagi. Ini tahap acceptance.
Gak peduli apapun yang lo ilangin, mulai dari sekedar uang 20 ribu seperti contoh diatas sampai kehilangan rumah karena tsunami, lima tahap ini pasti dilewati. Bedanya paling hanya dalam durasi waktu. Ketika kehilangan sesuatu yang kecil, lima tahap ini bisa diselesaikan dalam waktu dua puluh detik. Tapi ketika kehilangan sesuatu yang besar, ah udah ah cape.
Nah, karena kebetulan kita lagi ngomongin Tsunami, gw pengen ngebahas tentang bagaimana satu hari random yang engga ada hubungannya sama kita bisa sangat berpengaruh terhadap takdir dan masa depan kita. Jadi... *efek flashback*
Dulu, tanggal 26 Desember 2004, Tuhan muak sama perundingan antara NKRI dan GAM yang selalu mentok. Akhirnya Dia memutuskan turun tangan untuk membereskan konflik di Aceh dan mengirim Tsunami ke daratan Aceh. Tujuannya tercapai. GAM akhirnya bubar dan perdamaian sekali lagi muncul di tanah Aceh. However, it's a bit overkill. Korban jiwa dan materi yang ditimbulkan, seperti yang kalian tahu, sangat sangat banyak dan udah ah cape.
Di hari yang tragis tersebut, seorang anak turut menjadi korban Tsunami. Keluarganya kemudian memutuskan untuk memindahkan anak tersebut ke Cirebon. Di Cirebon, anak tersebut pacaran sama seorang gadis. Lucunya, kebetulannya, ironisnya, gadis tersebut adalah gadis pertama di komunikasi yang gua taksir dulu.
See? Tsunami itu kejadian tahun 2004, di tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari gua, tapi somehow kejadian tersebut masih bisa mempengaruhi gw.
Beberapa bulan yang lalu, hal yang sama terulang. Well, kali ini lebih gak dramatis karena gak ada tsunami yang terlibat. Tapi pada hari itu, hari yang random -i don't really know the detail- seorang pria random bertemu dengan seorang wanita di sebuah event random yang enggak ada hubungannya sama gw. Akhirnya pertemuan random tersebut berujung pada kejadian yang gw tulis di post sebelumnya.
Secara psikolgis, kejadian tersebut dapat dihitung sebagai 'kehilangan sesuatu'. Bisa ditebak apa tema tulisan besok?
Yak, besok kita bahas tentang Denial.
1. Merogoh saku celana sedalam-dalamnya, bongkar-bongkar tas nyariin uang 20 ribu tersebut mati-matian sambil berbisik lirih "engga ilang kok, ini pasti engga ilang kok". Ini tahap denial.
2. Teriak-teriak, nangis, banting pintu. Ini tahap anger.
3. Ngetrace ulang setiap langkah kaki dari sekolah ke rumah, nyari uang 20 ribu tersebut di setiap sudut. Berdoa sama Allah supaya uang 20 ribu tersebut ketemu. Solat Jumat dan solat Ashar dengan sekhusyuk mungkin. Ini tahap bargain.
4. Sadar bahwa uang tersebut telah hilang selama-lamanya. Ngerasa nyesel karena udah cape-cape gak jajan selama seminggu terakhir. Nangis lagi. Ini tahap depression.
5. Berhenti depresi, move on. Ngumpulin duit lagi. Ini tahap acceptance.
Gak peduli apapun yang lo ilangin, mulai dari sekedar uang 20 ribu seperti contoh diatas sampai kehilangan rumah karena tsunami, lima tahap ini pasti dilewati. Bedanya paling hanya dalam durasi waktu. Ketika kehilangan sesuatu yang kecil, lima tahap ini bisa diselesaikan dalam waktu dua puluh detik. Tapi ketika kehilangan sesuatu yang besar, ah udah ah cape.
Nah, karena kebetulan kita lagi ngomongin Tsunami, gw pengen ngebahas tentang bagaimana satu hari random yang engga ada hubungannya sama kita bisa sangat berpengaruh terhadap takdir dan masa depan kita. Jadi... *efek flashback*
Dulu, tanggal 26 Desember 2004, Tuhan muak sama perundingan antara NKRI dan GAM yang selalu mentok. Akhirnya Dia memutuskan turun tangan untuk membereskan konflik di Aceh dan mengirim Tsunami ke daratan Aceh. Tujuannya tercapai. GAM akhirnya bubar dan perdamaian sekali lagi muncul di tanah Aceh. However, it's a bit overkill. Korban jiwa dan materi yang ditimbulkan, seperti yang kalian tahu, sangat sangat banyak dan udah ah cape.
Di hari yang tragis tersebut, seorang anak turut menjadi korban Tsunami. Keluarganya kemudian memutuskan untuk memindahkan anak tersebut ke Cirebon. Di Cirebon, anak tersebut pacaran sama seorang gadis. Lucunya, kebetulannya, ironisnya, gadis tersebut adalah gadis pertama di komunikasi yang gua taksir dulu.
See? Tsunami itu kejadian tahun 2004, di tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari gua, tapi somehow kejadian tersebut masih bisa mempengaruhi gw.
Beberapa bulan yang lalu, hal yang sama terulang. Well, kali ini lebih gak dramatis karena gak ada tsunami yang terlibat. Tapi pada hari itu, hari yang random -i don't really know the detail- seorang pria random bertemu dengan seorang wanita di sebuah event random yang enggak ada hubungannya sama gw. Akhirnya pertemuan random tersebut berujung pada kejadian yang gw tulis di post sebelumnya.
Secara psikolgis, kejadian tersebut dapat dihitung sebagai 'kehilangan sesuatu'. Bisa ditebak apa tema tulisan besok?
Yak, besok kita bahas tentang Denial.
Langganan:
Postingan (Atom)